Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan Menggunakan Formula 15

Gunakan ‘Formula 15’

Oleh: Farid Poniman (Penemu Konsep STIFIn)

Menghafal Al Quran Gaya SENSING

  • 5x baca rekam (perbendaharaan kata),
  • 5x hafal sambil menandai (warna dan letak),
  • 5x pengendapan tanpa lihat (letak sudah tercetak)

Baca sebanyak 5x sekaligus di rekam dalam memori. Bacanya sambil ngelihat tulisan. Ini bertujuan untuk menambah perbendaharaan kata. Setelah baca 5x dengan melihat tulisannya, lanjutin baca 5x dengan gaya belajarnya Sensing, yaitu dengan menunjuk tulisan sambil membacanya, menandai letaknya, atau memberi warna tulisannya. Terakhir baca 5x dengan menutup tulisan/Al Qur’an. Tujuannya agar perbendaharaan kata yang sudah masuk ke dalam memori semakin mengendap dalam ingatan orang Sensing. Letak huruf atau bacaan pastu sudah tercetak dalam memorinya.

Menghafal Al Quran  Gaya THINKING

  • 5x baca rekam (nomor, awal, dan akhir ayat),
  • 5x strukturkan dan sambungkan,
  • 5x pengendapan tanpa lihat (kerangka sambungan sudah jadi)

Baca 5x dengan melihat tulisan. Rekam nomor ayat, awal dan akhir ayat. Lalu, baca 5x sambil menemukan struktur bacaan, pola kata, kalimat, lalu sambungkan. Setelah itu baca lagi 5x dengan menutup Al Qur’an, dibagian ini kerangka sambungan udah jadi.

Menghafal Al Quran Gaya INTUITING

sebelum baca, diterjemahkan, dipolakan;

  • 5x baca rekam (sebagai kalimat),
  • 5x hafal dikaitkan cerita serta visual tangan atau muka,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil mengekspresikan pesan.

Sebelum baca ayat Al Qur’an, baca terlebih dahulu terjemahannya, kemudian polakan. Baca 5x, rekam sebagai kalimat. Kemudian, baca ayatnya 5x (dihafal), lalu dikaitkan dengan cerita yang disertai visual tangan atau muka. Terakhir, baca 5x dengan menutup Al Qur’an sambil mengekspresikan pesan.

Menghafal Al Quran Gaya FEELING

  • 5x baca rekam (hidupkan tokoh),
  • 5x murajaah (cari pantulan),
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil penghayatan tokoh.

Baca 5x, baca, rekam, dan hidupkan tokoh. Lalu, baca 5x. Terakhir, baca 5x untuk pengendapan tanpa melihat Al Qur’an tapi sambil penghayatan tokoh.

Menghafal Al Quran Gaya INSTING

  • 5x baca pake murattal (rekam keindahan nada),
  • 5x rekam kaitkandengan cengkok nada,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sesuai murattal.

Baca 5x sambil dengarkan murattalnya , rekam keindahan nadanya. Lalu, baca 5x sambil mengaitkannya dengan cengkok nada. Baca 5x dihafal dengan menutup AL Qur’an dan sesuaikan dengan murattal.


Video iklan yang berasal dari Thailand ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua yang memiliki anak dengan Mesin Kecerdasan Sensing atau anda yang memiliki Mesin Kecerdasan Sensing. Anak Sensing memiliki potensi menjadi Pedagang. Karena Sensing memiliki 3 potensi kehebatan, yakni : Memori, Panca Indra dan Fisik yang tiada mudah letih dan kuat.

Dengan panca indranya ia menjadi anak yang hebat dalam mencontoh, tukang tiru. Ketika sang anak dalam video ini tidak tahu cara memotong nenas, sang ibu tampil dengan memberi contoh. Sensing dengan panca indra matanya melihat contoh dari ibunya langsung kerekam ke memorynya dan dia praktekkan langsung dalam memotong nenas.

Dengan panca indranya dia melihat penjual es krim, sang ibu melihat dan membuatkannya es krim dari nenas. Karena pernah melihat penjual es, si anak Sensing lalu kepikiran untuk menjualnya, meniru menjadi pedagang es. Dijuallah sama anaknya kepasar, tapi ternyata tidak menghasilkan pembeli. Es nya tidak laku. Ia mengadu pada ibunya, nah si ibu menyarankan agar si anak melihat bagaimana cara pedagang di pasar dalam berjualan.

Sensing dengan kehebatan panca indra dan memorinya mampu merekam setiap kejadian yang ia lihat dan ia dengar, dengan fisiknya ia tanpa letih mampu berkeliling pasar mengumpulkan informasi, bagaimana caranya berjualan. Dengan hal inilah ia mendapatkan cara berjualan yang benar.


Oleh: @Jonru – Jonru Ginting, Penulis Buku “Saya Tobat”

Jika anak Anda jadi juara kelas, pasti sangat bangga, bukan? Tapi bagaimana jika tidak juara? Bahkan 10 besar pun tak masuk. Gimana, dong?

Banyak orang tua yang terlalu “mendewa-dewakan” rangking sekolah anaknya. Mereka pun mendorong (bahkan sering memaksa) agar anaknya dapat rangking di sekolah.

Jika tidak dapat rangking, si anak disalahkan, hobinya disalahkan, pergaulannya disalahkan, sekolahnya disalahkan. Bahkan anak disebut bodoh, tak punya masa depan karena tak bisa jadi juara.

Duhai Teman!
Dulu sejak SD hingga tamat SMA, saya juga langganan juara satu. Bahkan nilai saya pernah tertinggi sekotamadya Binjai.

Namun saat ini, saya merasakan bahwa rangking atau juara tersebut TIDAK terlalu berpengaruh terhadap kehidupan saya selama ini. Memang sih ada pengaruhnya sedikit (misalnya saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri karena nilai saya lumayan bagus). Tapi ya hanya sesedikit itu.

FAKTA juga membuktikan bahwa TAK ADA JAMINAN bahwa anak yang dapat rangking punya masa depan yang lebih baik. Banyak teman sekolah saya dulu, yang rangkingnya jauh di bawah saya, tapi hidup mereka sekarang jauh lebih sukses.

Jadi, Anda masih “mendewa-dewakan” rangking?

Saya buka ahli parenting, tapi alhamdulillah saya sudah belajar banyak tentang pendidikan anak, bahwa yang paling penting bagi seorang anak BUKAN menjadi juara kelas.

Yang paling penting adalah:
Kita mendidik mereka sesuai karakter khas dan potensi terbesar mereka, bekali dengan iman dan taqwa sehingga mereka nantinya menjadi anak yang SUKSES, MULIA, dan GUE BANGET.

Apa artinya?

Begini:

1. SUKSES itu urusan dunia. Misalnya menjadi kaya, punya jabatan, jadi tokoh populer, dan sebagainya.

2. MULIA adalah urusan dunia dan akhirat. Si anak menjadi anak yang berguna bagi umat, beriman dan bertakwa, berakhlak baik, dan di akhirat nanti dia masuk surga, bersama kita tentu saja. Aamiin… Itulah harapan semua orang tua, bukan?

3. GUE BANGET. Anak kita bukan hanya berprofesi di bidang yang gajinya besar, yang hidupnya mewah, dan seterusnya. Untuk apa itu semua jika kita TIDAK BAHAGIA. Untuk apa itu semua jika kita tidak suka pada pekerjaan yang dilakoni?

Alangkah indahnya jika semua orang – termasuk kita dan anak-anak kita – bisa berprofesi di bidang yang PALING GUE BANGET.

Dibayar untuk bersenang-senang. Pasti ini adalah impian semua orang!

* * *

Jadi daripada sibuk ngurusin rangking sekolah, seharusnya kita lebih fokus mendidik anak sesuai dengan karakter dan potensi terbesar mereka. Didik mereka agar menjadi insan yang SUKSES MULIA dan hidup GUE BANGET.

Untuk mewujudkan impian seperti itu, kita bisa memulainya dengan mengenali minat, bakat dan potensi terbesar seorang anak. Maka saran saya, lakukanlah TES SIDIK JARI di ‪#‎STIFIn‬

Sumber Fanspage Jonru


SALAH ASUH DALAM BELAJAR

Setiap kita sebenarnya mudah untuk belajar, masalahnya cara belajar yang dipake itu masih secara umum, tidak khusus kepada setiap anak yang notabene berbeda. Akibatnya, anak ada yang berprestasi karena cara belajar itu tepat untuk dia, nah yang tidak tepat untuk anak tertentu, jadinya tak berprestasi, lalu yang disalahkan anak. Apa iya seperti itu.?

Setiap anak unik, sebagaimana setiap orang tua, sebagai suami atau istri unik juga. Karena coba aja samakan pasangan anda dengan istri atau suami tetangga, kalau gak mau tidurnya di sofa.

Dari milyaran anak manusia, cuma 5 masalah yang akan ditemukan jika di framming dengan Konsep STIFIn.

INSTING

Anak Insting biarkan belajar sambil nonton TV atau dengar musik. Anak Insting kebanyakannya belajar sambil melakukan aktifitas lainnya, kemampuan otaknya yang serba bisa, membuat dia merasa nyaman dan enjoy saat belajar sambil nonton tv/dengar musik.

Nah, logika kebanyakan orang tua, masa belajar sambil nonton tv/dengar musik. Maka dilaranglah si anak Insting tadi nonton tv, suruh masuk kamar, belajar sendiri, alhasil ketika anak tak mau belajar yang disalahkan anaknya. Padahal…hmm..orang tua yang tak tahu dimana letak kehebatan anak Instingnya dalam belajar.

Pernah, anak Insting minta dibeliin alat musik Drum, setelah dibeliin, eh jadi bagus nilainya..apa coba hubungannya, kalau pake logika pemahaman kita selama ini. Tapi kalau pake STIFIn itu erat hubungannya.

FEELING

Anak Feeling biarkan belajar kelompok, bersama teman temannya atau anda yang menjadi temannya belajar, ya..ngobrol dulu, ngalur ngidul kesana kemari, curhat curhatan, jangan langsung main hajar aja, buka buku untuk belajar. Saat udah enak moodnya, baru buka bukunya dan belajar.

Jangan disuruh belajar sendiri dikamar, tidur dia nanti. Menjauhkan anak feeling dari komunitas teman temannya, sama dengan mematikan kehebatannya.

Kenapa Anak Feeling malas belajar, karena orang tuanya melarang dia belajar kelompok bersama teman temannya. Belajar kelompok dengan diskusi sambil ngobrol adalah cara termudah anak Feeling menyerap ilmu.

Ada pengalaman unik, seorang ibu bercerita, setelah saya jelaskan tentang gaya belajar anak Feeling.

Pantas pak (waduh, kok dipanggil bapak siih, mba, padahal saya masih muda, dalam hati saya, hehe..), sebelum saya masukin ke TK ini, dulunya di TK “itu”, udah 1 bulan tak ada yang hapal dia Juz Amma satu surahpun. Nah saya masukkan lah ke TK “ini”, disini awalnya saya liat apa bisa, karena belajar disini rame rame, gak seperti di TK “itu”, eh ternyata 1 minggu saja belajar disini dia udah banyak yang hapal surah juz amma.

Nah, loh..ada testimoninya langsung.

SENSING

Anak Sensing, biarkan bermain terlebih dahulu sepulang sekolah, berkeringat, baru lah belajar. Anak Sensing inilah yang cocoknya senam dulu sebelum belajar, tapi tidak untuk anak Intuiting, karena waktu SD sehabis senam, pernah saya beralasan sakit, supaya bisa tidur di ruang P3K. Hehe..Anak Sensing, please jangan dipaksa Tidur Siang kalau ia tidak mau, ntar kasihan jadinya OON, pelupa ‘bin’ gendut ‘binti’ pemalas. Kalau dia belajar dirumah badannya gak bisa diam, mulutnya gak bisa diam, ya mbok dibiarin aja. Emang gitu gaya belajarnya. Anak Sensing kudu ngabisin baterenya dengan banyak bergerak, kalo ndak malamnya dia gentayangan kayak cacing kepanasan dikamar, susah gak mau tidur.

Kenapa Anak Sensing jadi malas belajar, bisa jadi karena dia tidak diberikan waktu bermain atau berkeringat. Alasan orang tua, kasihan nanti kecapekan. Padahal mainnya anak Sensing itulah cara paling ampuh merefresh otaknya yang udah penat belajar. Justru anda harus buat anak Sensing berkeringat agar potensinya meningkat.

INTUITING

Kalau mau suruh tidur, suruh aja Anak Intuiting tidur siang dulu (sepulang sekolah) sebelum belajar, itupun jangan lama-lama, cukup 15 menit saja. Setelah itu bangunkan, suruh nonton kartun dulu 10 menit di youtube, baru belajar.

Sebelum belajar anak Intuiting baiknya jangan makan dulu..hehe..ntar kalau udah makan, ngantuk dia, tidurnya bisa panjang. Intuiting kebanyakan makan oon, kurangi makannya, belajarnya jadi OK.

Tapi jangan anak Sensing yang dikurangi makannya, dia butuh banyak makan buat energi gerak tubuhnya. Tapi biasanya anak Sensing malas makan, karena gak enak makanannya. Anak Intuiting cenderung malas berkeringat, sehingga energi dari apa yang dimakannya jadi pemberat Mata.

Kenapa Anak Intuiting malas belajar, bisa jadi karena orang tua tidak memberi ruang bagi si anak untuk mengerjakan dengan caranya sendiri, belajar dengan gayanya sendiri, pernah ada orang tua yang bilang, udah dibeliin meja belajar, belajarnya malah diteras. Haha..meja belajar ampuh untuk anak Thinking bu, saya bilang, anak Intuiting yang meruang, alam terkembang, langit bergantung menjadi tempat belajarnya, apa ibu bisa beliin meja selebar jagat raya.

THINKING

Anak Thinking biarkan belajar sendiri, anda beruntung punya anak Thinking, bisa mandiri, tapi kalau terlalu anda dikte dan ajari yang dia udah tau, berulang ulang, bersiaplah, hilang motivasi belajarnya. Anak Thinking siapkan suasana hening saat belajar, jauhkan dari anak Sensing yang belajarnya gak bisa diam, bisa pecah konsentrasi Anak Thinking.

Gimana bisa tau pak, anak saya ada yang Sensing? Nah, makanya perlu di Tes STIFIn anak kita semua. Eh..BTW Basway…udah dites STIFIn belum semua anak ayah dan bunda. Kalau belum jangan lanjutin bacanya, gak kan ada manfaatnya, percuma, ngabisin waktu ayah bunda aja. Stop sampai disini aja.

Eh..udah stop..kok masih dilanjutin bacanya.

Kenapa Anak Thinking jadi malas belajar, bisa jadi karena orang tua selalu mengulang ulang yang anak Thinking udah tau. Karena Anak Thinking itu Sotoy, jangan sampai kita kelihatan sotoy juga dimatanya.

Jelas ya..anak terlahir fitrah, apa adanya sesuai dengan pemberian dari Allah, tapi orang tuanya yang menjadikan Nasrani, Majusi dan Yahudi karena ketidak tahuan akan Fitrah si anak.

Tapi ayah bunda ndak usah khawatir karena sekarang sudah ada Konsep STIFIn yang bisa membuat ayah bunda menjadi sangat sangat mudah 3x, mudah, simple dan aplikatif, mengenali Fitrah Genetiknya anak.

Akan sangat sangat keliru, jika anda mempelajari sebuah Konsep Psikologi untuk mengenali manusia, tapi tidak sedikitpun dikupas tentang Sang Pencipta Manusia di dalam Konsepnya. Padahal yang jauh lebih tahu si manusia itu adalah Penciptanya.

Nah, Konsep STIFIn meyakini adanya “campur tangan” Allah sebagai Sang Pencipta Manusia dalam Karakternya Manusia. Sementara Konsep yang lain, mereka mengabaikan Sisi Sang Pencipta Manusia. Makanya, manusia zaman sekarang banyak masuk UGD (Unit Galau & Dilema) karena virus Andy Lau, “Antara Dilema Dan Galau”, akibat memahami konsep yang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta.

Konsep yang benar adalah, ketika kita mengenal diri kita, kita mengenal Allah, Tuhan Pencipta Manusia. Nah, STIFIn bisa menjadi solusi.

Dah..ah kalau diterusin bisa kemana mana ntar bahasannya..maklum Intuiting kalau udah berkata kata suka panjang bin lompat lompat binti mengambang, abstrak gak jelas.

Kalau mau tahu lebih banyak, bisa hadiri Workshop STIFIn

Terimakasih, dan maaf karena saya sudah mengambil sedikit waktu anda untuk membaca sampai disini.


“BELAJAR SESUAI DENGAN KEHEBATAN ANAK”

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

Azka, ” Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!”

Me, ” Woooow, I’m so proud of you. You are amazing!!!!”

Azka, ” Yeaaaaaay”

Ibu-ibu entah arisan di belakang, “Mas Ded, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Mas Ded.”

Me, “Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe”

Ibu, “Ah Mas Ded bisa aja. Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas.”

Me, “Hahah, Azka gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang. Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.”

Ibu, “Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah.”

Me, “Gak renang aja, Mbak?”

Senyap……

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?
(Penting? NO!! Sama dengan Renang)

Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.

Atau.. Azka.. Atau Azka…
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
Banyak kelebihan yang kalian punya. Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi, apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.

1. Si anak stress dan membenci hal itu.

2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)

Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.

Saya sampai sekarang masih bingung, mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?

Saya…
Saya 2 kali tidak naik kelas…
Yes, i am. Proudly to say.

Ayah saya ambil raport. Merah semua.
Dia tertawa, “Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain.”

Me, “Iya, Pa.”

“Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?
Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?”

Wow… My target is 6…..
Not 8.. Not 9…
NOT 10!!!!
It’s easy….. Its helping… Its good communication between me and my father….
Its a GOOD Deal…
Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah. Kuliah.
Jadi dosen tamu .. Mengajar di beberapa kampus.

Oh.. Anaknya…
Become one thing they never imagine…
World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Dilarang lagi bermain sulap?

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad… Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena keunikannya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.

U never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.

–Deddy Corbuzier–

Tes STIFIn dapat menjadi cara termudah untuk mengenali Kehebatan anak ayah dan bunda. Jangan sampai kita ngotot memaksakan apa yang anak kita tidak bisa, karena kita merasa itu bisa dilakukan anak kita. Seperti ayah bunda yang juga memiliki kekuatan dan kelemahan, anak juga sama. Ayo kenali Kekuatan anak dengan Tes STIFIn.


Artikel ini sambungan dari Udah Gak Zaman Mengatakan Anak Pintar.

Carol S Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success :

a. Fixed Mindset (FM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth Mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yang bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, (kalau Konsep STIFIn, sesuai dengan Mesin Kecerdasannya) ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.” (Jika sudah tau apa Mesin Kecerdasan anak dengan Tes STIFIn, kita mudah mencari tau cara yang cocok untuk setiap anak)

d. Fixed Mindset : “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” Growth Mindset : “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. Fixed Mindset mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. Growth Mindset mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

[pull_quote_right]Walaupun anda punya bakat alami yang hebat, kalau tanpa proses belajar dan kegigihan berusaha, bakat alami hanya sebagai informasi tanpa ada manfaatnya.- STIFInspirator[/pull_quote_right]

f. Fixed Mindset percaya kalau tes mengukur kemampuan. Growth Mindset percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area pertumbuhan.

Perbedaaanya Pada Guru/Pendidik

g. Guru dengan Fixed Mindset menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan Growth Mindset merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan Fixed Mindset memiliki semua jawaban. Guru dengan Growth Mindset menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan Fixed Mindset menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan Growth Mindset mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

————-

Nah mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi memang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya.

Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil.

Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, :

  • tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.”
  • Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”.

Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal.

Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Tolong jangan bilang anakku “pintar” . Emangnya kenapa? Udah gak zamannya lagi memuji anak dengan mengatakan “pintar”. Loh..Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel berubah fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

[quote_box_center]Tanpa sadar orang tua yang memuji anaknya “pintar”, takut dikatakan orang tua yang “tidak pintar” — STIFInspirator[/quote_box_center]

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu ?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed mindeset vs growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol S Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak :

Satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama : memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle yang berbeda.

Puzzle di ronde kedua : diberikan dua pilihan puzzle; puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan puzzle yang mudah, serupa dengan puzzle di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang lebih mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah ??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tersebut, sehingga nggak perlu atau takut ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Ronde Tes Ketiga

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan : mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan dan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya.

Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha :

  1. Mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya.
  2. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan.
  3. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu?

Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya :

  1. Menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar.
  2. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.
Ronde Tes Terakhir

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa :

Mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka.

Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosio ekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

———————-

Okay. Anda tarik Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Memuji Upaya Lebih Baik Dari Pada Memuji Hasil

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya.

Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menganggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, dan mementingkan hasil akhirnya.

Nah, dimana letak Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.