KURIKULUM

Oleh : Cacan Soemantri Agis

Kemarin saya memberi pelatihan di Klinik Gigi. Peserta kebanyakan dokter gigi. Tapi mereka nggak mau praktek. Hah…biaya mahal, praktek nggak mau. Alasannya macam-macam. Intinya mereka nggak enjoy. Kasihan banget.

Kejadian tersebut menginspirasi saya menuliskan tentang Kurikulum.

Serangkaian kegiatan yang diberikan sangat padat dan dipaksakan. Meski tidak pas dan tidak berkenan. Program ini harus jalan. Percis loyang cetak untuk membuat kue. Hasil akhir rasa dan bentuk sudah bisa dipastikan.

Itulah kurikulum!

Disadari atau tidak anak kita, akan menjadi diri yang terbelenggu, kaku dan dia bukan dirinya lagi. Dengan kata lain anak dengan serangkaian kurikulum, menjadi jarak dengan dirinya sendiri. Dia terpaksa mengikuti dan berusaha untuk menjadi diri yang diharapkan kurikulum tersebut.

Sebuah program yang dipaksakan hasil akhir bisa ditebak. Tidak berdampak, hanya sebagai syarat. Sehingga tidak berbekas dan berkarakter. Kaku dan tidak berpendirian. Merubah dengan hasil akhirnya yang tidak nyaman. Tidak berdampak karena tidak di respon oleh anak. Kalaupun ada yang berhasil bisa dihitung dengan jari. Itupun dengan suatu catatan bahwa hasil akhir tidak semuanya bisa dipakai atau diimplementasikan ditempat kerja. Bahkan jauh menyimpang antara kurikulum dengan tempat kerja saat ini.

Setiap anak punya potensi dan bakatnya masing-masing. Masalahnya cuma satu. Bakat dan potensi tersebut tidak diketahui oleh diri dan orang tuanya.

Bakat belum diketahui sudah di”cemplungkan” ke kurikulum yang sungguh sangat asing dan belum tentu pas dengan talentanya. Hasil akhir, ya seperti ini! Dampak terburuk, jati diri saja tidak dipahami, akibatnya mudah terbawa arus.

Contoh kongkritnya seperti ini;

Begal di usia dini ..
Konsumsi narkoba menjadi tradisi…
Akhir kelulusan ada pesta bikini…
Punya kuasa dan posisi berkolaborasi melakukan korupsi…
Lulus kuliah masih berputar membawa map cari intansi…
Ketika bekerja bingung dan asing yang akhirnya jauh dari prestasi…

Adakah kurikulum yang salah?

Sejatinya kurikulum hadir untuk melengkapi dan mengoptimalkan anak didik. Sehingga mereka berkembang dan maju berbasis potensi diri.

Mengetahui potensi diri sejak dini adalah solusi pasti saat ini.

Tidak semua harus jadi dokter. Nggak mesti semua orang suka dengan profesi pilot. Ada anak yang tidak suka dengan uniform mengikat dan kaku. Adakalanya orang merasa nyaman dan menikmati mesti hanya berjualan bahan pokok di pasar tradisional. Ada sebagian yang suka dengan profesi sebagai pengacara, sebagai Trainer, atau lebih nyaman kerja dengan menjual produk asuransi. Dsb.

[quote_center]Hasil akhir akan gemilang. Apapun profesinya. Jika diawali tidak dari paksaan melainkan mengembangkan diri dari potensi masing-masing.[/quote_center]

Akhirnya, kutipan Khalil Gibran, bisa menjadi pelengkap artikel ini. “bahwa anakmu bukanlah anak, ia adalah anak-anak zaman.”

Sebagai orang tua, semoga kita bisa mengantarkan dan mengarahkan  kesuksesan mereka. Tapi tidak memaksakan kehendak kita. Karena jalur rezeki dan nafkah mereka sudah ada yang ngatur. Dan itu pasti!


RESPON TERHADAP ARTIKEL PROF SARLITO WIRAWAN

(Ditulis Khusus untuk Keperluan Internal bagi Para Promotor STIFIn)
Oleh : Farid Poniman

Pertama, saya sangat menghormati Prof. Sarlito Wirawan dan pendapatnya.
Hal terpenting berikutnya, kita mesti terbiasa menerima perbedaan dengan lapang dada.

Dimana letak perbedaannya? Hal ini berawal dari perbedaan world-view (sumber paradigma). Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism). Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak. Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan. Sehingga kalau kembali kepada rumus 100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip, sedangkan saya aliran yang 20% Genetik.

Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik. Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture. Saya penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.

Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan:

1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan

2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Kalau menggunakan bahasa gaulnya, “jangan bawa-bawa Tuhan deh dalam pembahasan ilmiah”. Itulah world-view mereka.

Secara sederhananya, saya meyakini adanya sibghah (celupan) Allah dalam diri manusia melalui kesengajaan Allah menjadikan manusia keturunan Adam. Selain itu ada kesengajaan Allah memberikan genetik yang unik pada setiap manusia. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya). Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.

Pandangan saya sebagaimana yang saya ungkapkan dalam banyak kesempatan bahwa yang 20% Genetik itulah yang aktif mencari 80% Lingkungan sehingga 100% Fenotip itu banyak dikontribusi oleh 20% Genetik. Memang betul tidak selalu 80% Lingkungan itu berhasil dicapai sepenuhnya sesuai dengan 20% Genetik, tetapi tesis besarnya adalah –sadar atau tidak sadar—kebebasan berkehendak pada manusia akan mencetuskan keinginan mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya, yaitu yang sesuai dengan 20% Genetik tadi. Setiap manusia mencari lingkungan yang ‘gua banget’ bagi dirinya.

Tentang hal ini, Rhenald Khasali (sesama dosen UI dengan Prof Sarlito namun berbeda pandangan juga dengan Prof Sarlito) menyebutnya sebagai genetika perilaku. “Para ahli genetika mulai masuk ke cabang baru dari genetika biologi, yakni genetika perilaku (behavioral genetics), karena berdasar sejumlah penelitian mutakhir terungkap adanya pengaruh genetika terhadap perilaku perubahan “, Rhenald Khasali (2010).

Sekedar ilurtrasi dalam bentuk lain, saya paparkan empat riset sebagai bukti pengaruh genetik terhadap perilaku dan eksistensi manusia (saya kutip dan edit dari Kompas.com):

1. Seorang psikolog asal Virginia Commonwealth University, Michael McDaniel menyatakan bahwa otak yang besar memang berpengaruh terhadap kecerdasan.Dalam Journal Intelligence yang terbit tahun 2005, Michael menyebutkan bahwa volume otak sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan karena semakin banyak sel-sel otak, sistem dan jaringan informasi yang dimiliki seseorang dalam otaknya pun semakin banyak, yang berarti ia bisa lebih cerdas. Hal itu menurutnya berlaku untuk semua rentang usia dan juga jenis kelamin.

2. Para ilmuwan dari Cambridge University menemukan bahwa para pialang yang bekerja di bursa-bursa saham memiliki jari manis lebih panjang dari pada jari telunjuk. Ini menunjukkan bahwa mereka lebih pintar mencari uang. Dalam 20 bulan para pialang dengan jari manis lebih panjang ini ‘mencetak’ uang sebelas kali daripada yang jari manisnya relatif lebih pendek(Kompas.com,16 Januari 2009).

3. Ukuran pinggul yang besar memengaruhi daya ingat seorang perempuan. Para peneliti menemukan bahwa setiap poin kenaikan BMI, skor tes kemampuan daya ingat mereka juga turun satu poin. Dan, partisipan yang memiliki bentuk tubuh pir (pinggang kecil, tetapi pinggul lebar) memiliki skor yang paling buruk(Kompas.com, 15 Juli 2010).

4. Menurut hasil penelitian, mereka yang bertampang menarik lebih pintar daripada kebanyakan orang. Riset yang dilakukanLondon School of Economics (LSE) di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan, pria dan perempuan menarik memiliki intelligence quotient (IQ) 14 poin di atas rata-rata kebanyakan orang(KOMPAS.com, 17 Januari 2011).

Nah, tentu saja para ilmuwan psikologi tidak akan setuju sepenuhnya dengan empat contoh riset tersebut karena mereka lebih meyakini dengan pola perilaku yang tampak yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Kira-kira mereka akan mengatakan demikian, “Tidak ada kaitannya antara potensi genetik yang tergambar pada besar kepala, panjang jari manis, besar pinggul, dan tampang yang menarik dengan perilaku seseorang”. Sebagaimana Prof Sarlito juga mengatakan tidak ada kaitannya antara sidik jari dengan perilaku seseorang.

Sampai disini, saya berharap anda dapat memahami bahwa perbedaan pandangan harus diterima dengan lapang dada, yang penting kita mengetahui perbedaan world-view nya.

Oleh karena itu untuk menjembatani bahwa potensi genetik yang digali Tes STIFIn itu juga dapat diukur dari perilaku yang tampak maka saya selalu memasukkan 10 variabel personaliti yang bisa diukur secara psikometrik pada setiap hasil Tes STIFIn. Pendek kata, jika anda ingin membuktikan secara ilmiah keberadaan potensi genetik dalam personaliti seseorang, minta salah satu doktor/PhD psikometrik di kota anda untuk mengukur keberadaan 10 variabel pada peserta tes. Jika keberadaan 10 variabel itu ternyata eksis maka hal itu menunjukkan bahwa Tes STIFIn memiliki validitas yang tinggi. Jika hal tersebut dites lagi beberapa kali dan hasilnya tetap sama maka bermakna reliabilitas Tes STIFIn juga tinggi. Tentang kedua hal ini kami sudah melakukan riset internal yang menunjukkan bahwa validitas dan reliabilitas Tes STIFIn sangat tinggi. Namun saya harap anda bersabar menunggu hasil riset independen yang dilakukan dua tim profesor di Malaysia dan Indonesia yang akan diumumkan tidak lama lagi.

Sejarah Finger Print

Sidik jari adalah ciri permanen yang genetik dan tidak berubah sepanjang umur manusia. William Jenings dari Franklin Institute Philadelpia, mengambil sidik jarinya sendiri pada umur 27 tahun (1887) kemudian membandingkan dengan sidik jari setelah umur 77 tahun ternyata tidak terjadi perubahan.

Sidik jari seseorang memiliki hubungan dengan kode genetik dari sel otak dan potensi intelegensi seseorang. Penelitian ini telah dimulai sejak lebih 200 tahun yang lalu, diawali oleh Govard Bidloo (1865), J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), Inez Whipple (1904), Kristine Bonnevie (1923), Harold Cummins (1926), Noel Jaquin (1958), Beryl Hutchinson (1967), dan kemudian oleh Baverly C Jaegers (1974) yang menyimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang.

Pada tahun 1901, Sir Edward Richard Henry mengembangkan Sistem Galton menjadi sistem Galton-Henry. Pada tahun 1914, sistem Galton-Henry mulai dikembangkan di Indonesia. Pada tahun 1960, sistem ini resmi digunakan oleh POLRI (menurut Indonesia Automatic Fingerprint Identification System/INAFIS).

Sekarang teknologi sidik jari sudah berkembang jauh. Salah satunya, teknologi dermatoglyphics yang dapat dipakai untuk membuktikan seberapa besar kapasitas yang dimiliki anak sejak lahir, mengetahui potensi bawaan, serta bakat terpendam anak. Teknologi tersebutmulanya dikembangkan di Harvard University, Cambridge University, dan Massachusetts University.Data statistik perangkat lunak dermatoglyphics itu diolah berdasarkan data sidik jari 3 juta orang di Asia dan Amerika.

Dari rangkaian sejarah riset-riset sidik jari di atas masih kurang ilmiah apa lagi?

Jika genetika perilaku yang mampu ditunjukkan oleh sidik jari dianggap sebagai ilmu semu, sebaiknya hal tersebut perlu direkomendasikan langsung ke POLRI dan institusi intelijen di seluruh negara untuk menukarkannya dengan cara lain. Saya yakin Prof Sarlito tidak akan punya cara lain yang lebih efisien dan efektif dibanding teknologi sidik jari. Padahal sidik jari sudah memiliki sejarah riset yang panjang, yang sungguh menyedihkan kalau dianggap sebagai bentuk penipuan yang lain.

Penutup

Sebenarnya anda sendiri bisa menjadi juri bebas, karena sebelum menjadi promotor anda mengikuti Tes STIFIn. Adakah kesimpulan tentang personaliti anda yang dikeluarkan oleh Tes STIFIn tidak akurat? Kalau lebih dari 90% diantara anda mengatakan akurat, maka janganlah golongkan kami sebagai penipu. Justru ini adalah amal kifayah kami untuk mencerdaskan bangsa kita.

Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Prof Sarlito atas pengabdian dan integritasnya sebagai ilmuwan psikologi.

Kuala Lumpur, 18 April 2011

—–


Fingerprint Test, Keilmiahan dan Tulisan ‘Sidik Jari’ Prof Sarlito

Oleh : Audifax (Bergiat di SMART HRPD, Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB dan Pustaka Kushala)

Berdebat mengenai Fingerprint Test, sudah bukan hal baru lagi. Sudah sejak 2008 lalu, ketika saya dan Ratih Ibrahim memulai menggunakan alat ini untuk biro kami masing-masing, perdebatan sudah muncul. Argumen kontra umumnya mempersoalkan keilmiahan. Sebuah argumen yang sebenarnya umum dan sering digunakan bukan hanya dalam kasus Fingerprint, tapi juga hampir semua kasus yang berkaitan dengan ‘pemikiran baru’ atau ‘metode baru’.

Permasalahannya, kontra argumen yang mengatasnamakan keilmiahan itu sendiri sering dilontarkan secara tidak ilmiah. Salah satunya, yang kebetulan saya diminta menanggapi oleh Ellen Kristi, teman dari Semarang, adalah tulisan dari Profesor Sarlito berjudul ‘Sidik Jari’, yang di-share di Facebook dan dimuat di harian SINDO edisi 15 Mei 2011. Mengapa saya katakan argumen itu tidak ilmiah? Mari kita lihat satu demi satu.

Pertama soal klaim bahwa beliau telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali.

Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Saya sendiri mencoba memverifikasi dengan menggunakan mesin pencari Google, dengan kata kunci: dermatoglyphic, intelligence dan setting hanya mencari file pdf. Ada ribuan thread muncul, dan banyak di antaranya jurnal. Saya berikan beberapa yang terata:

  1. Association between Finger Patterns of Digit II and Intelligence Quotient Level in Adolescents. Mostaf Najafi, MD, (2009), Department of Psychiatry, Shahrekord University of Medical Sciences, Shahrekord, IR Iran.
  2. Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence. M. Cezarik, dkk, 1996;
  3. Application and Development of Palmprint Research, Yunyu Zhou, dkk, (2001), Linknya
  4. Analysis of dermatoglyphic signs for definition psychic functional state of human’s organism, Anatoly Bikh,dkk; Linknya
  5. Determining The Association Between Dermatoglyphics And Schizophrenia By Using Fingerprint Asymmetry Measures; Jen-Feng Wang, dkk; Linknya
  6. Quantifying the Dermatoglyphic Growth Patterns in Children through Adolescence; J.K. Schneider, Ph.D.; Linknya

Begitu banyak yang bisa ditemukan. Itu semua membuat saya makin tidak percaya bahwa Prof Sarlito benar-benar mencari jurnal atau penelitian terkait. Justru aneh kalau ada sebanyak itu jurnal, tapi seorang profesor tidak mampu menemukannya satu pun.

Ini pelajaran penting dalam membuat sebuah argumen ilmiah yang tidak banyak orang psikologi mampu melakukannya. Alasan-alasan semacam: tidak nemu jurnalnya, sudah kuno, sudah mulai ditinggalkan, dan sejenisnya, itu semua bukan sebuah argumen ilmiah.

Membuat sebuah argumen ilmiah, carilah argumen yang diberikan oleh para teoritisi dermatoglyphic (fingerprint). Pelajari tesis-tesisnya, lalu buat antitesisnya. Teori vs teori. Data vs data. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan, khususnya psikologi dalam konteks ini, akan berkembang semakin luas dan bermanfaat.

Bukankah Prof Sarlito sendiri menulis: “…setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini.” Kenapa sebagai seorang profesor anda tidak kutip saja salah satu tesis ilmiah mereka dan berikan antitesis ilmiahnya? Bukankah semestinya di situ keilmiahan seorang profesor ditunjukkan? Bukannya malah melantur kesana kemari mulai soal ibu-ibu yang ongkang-ongkang sampai soal Densus88.

Coba Prof Sarlito membaca model-model perdebatan ilmiah, misalnya perdebatan Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung, perdebatan Paul Ricour dan Algirdas Greimas, dst. Mereka berdebat fokus pada masing-masing tesis, bukan kemana-mana. Premis-premis mereka pun jelas, bukan muncul dari dasar laut seperti tulisan Prof Sarlito ini:

Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.

Di sini jelas bahwa premis utamanya saja Prof Sarlito tidak menguasai, kok berani-beraninya membuat kesimpulan? Apakah mengenali potensi anak sama dengan memastikan arah hidup si anak? Tentu saja ini hal yang berbeda. Ini logika mendasar tapi tidak dipahami Prof Sarlito.

Mengenali potensi anak, hanya berfungsi membantu anak untuk mengembangkan potensinya, sekaligus mengatasi kelemahannya. Dan dalam hal ini, fungsinya sama saja dengan semua bentuk lain dari tes dan diagnosa psikologi, yaitu sifatnya hanya membantu. Di luar apa yang telah dipetakan, kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan jelas masih ada.

Di sinilah perlunya memahami logika dasar bahwa tes Fingerprint, tujuannya adalah memetakan dan sama seperti ilmu pengetahuan lain, sebuah pemetaan atau prediksi saintifik hanya berlaku ketika memenuhi hukum ceteris paribus.

Ketidakpahaman Prof Sarlito mengenai ilmu pengetahuan dan logika, juga nampak pada kutipan berikut:

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.

Saya semakin heran dengan keprofesoran Sarlito ketika membaca kalimat: “Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.” Jadi, kalau suatu ilmu berada di luar komunitas ilmu psikologi lalu disimpulkan sebagai pseudo-science dari psikologi? Wah, betapa arogan ‘komunitas’ macam itu. Dan, dari cara memverifikasi berdasarkan cara semacam itu saja Prof Sarlito sudah tidak ilmiah. Apa Prof Sarlito tidak menyadari bahwa banyak orang di luar komunitas psikologi mampu memelajari secara lebih mendalam soal psikologi ketimbang orang-orang dalam komunitas psikologi?

Sebagai profesor, semestinya Prof Sarlito menyadari bahwa pengujian suatu ilmu bukan berdasarkan suatu komunitas, melainkan dengan menguji bangunan ontologi, epistemologi dan aksiologi/metodologi-nya. Ini satu hal mendasar lagi yang tidak terlihat dari cara Prof Sarlito menuliskan mengenai Fingerprint.

Lalu ketika Prof Sarlito menuliskan:

“Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya.”

Saya sebenarnya penasaran, Prof Sarlito ini tahu apa enggak mengenai ‘verifikasi’. Dugaan saya, beliau tidak mengetahui alasannya. (Saya menantang siapapun juga yang membaca ini untuk menjelaskan alasan mengapa keilmiahan perlu ‘verifikasi’ dan verifikasi macam apa). Darimana saya menduga kalau beliau tidak tahu? Pertama dari tidak adanya alasan jelas mengapa harus ada verifikasi. Kedua, dari tulisan selanjutnya:

Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!). Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.

Prof Sarlito membaca dari literatur astrologi mana yang menyatakan manusia berbintang Leo sifatnya galak? Itu benar ada atau cuma kira-kira Prof Sarlito? Tidak jelas. Di sini kembali terlihat logika yang premisnya muncul dari dasar laut. Itu menunjukkan argumen itu disusun asal ngomong, bukan karena benar-benar tahu apa yang diomongkan.

Dan penilaian Prof Sarlito disini pun seolah dia sterilkan dari verifikasi. Bagaimana memverifikasi bahwa memang belum pernah ada penelitian yang mengkaji hubungan astrologi dan kepribadian? Ini saya buktikan kalau logika Prof Sarlito muncul dari dasar laut. Ternyata ada kok peneliti dari University of Georgia, yang meneliti hubungan antara astrologi dengan personality traits dan menemukan hubungannya:

Hyokjin Kwak; Astrology: Its Influence On Consumers’ Buying Patterns And Consumers’ Evaluations Of Products And Services, linknya

Begitu juga komentar Prof Sarlito mengenai Sidik Jari dalam kutipan di atas, tidak bisa diverifikasi darimana asalnya. Bahkan, terlihat bahwa Prof Sarlito tidak menguasai dengan benar premis yang mendasari, walau dalam tulisannya mengutip pemikiran Sir Francis Galton dan sejumlah pemikir lain yang mengembangkan telaah sidik jari.

Saya sependapat dengan komentar Nuruddin Asyhadie di FB mengenai tulisan Sidik Jari, bahwa dengan apa yang Prof Sarlito lakukan sekarang (keterlibatannya dalam riset psikologi dan psikologi kriminal), dan reputasinya sebagai psikolog, kukira seharusnya Prof Sarlito tahu dengan baik posisi wacana fingerprint atau dermatoglip dengan psikologi sejak penyelidikan Galton, Bapak Psikometri, mengenai ras dan kecerdasan dengan fingerprint, sampai penggunaan korelasi NGF (Nerve Growth Factor) dan EGF (Epidermal Growth Factor) yang ditemukan oleh Rita Levi dan Dr. Stanley Cohen, yang membuat keduanya meraih nobel.

Keprofesoran Sarlito seharusnya ditunjukkan dengan membuat antitesis dari sejarah panjang tersebut. Itu baru kita bisa bicara ilmiah dan tidak ilmiah. Tradisi semacam inilah yang perlu dikembangkan dalam psikologi di Indonesia, sehingga komentar-komentar yang mengatasnamakan keilmiahan, alih-alih ilmiah justru nampak genit dan reaktif. Perlu disadari juga bahwa sebuah tulisan kritis, bukan berarti bisa mensterilkan dirinya dari kekritisan.

Ada sebuah kritikan menarik dari Karl Raimund Popper, tokoh pospositivis, yang mengkritisi Vienna Circle dan cara berpikirnya. Popper mengatakan bahwa, pengetahuan selayaknya bukan mempertahankan (memverifikasi) yang sebelumnya sudah dianggap ilmiah, namun juga memfalsifikasi. Artinya, suatu pengujian justru harus dilakukan untuk melihat kemungkinan apa yang selama ini dipercayai benar ternyata mungkin saja salah, dan sebaliknya, yang dianggap salah justru mungkin menjadi benar.

Popper mengambil perumpamaan, bahwa untuk menggugurkan tesis bahwa semua angsa adalah putih, cukup diperlukan satu angsa hitam. Maka itu, janganlah membuat pernyataan: ‘Tidak ada angsa berwarna hitam’, melainkan ‘Belum ada angsa berwarna hitam’. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan akan selalu terbuka akan hal-hal baru dan bukan semata memertahankan hal-hal lama.

Saya merasa perlu menuliskan ini, selain memenuhi ajakan menanggapi dari Ellen Kristi, juga karena melihat bahwa perdebatan mengenai fingerprint ini, nampaknya sama sekali tidak ilmiah karena banyaknya orang yang mendebat dengan model seperti Prof Sarlito, yaitu tanpa menguasai premisnya dengan baik, dan bicara mengatasnamakan ilmiah tapi tidak ada argumen ilmiahnya. Ini membuat, perdebatan mengenai fingerprint tidak pernah sampai ke ranah ilmiah.

Silahkan anda kuasai dulu apa itu ilmiah, baru kita bicara keilmiahan.

Sumber


Suatu ketika saya di minta oleh seorang kenalan yang juga anggota sebuah komunitas, untuk mengisi materi tentang Mengenal Bakat dengan Konsep STIFIn di salah satu Group WhatsApp nya komunitas mereka, setelah saya cari tahu tentang komunitasnya, ternyata cukup dikenal di Indonesia. Karena mendapat tawaran untuk share tentang STIFIn maka saya menyambut baik, dan siap untuk dijadwalkan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, niat kenalan saya itu untuk menjadikan saya sebagai nara sumber di Group WhatsApp mereka, dibatalkan, karena diantara sesama anggota group komunitas mereka banyak yang pro dan kontra dengan Tes Finger Print  dikarenakan tulisan seorang Prof Sarlito Wirawan.

————

“Mas Fery, ternyata STIFIn masih mengundang Pro Kontra. Jadi belum dulu ya sharing ilmu di Komunitas ……….”

Pro Kontranya gimana tuh, kalau boleh tau,.. jawab saya.

Ya tidak sependapat. Masa pendidikan anak tergantung sidik jari. Gampang bangets. Ada juga yang uplod pendapat psikologi tentang kontra Sidik Jari. Ada yang sependapat juga.

Kalau masalah seperti itu udah sering kita hadapi. Gpp pak., jawab saya..

Karena penasaran, saya tanya..

Kalau boleh tau pak, pendapat psikologi mana yang menjadi pro kontra di komunitas bapak?

Teman saya mengirimkan link tentang Pendapat Prof Sarlito Wirawan yang mengatakan Tes Sidik Jari Penipuan.

Hmm.. saya sudah menebaknya pak…

———————–

Seperti apa isi artikelnya Prof Sarlito Wirawan ? Banyak web yang mengutip Artikel Prof Sarlito Wirawan yang di muat di Koran SINDO 15 Mei 2011. Jadi sangat mudah untuk anda menemukannya dengan kata kunci “Prof Sarlito Wirawan Tes Sidik Jari Penipuan”, tapi beberapa sumber terutama dari media online ternama, saya menemukan linknya error, kemungkinan sudah dihapus artikelnya.

Ada juga saya menemukan respon dari seorang yang mengatakan bahwa Artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut tidak Ilmiah padahal ia membahas tentang keilmiahan dalam artikelnya. Sedikit saya kutip komentarnya:

Pertama soal klaim bahwa beliau (Prof Sarlito Wirawan) telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali. Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Lebih lengkap seperti apa isi Komentarnya bisa dibaca disini.

Akan tetapi apa yang paling penting yang ingn saya sampaikan disini adalah, sebuah respon dari Bapak Farid Poniman atas tulisan Prof Sarlito Wirawan yang hanya beredar di kalangan internal STIFIn saja. Tapi, ternyata saya lihat sudah banyak beredar di Internet juga. Nah, seperti apa tanggapan dan respon Bapak Farid Poniman selaku penemu Konsep STIFIn Finger Print atas artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut bisa anda baca lengkapnya : Respon Terhadap Artikel Prof Sarlito Wirawan dalam format PDF atau bisa juga di baca di sini Jawaban Bapak Farid Poniman.

Semoga tulisan ringan ini  dapat menjadi bahan bagi kita dalam mengambil keputusan.


Interpersonal / Social Quotient

Feeling extrovert, Mesin Kecerdasannya adalah Feeling, drive nya adalah extrovert yang membawa dari luar ke dalam, sehingga Feelingnya punya kemampuan sosial, feelingnya mempertautkan dia ketika dia berhubungan dengan orang lain. Orang Feeling extrovert bukanlah orang yang memiliki kemampuan intrapersonal yang kuat, tetapi dia memiliki interpersonal yang kuat, memiliki hubungan relationship yang kuat, dia berfikir dan merasakan tentang orang lain yang lebih besar, ketimbang dia sekedar melakukan introspeksi kepada dirinya (intrapersonal).

Maka daya penerimaan orang lain menjadi ukuran apakah seorang Feeling extrovert ini telah memaksimalkan kemampuannya atau tidak ? Kalau dia punya sedikit teman, punya sedikit sahabat, ini menunjukkan bahwa rating sosial relationshipnya dia adalah rendah dan itu berarti dia tidak menggunakan Feeling extrovert nya dengan baik. Kenapa ? Karena pada otaknya orang Feeling extrovert itu adalah otak kohesif, otak kohesif bila di kaitkan dengan berhubungan dengan orang lain, jadi dia harus selalu mencari cara bagaimana dia mengkohesifkan (melekatkan) dirinya dengan orang lain, itu adalah Feeling extrovert, sehingga muncul hubungan sosial yang harmonis.

King Maker

Feeling extrovert dia sangat mahir di dalam men-develop hubungan sosial yang manis, yang cantik, yang harmonis, yang kompak, karena kemampuan komunikasinya, dan daya kohesifnya (rekat) tadi membuat setiap orang yang satu dengan orang yang lain seperti punya daya rekat, itu adalah kemampuan dari seorang Feeling extrovert.

Maka kalau orang Feeling introvert tadi adalah layak menjadi sebagai seorang pemimpin yang besar, seorang King, maka seorang Feeling extrovert ini adalah seorang King Maker, dialah yang mencetak raja, karena daya kohesifnya itu dia lebih mementingkan menempah orang, mendidik orang, menggembleng orang, nurturingnya terhadap orang lain, supaya kemudian banyak lahir kader dari tangannya.

Tempat Curhat

Dia akan merasa nyaman jika hidupnya terkoneksi dengan orang lain, dia merasa tereliminasi, dia merasa terasing, dia merasa gagal dalam hidupnya kalau dia tidak terkoneksi dengan orang lain. Orang Feeling extrovert dia haruslah di perlukan oleh orang lain dalam konteks bahwa keberadaannya itu bermanfaat bagi orang lain terutama adalah menyelesaikan persoalan-persoalan orang, persoalan-persoalan kemanusiaan, persoalan-persoalan personal kepada setiap orang.

Mengapa orang Feeling extrovert ini paling enak di ajak curhat-curhatan, akan bisa panjang ceritanya kalau curhat-curhatan sama orang Feeling extrovet. Di samping dia punya kemampuan listening yang kuat, dia juga punya kemampuan berbicara yang kuat, jadi bersambut gayunglah sebagian dari waktunya mendengar, sebagiannya lagi dia waktunya berbicara, nyambung itu curhat-curhatannya jadi bisa berjalan dalam waktu yang lama, ini adalah Feeling extrovert. Ngerumpi paling enak memang bagi orang Feeling extrovert. Ngegosip paling enak bagi orang Feeling extrovert. Dari situlah muncul daya sosial yang kuat.

Senang Mencetak SDM

Feeling extrovert, dia memiliki atensi yang sangat besar dalam menempah orang, mencetak SDM, menjadi seorang King Maker. Feeling extrovert, dia lebih senang ketika secara sosial dia berhasil meskipun secara pribadi dia dianggap kurang berhasil. Dia akan senang kalo kemudian bisa mencetak para juara dan para orang hebat yang tiba-tiba menjadi someone dari no one, meskipun dirinya ketinggalan di bandingkan dengan kader-kadernya. Dia lebih bangga, dia lebih happy dengan itu. Karena otaknya bekerja terkohesi dengan keberhasilan orang lain.

Play Boy

Kalau dalam urusan cinta orang Feeling extrovert ini memang seperti cintanya laki-laki, kalau Feeling introvert seperti cintanya perempuan. Feeling extrovert ini adalah cintanya laki-laki. Apa maksudnya cinta laki-laki? Dia di tolak oleh satu orang maka dia akan cari orang lain. Gak pake masa waktu menunggu terlalu lama untuk mengobati sakit hatinya, itu terjadi pada Feeling introvert. Kalau pada Feeling extrovert dia cenderung easy lover, dia cenderung gampang bercinta dengan orang lain. Modus operandi atau tren yang namanya cinlok (cinta lokasi) lebih mudah terjadi pada orang Feeling extrovert. Dia memcintai lawan mainnya, dia mencintai tetangganya, dia mencintai anak ibu kosnya, bahkan sampai kadang-kadang kalau pembantunya cantik, mencintai pembantunya. inilah kebablasannya orang Feeling extrovert.

Feeling extrovert mudah sekali dia jatuh cinta, dia adalah cerminan dari orang yang playboy cap kodok, mata keranjang, gak ada habis-habisnya karena cintanya yang banyak itu memang di bagi-bagi sebagaimana cintanya laki-laki.

Sukses Bisnis Dengan Penggemblengan Orang

Adakah kemungkinan orang Feeling extrovert ini bisa menekuni sebuah profesi yang sangat serius? termasuk diantaranya seperti menjadi seorang pebisnis? mungkin saja, namun perlu di pertimbangkan bahwa kemajuan orang Feeling extrovert ketika dia menekuni satu profesi itu sangat tergantung pada keseriusan dia untuk menelateni proses penggemblengan orang lain. Semakin dia punya banyak kader, semakin berpeluang dia berhasil. Tentu saja kader-kader itu kalau juga di siapkan, di sesuaikan dengan profesinya atau pun panggilan bisnisnya.

Jadi dia akan berhasil kalau dia menggunakan tangan orang lain, dimana tangan orang lainlah yang punya kompetensi, tangan orang lainlah yang punya profesi. Si orang feeling ini cukup dia mendidik orang itu untuk menjadi seseorang yang punya kompetensi. Tugaskan orang lain, delegasikan pada orang lain, berikan kesempatan orang lain untuk maju, di balik kemajuannya, kompetensinya, dan profesiensinya gunakanlah secara maksimal. Dan orang Feeling extrovert pandai untuk mengkonfensing orang, itu supaya delegasi itu bisa berjalan dengan baik.

Naik Levelnya

Gimana caranya seorang Feeling extrovert ini untuk naik kelas, meningkatkan leverage, tentu saja adalah, output sederhananya adalah lihat di kadernya, lihat tempaannya, lihat di menti nya, lihat di anak buahnya, anak buahnya masih kelas itu-itu saja apa tidak? kalau dia hanya mengkader anak SMP-SMP terus gak naik level dia. Maka dia harus naik level ke level yang lebih tinggi. Jadi bukan hanya semata-mata jumlah orangnya yang lebih banyak, tetapi dia kepada kualifikasi yang lebih baik. Kalau dia mengkader seorang atlet yang atletnya level nasional, maka disitulah kelas dia. Kalau dia mengkader orang yang levelnya dunia, maka naiklah level dia. Jadi Feeling extrovert kemampuannya sangat di ukur pada seberapa hebat orang yang di kadernya? seberapa banyak dia bisa menjadikan seorang King ? Kingnya di level yang seperti apa ? itu adalah Feeling extrovert.

Moodyan

Orang Feeling extrovert termasuk juga orang Feeling introvert memang sesungguhnya dia, setiap punya energi di bawa pada hatinya, di bawa kepada emosinya, maka memang seringkali ada unsur mood dan tidak mood pada orang feeling. Yang extrovert moodnya dari mana? emosinya dari mana? feelingnya dari mana? dari situasi luar. Kalau situasi luar bertepuk tangan memanggil dia karena dia menjadi sangat di perlukan, maka dia datanglah dengan gagah berani sebagai seorang pahlawan yang dirindukan oleh orang sekitarnya dan disitu dia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Dimana berperannya? pasti akan selalu berfokus di bagian SDM untuk meningkatkan kemampuan orang lain menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Demikian juga kalau dia menangani persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, maka dia akan selalu mengatakan sesuatu yang oleh orang lain bahkan difikir tidak mungkin, yaitu membawa pada leverage yang lebih tinggi.

——————


Inilah Penyebab Hilangnya Rasa Minder Saya

Oleh: Jonru

Anda mungkin tak percaya: Sebenarnya saya aslinya minderan, terutama saat berhadapan dengan orang yang menurut saya levelnya jauh di atas saya. Namun ketika bertemu pak Farid Poniman, sang penemu ‪‎STIFIn‬, pada Workshop STIFIn Level 1 di Jakarta tanggal 19 April 2015, rasa minder sama sekali tidak ada. Justru saya sangat percaya diri ketika menyapa dan mengajak beliau ngobrol.

Padahal dalam pandangan saya, pak Farid termasuk orang yang levelnya jauh di atas. Beliau seorang penemu, trainer kelas atas, dan hidupnya relatif sudah sukses. Biasanya, saya mana berani mengajak ngobrol orang seperti beliau. Bisa menyapa dengan singkat saja, rasanya sudah sangat luar biasa.

Apa yang membuat saya bisa bersikap penuh percaya diri di depan Pak Farid? Alhamdulillah, semua ini karena saya sudah kenal STIFIn.

Mohon maaf, JANGAN SALAH PERSEPSI. Keliru jika Anda mengartikan STIFIn sebagai obat atau terapi untuk mengatasi rasa minder. Hehehe… itu salah, Sayang.

STIFIn adalah sebuah metode untuk mengenal ‪Mesin Kecerdasan‬ seseorang melalui tes sidik jari (finger print). Setelah tes, kita jadi mengenal diri sendiri dengan sejelas-jelasnya, dan tahu jalan terbaik mana bagi kita untuk meraih masa depan yang GUE BANGET.

Jadi sekali lagi, STIFIn bukan terapi percaya diri atau semacam itu. Namun jika rasa percaya diri kita meningkat setelah kenal STIFIn, anggap saja itu sebagai salah satu manfaat bonusnya. Itulah yang saya alami!

Semuanya berawal dari Youtube, ketika saya menonton sejumlah video, di mana pak Farid Poniman tampil di depan kamera, memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis mesin kecerdasan.

Saat itu, saya sama sekali BELUM mengenal Pak Farid Poniman, dan kami belum pernah ketemu. Jadi saya belum tahu beliau orangnya seperti apa.

Namun ada ucapan pada salah satu video yang membuat saya sangat yakin mengenai Mesin Kecerdasan beliau. Ucapan tersebut adalah, “Orang Feeling Introvert bisa jadi King, sedangkan orang Feeling Extrovert adalah King Maker.”

Dari ucapan ini, saya pun menarik kesimpulan:

“Pak Farid termasuk tokoh yang hampir tidak dikenal oleh masyarakat. Padahal dia termasuk tokoh penting, penemu konsep STIFIn yang sangat keren dan luar biasa (bahkan belakangan saya tahu, akun Facebook dan Twitter pun dia tak punya). Pak Farid seperti invisible man, bekerja di balik layar, namun banyak tokoh hebat di kalangan STIFIn yang lahir dari hasil didikan beliau. Pak Farid adalah seorang King Maker. Berarti dia Feeling Extrovert.”

Dugaan ini makin kuat setelah saya menyimak penuturan beliau pada video penjelasan Feeling Extrovert. Cara berkomunikasinya sangat baik, enak didengar dan mudah dipahami. Biasanya, orang Feeling memang memiliki communication skill yang sangat bagus (bukan karena hasil latihan, tapi terjadi secara alamiah saja).

Untuk meyakinkan diri, saya bertanya pada seorang teman yang sudah lama aktif di STIFIn. Ternyata si teman ini menjawab, “Benar. Pak Farid memang Feeling Extrovert.”

Saya bersyukur, merasa puas, karena tebakan saya sangat tepat!

Kebetulan, saya sudah mengenal sejumlah orang yang Mesin Kecerdasan Feeling. Mereka semuanya memiliki keramahan alamiah (tidak dibuat-buat), pintar menyenangkan orang. Jika bicara dengan mereka, kita akan merasa dianggap sebagai orang penting dan sangat terhormat. Orang Feeling umumnya pintar menyanjung lawan bicaranya.

Karena sudah tahu karakter orang Feeling, maka saya jadi yakin sekali Pak Farid pun orangnya seperti itu. Jika suatu saat kami ketemu, saya yakin dia akan menyapa saya dengan sangat ramah, berbicara dengan gaya yang membuat saya senang dan merasa tersanjung.

Keyakinan seperti itulah yang membuat saya sangat percaya diri saat kami bertemu untuk pertama kalinya di Jakarta, tanggal 19 April 2015.

Sesuai dugaan saya, memang benar beliau sangat ramah dan bersikap penuh hormat pada lawan bicaranya. Saat saya meminta masukan terhadap beberapa masalah yang saya hadapi, beliau memberikan penjelasan dengan gaya yang sangat menyenangkan.

Saya pun membayangkan:
Andai mengenal dan bertemu Pak Farid Poniman pada saat saya belum kenal STIFIn, hampir dapat dipastikan saya akan sangat minder, tak berani mengajak bicara, dan bersikap kaku plus mati gaya di depan dirinya.

Alhamdulillah…
STIFIn merupakan sebuah konsep atau ilmu yang bukan hanya membuat kita mengenal diri sendiri dengan sejelas-jelasnya, namun juga sangat mempermudah kita dalam mengenali dan memahami orang lain.

———————————

Sumber Asli dari Fans Page Jonru