Analisa Pilkada Jakarta Dengan Konsep STIFIn Politik ini bukan untuk jadi ajang perdebatan dan pertanyaan panjang. Jadi cukuplah sebagai bahan bacaan saja. Awalnya saya berat untuk memposting artikel ini karena masih berupa analisa yang belum terbukti faktanya.

Tapi, ketika melihat fakta yang terjadi saat ini, setelah Ahok terkena kasus Al Maidah 51, membuat saya teringat akan satu kalimat dalam analisanya Pak Farid Poniman tentang Pilkada Jakarta 2017 yaitu : jika suhu politik dinaikkan terutama oleh Ahok sendiri.

Analisa Pak Farid Poniman saya ketahui dari Group Alumni WSLP. Awalnya muncul dari pertanyaan Mis Hiday, beliau bertanya begini : GM (Grand Master) Farid Poniman, mohon pandangannya secara STIFIn Politik terhadap pencalonan Agus Harimukti.

Inilah jawaban Pak Farid Poniman yang di posting di Group Telegram Alumni WSLP pada tanggal 26 September 2016 sebelum peristiwa Ahok menista AL Qur’an di kepulauan seribu.

Analisis saya pribadi menggunakan Skema STIFIn.

Pasangan Ahok dan Djarot.

Pasangan kerja yang mengedepankan prestasi. Ahok memimpin dengan mengawal proses secara dominan. Sehingga kerangka kerjanya terlihat nyata di jangka pendek.

Pasangan Anies dan Sandiaga.

Pasangan flamboyan yang berorientasi pada soliditas organisasi. Anies mengandalkan logika dan sistem dalam mengejar targetnya. Sehingga kerangka kerjanya baru terlihat di jangka menengah.

Pasangan Agus dan Sylvi.

Merupakan pasangan yang akan kuat dalam strategi dan taktik. Agus memiliki kepemimpinan visioner, sebagai seorang tentara yang mirip seperti Prabowo. Kerangka kerjanya kuat di jangka panjang. Membawa masyarakat untuk bervisi ke depan.

Dalam keadaan normal karena lebih sesuai dengan karakter masyarakat Jakarta, akan dimenangkan oleh Pasangan Ahok dan Djarot.

Jika suhu politik dinaikkan terutama oleh Ahok sendiri, maka peluang terbesar akan dimenangkan oleh Pasangan Agus dan Sylvi.

Anies akan menang jika Islam bersatu. Dan Anies tidak memiliki kharisma ketokohan untuk mempersatukan Islam. Kecuali para ulama yang proaktif membangkitkan peralihan suara muslim dari yang kentel ke cair.

Mesin Kecerdasan masing-masing Calon Gubernur menurut analisa Pak Farid Poniman :


Tes sidik jari untuk mengenal kemampuan otak saat ini sudah banyak beredar dengan beragam nama dan metodenya masing-masing, telah menjadi alternatif pilihan baru setelah tes psikologi. Tes psikologi memang masih menjadi salah satu metode yang banyak dipilih orang. Bahkan beberapa dekade terakhir ini para ahli psikologi terus menyempurnakan tes untuk menganalisis kecerdasan dan kepribadian seseorang. Misalnya dengan tes bakat minat, tes kepribadian, grafologi, tes gambar dan sebagainya.

Tes sidik jari dapat juga digunakan untuk mengetes potensi diri seseorang. Metode ini kabarnya dapat mengungkap potensi dan karakter asli seseorang. Seperti untuk mengetahui apakah orang itu bersifat logis, baper (bawa perasaan), bagaimana kemampuan daya tangkapnya, hingga metode belajar yang cocok untuknya.

Analisis sidik jari bukanlah hal baru, karena sebenarnya sudah digunakan dalam dunia kepolisian. Istilah yang digunakan adalah daktiloskopi, yakni ilmu yang mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali identitas seseorang. Caranya dengan mengamati garis yang terdapat pada jari tangan dan telapak kaki.

Sidik jari ‘Segambar’ dengan Otak

Ilmu yang dipakai untuk menganalisis potensi berdasar sidik jari disebut dermatoglyphics. Inilah ilmu yang mempelajari pola guratan kulit atau sidik jari serta hubungannya dengan genetika tubuh manusia.

Dalam beberapa penelitian, para ahli di bidang dermatoglyphics dan kedokteran anatomi tubuh menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis. Ibarat sebuah kode khusus dalam diri manusia yang tidak bisa dihapus atau diubah. Kode ini pun sudah muncul ketika janin berusia 13-24 minggu.

Sebuah temuan oleh Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr. Stanley Cohen menyatakan bahwa faktor pertumbuhan saraf di otak memiliki hubungan yang sangat erat dengan pertumbuhan jaringan kulit. Jaringan kulit yang memiliki guratan yang sangat jelas ada pada sidik jari seseorang.

Konsep STIFIn mempolakan sidik jari manusia menjadi 5 yang merupakan fungsi dari setiap bagian otak yang ada pada manusia. Berbeda dengan Konsep lainnya yang menganut kecerdasan majemuk, STIFIn menganut Kecerdasan Tunggal. Kecerdasan tunggal adalah : kecerdasan yang mendominasi pada seseorang. Dari 5 bagian dan fungsi otak yang ada pada manusia yaitu Sensing (panca indra dan memori), Thinking (logika analisa), Intuiting (kreatif dan inovasi), Feeling (emosi) dan Insting, STIFIn meyakini hanya 1 yang mendominasi, hanya satu yang menjadi “pemimpin” dari 4 lainnya dan itulah yang disebut STIFIn dengan Mesin Kecerdasan. Untuk mengetahui Mesin Kecerdasan seseorang dilakukan dengan Tes Sidik Jari STIFIn (fingerprint test).

(dikutip dari http://nationalgeographic.co.id)


Mengatasi Dendam Mesin Kecerdasan Intuiting dengan Menghayal ala “TIME TUNNEL”

Pada sertifikat hasil Tes STIFIn Intuiting introvert disebutkan : Menghayal ala “time tunnel” seolah olah semua hal bisa terjadi. Time tunnel adalah lorong waktu, sebuah keinginan manusia untuk menciptakan mesin “lorong waktu” yang bisa membuat manusia kembali ke masa lalu, ataupun lompat ke masa yang akan datang yang belum terjadi.

Dari pengertian diatas, jika dikaitkan dengan menghayal ala “time tunnel” maka akan terdapat 2 jenis hayalan berdasarkan waktu kejadiannya :

  1. Menghayal kembali ke masa lalu yang sudah terjadi.

Misalkan, anda seminggu yang lalu berjumpa dengan gadis impian di Mall, gadis yang selama ini anda taksir di kampus. Tapi karena anda grogi, sehingga tidak bernyali untuk sekadar say hallo kepadanya. Lalu anda pun berhayal : seandainya minggu lalu itu, aku pura-pura datang dari belakangnya, dan menyenggolnya sedikit, sehingga ia menjatuhkan barang bawaannya, aku mengambil barangnya yang terjatuh, dan ia pun melakukan hal yang sama, saat itu tatapan mata kami bertemu, aku tatap matanya yang indah, senyumnya yang menawan membuatku terpana, lalu ia mengejutkanku dengan berkata “hai.. kamu feri ya..kita kan pernah satu kampus dulu.” ..* ini bukan kisah nyata yaaa..hehehe..

2. Menghayalkan kejadian yang akan datang, yang belum terjadi.

Untuk menjelaskan hal ini saya memberikan ilustrasi dengan sebuah cuplikan film Sherlock Holmes. Dalam adegan ini, Sherlock Holmes menghayalkan jurus berkelahi apa yang akan dia lakukan untuk melumpuhkan lawannya. Silahkan di tonton cuplikan singkatnya.

Ternyata kelebihan orang yang Mesin Kecerdasan Intuiting, mampu menghayalkan sesuatu seolah-olah itu telah terjadi. Mungkin hal ini yang membuat orang Intuiting cenderung NATO, No Action Talk Only, Konsep Aja tapi Tidak Action (KATA), ya wong udah terjadi (padahal masih dalam hayalan), ngapain Action, begitulah kira-kira. Tapi ternyata ada sisi positif dari kelebihan ini yang bisa kita manfaatkan untuk membalaskan dendam karena sakit hati.

Ketika disakiti orang dengan perkelahian, anda babak belur, tidak sempat membalas, karena keburu guru sekolah mengetahuinya dan mengamankan anda yang sedang berkelahi. Sampai dirumah timbul rasa ingin membalas dendam. Anda hayalkan saja,  dengan teknik berkelahi ala jagoan di film. Ya..mirip dengan Sherlock Holmes di flmnya.

Atau anda di kata-katai dengan ucapan yang Negatif. Tapi anda saat itu diam saja, tak kuasa membalas, maka balaskanlah dalam hayalan anda. Bayangkan anda kembali kemasa kejadian itu, ucapkanlah kata-kata apa yang seharusnya anda ucapkan yang dapat memuaskan anda, dan membuatnya terdiam tak mampu berkata apapun. Dan saat anda menghayalkan itu disertai dengan emosi dan degup jantung yang berdetak kencang.

Setelah hayalan itu selesai, ada akan merasa puas sudah terbalaskan, padahal baru hayalan tapi saya yakin rasa ingin membalas dendam udah mulai hilang, karena seolah olah sudah terjadi (time tunnel). Nah, jadi manfaatkan kelebihan menghayal ini untuk membalas dendam. Sehingga untuk kasus ini, ada baiknya juga kalau Intuiting itu baru sebatas NAHO,..No Action Hayalan Only, asal jangan jadi MAHO (Manusia Homo).

Jika Intuiting punya dendam, karena sakit hati. HAYALKAN saja Cara Membalasnya. Hingga dendam itu pun mereda.

Bagaimana dengan anda yang Intuiting,  Apakah mengalami hal yang sama ?


INI TENTANG HARTA

Sensing berucap : Bahagia itu kalau bisa punya duit yang banyak. Tanpa duit susah mau ngapa ngapain. Mati emang gak bawa duit, tapi sebelum mati kan butuh duit.

Insting berucap : Kebahagiaan bukanlah pada Harta. Bahagia ya Bahagia aja. Tuh banyak orang Kaya gak bahagia hidupnya. Sholatnya jadi lupa, karena sibuk nyari duit. Banyak harta nanti repot ciiiiiinn..menjawab pertanyaan malaikat di kubur.

Feeling berucap : Punya Harta kalau Gak saling mencintai untuk apa. Yang penting itu dalam Hatinya ada kita satu satunya. Gak selingkuh dan minta poligami. Banyak pasangan kaya, tuh artis kurang apa duitnya, cerai juga. Karena telah hilang rasa cinta mereka. Yang penting Hati bukan Harta, ini mirip lagunya.. Kun Anta Tazdada Jamala – Humood AlKhudher.

Thinking berucap : Jabatan tinggi akan mendatangkan penghasilan yang banyak. Duit banyak tidak dipandang dan dihormati orang kalau kita tidak punya pangkat dan jabatan.

Intuiting berucap : Harta bisa habis. Tapi Ilmu bisa menjaga Harta. Cari ilmu dulu, nanti duit akan datang sendiri. Orang berilmu itu lebih tinggi posisinya di mata Allah dari pada orang ber Harta.

Hmm..kebayangkan

Betapa “serunya” rumah tangga, ketika kita memiliki Mesin Kecerdasan yang berbeda dengan pasangan saat berbicara tentang Harta, Tahta, Kata (Ilmu), Cinta dan Bahagia. Hal seperti ini aja, masalah beda pendapat tentang Harta, Tahta, Kata (Ilmu), Cinta, Bahagia, jika masing-masing tidak mampu memposisikan “makanats” (artinya keberadaan, dalam STIFIn disebut Mesin Kecerdasan) pasangannya. Bisa “barabe” (hancur) tuh rumah tangga.

Kalau gitu bagus donk, kalau Mesin Kecerdasan saya sama dengan pasangan ?..nah..klo hal ini lain lagi babnya bro and bri…karena tidak selamanya yang sama itu bagus, coba laki-laki sama laki-laki nikah, bagus tidaaak.. ?

Tips Memilih Jodoh

Tips selingan : Jika ingin menikah, carilah perbedaan, jangan cari yang banyak kesamaan sifatnya. Biasanya, karena merasa banyak kesamaan sifat, disangka pasangan cocok ideal. Padahal kutub magnet yang sama, mereka jadi gak akur, tuh buktinya tolak tolakan. Begitu kutubnya beda, jadi akur dan saling mendekat berpelukan, nempel gak mau lepas. Ternyata kutub magnet lebih smart dari kaum LGBT.

Perbedaan Adalah Sunnatullah Untuk Menjadi Akur

Nah, kalau kutub magnet yang berbeda aja bisa akur, saling mendekat dan berpelukan, masa iya..kita sama pasangan yang berbeda sifat, malah menjadi tolak tolakan. Berarti SunnatullahNya, perbedaan itu menjadikan kita akur. Tapi, faktanya keributan yang ada dirumah tangga,  justru dikarenakan adanya perbedaan  pandangan dan pengalaman hidup, pendapat dan persepsi.

Perbedaan itu terjadi karena beda Mesin Kecerdasannya. Mesin Kecerdasan itu adalah salah satu dari 5 bagian otak manusia yang paling dominan, yang paling aktif bekerja selama 24 jam/hari mengendalikan manusia. Otak Dominan tersebut menghasilkan output dalam bentuk Pandangan Hidup, Persepsi, Pendapat, Ucapan, Sikap dan Prilaku serta Prioritas Hidup yang berbeda satu sama lainnya.

Untuk itulah Konsep STIFIn yang ditemukan oleh guru kami ayah Farid Poniman, hadir sebagai Konsep yang  membuat kita menjadi lebih mudah memahami perbedaan, tidak memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain. Sehingga menjadi dasar untuk lebih mudah menghormati, memahami sikap dan tindakan, serta pilihan dan pandangan hidup pasangan kita ataupun orang lain.

Dulu sebelum kenal STIFIn, saya selalu memaksa teman yang saya kenal, agar berwirausaha kalau dia memilih profesi PNS atau Karyawan, maaf ya teman-teman yang PNS. Tapi, Sejak kenal STIFIn saya sekarang bisa jalan normal lagi, tulang punggung tidak sakit lagi dan pusing dikepala hilang…loh..kok jadi klinik Tong Fang. Setelah mengenal Konsep STIFIn saya jadi sadar, ternyata saya tidak bisa memaksakan semua orang untuk memilih jalan hidup yang sama dengan saya.

Ini ada cerita fiktif :

Intuiting berkata : Ilmu itu lebih penting dari duit. Si Intuiting ini selalu fokus nyari ilmu, baru dapatkan duit dengan ilmunya.

Sensing berkata : Gak ada duit, mana bisa menuntut ilmu, bayar seminar dan pelatihan. Sensing berpendapat cari duit dulu baru Ilmu.

Untungnya si Sensing, gak seperti itu, dulu dia manut aja (karena ditaklukkan sama Intuiting kali ya.), lagi susah susahnya duit, karena si Intuiting mau Tobat Profesi, dari Pemilik Usaha Warnet dan Jasa Service Komputer, ingin putar haluan jadi Trainer. Jadi si Intuiting ini udah tobat profesi duluan, sebelum kenal istilah Tobat Profesi dari STIFIn.

Intuiting ngomong ke Sensing, eh kita ada duit gak ya, mau ikut seminar ini nih. Pas pula Sensing lagi ngefans sama Kek Jamil Azzaini, jadi jebollah proposal untuk pergi ke Jakarta buat Wanna Be Trainer Batch 12, disana dikenalin dengan STIFIn dan berlanjut beberapa kali Workshop STIFIn. Sampe-sampe kita ngutang waktu itu untuk WSL3 yang nilainya 12 juta. Ups….

Tapi, sekarang..dia bilang..
Untung ya..ayah dulu ikut yang gituan..
Bisa ketemu dunia baru yang berbeda, komunitas baru.

Yaa..untung kamu juga dulu manut aja..
Trus dijawab.. Namanya awak patuh sama suami. Ciee cieee..cuit cuiiiit

Coba bayangin, kalau kejadiannya tidak Happy Ending seperti itu, tapi seperti ini :

Apa yah..uang kita terbatas, pengeluaran banyak, pemasukan minim, ini mau pergi seminar WBT, “Wanna Be Bokek” itu namanya, ngabisin duit aja. Emang bisa dapat duit langsung setelah pulang dari seminar, gak kan ?..Gak..gak gak..gak bisa ayah pergi seminar..dari mana duitnya, duit kita gak ada.

Lalu, dijawab enteng sama Intuiting, yang anti kemapanan..”Dari Allah” duitnya.

Sensing langsung jawab, emang bisa duit itu turun gitu aja dari langit kayak Allah nurunin hujan tanpa kerja keras. (ini bahasa emak saya dulu, ternyata setelah saya Tes STIFIn, Sensing hasilnya, hehe..)

Kalau saya terusin bisa panjang nih..daya hayal saya dalam mengarang bisa gak habis..Mau bacanya..sampe habis.. 🙂

Jadi Intinya..

Kenali Mesin Kecerdasan pasangan :

1. Agar kita lebih mudah menerima, memahami dan bersungguh sungguh mewujudkan apa yang menjadi Prioritas Hidupnya, menerima sikap dan cara berpikirnya.

2. Agar kita tidak Ego Sendiri, ingin prioritas hidup kita sendiri yang dipenuhi, sikap kita sendiri yang ditenggang rasai dan ingin dimengertii, tanpa memikirkan kalau pasangan punya prioritas yang berbeda, sikap dan cara pandang yang berbeda yang butuh juga dimengertii.

3. Saya kan Sensing kata istrinya, kamu harus ngerti donk, cari duit yang banyak sono. Ini juga sikap yang gak benar, namanya bersembunyi dibalik STIFIn. Pasangan anda pasti mengerti tanpa perlu anda ngomong begitu, jika dia udah mengenal Konsep STIFIn, jadi buruan di kenalin dengan mengikuti Workshop STIFIn.

4. Saya kan Feeling, hanya bisa memberikan Cinta, jadi jangan harapkan Harta. Ini namanya menjadikan STIFIn sebagai alasan pembenaran dari kelemahan diri karena tidak mau dan mampu berupaya mencari harta.

“Bagi saya yang penting kita Bahagia kata istri Insting, hidup pas pasan tidak masalah, asalkan kita bahagia. Kata suaminya yang Sensing. Yaaa gak gitu juga keless, emang bisa beli beras pake mata uang Bahagia, haji koim itu walaupun udah haji, kalau berasnya di beli tetap pake Rupiah”

“Bagi Saya Feeling, yang pentingkan saya mencintai kamu, sayang kamu, sepenuh hatiku milik kamu, kalau kamu mau Harta yang banyak, yaa..jangan berharap sama saya donk, saya kan feeling hanya bisa memberikan cinta dan kasih sayang. Kalau mau harta, sono tuh nikah sama Datuk Maringgih.

Jadi baiknya..

Okey, saya buat kamu Bahagia selalu dirumah dan dimanapun kita bersama berada..Tapi kamu buat saya bahagia dengan penghasilan yang banyak ya, kata Sensing pada Insting.

Okey, sekarang kamu nuntut ilmu yang banyak, nanti dengan itu hasilkan uang yang banyak ya, kata Sensing pada Intuiting (ini kata istri saya).

Okey, saya berikan kamu Cinta, dengan itu kamu harus semangat ya, pantang menyerah mencari nafkah yang banyak untuk keluarga kita, agar kita bisa beli rumah dan mobil sendiri. Kata Sensing pada Feeling.

Okey, saya berikan kamu kesempatan berkarir sampai jabatan tertinggi, saya bertanggung jawab dirumah, tapi hasilkan duit yang banyak ya, tanpa korupsi, ingat tanpa korupsi. Kata Sensing pada Thinking

Sensing kepada Sensing gimana..
Nah..ini bab nya beda bro…hehe..

Sekian dulu dari
STIFInspirator
——

NB. Mohon di koreksi jika ada yang salah..via Japri.


Sirkulasi STIFIn Mengalahkan

Dalam Konsep STIFIn ada Teori Sirkulasi STIFIn, Mengalahkan/Menaklukkan dan Mendukung, bisa lihat pada Gambar diatas.

Seperti apa aplikasinya pada berbagai Profesi yang dijalani oleh Setiap Mesin Kecerdasan bisa kita pahami dengan penjelasan singkat berikut :

1. Seorang pengusaha Intuiting, yang memiliki Bisnis jika tidak termanajeman dengan baik, akan dikalahkan dengan Pengusaha lainnya, yang memiliki Bisnis dengan manajeman yang OK. Sirkulasi STIFIn  : T mengalahkan I, atau I dikalahkan T

2. Manager yang mengatur Sumber Daya Manusia (SDM) tidak menggunakan Bahasa Hati, akan di kalahkan dengan Manager yang menggunakan Bahasa Hati. Sirkulasi STIFIn : T dikalahkan F

3. Pemimpin yang lambat beraksi mewujudkan visinya, akan dikalahkan oleh Pemimpin yang beraksi Cepat. Sirkulasi STIFIn : F dikalahkan In

4. Orang Rajin yang tidak punya dream (berpikir jangka panjang), akan dikalahkan sama orang rajin yang memiliki Dream. Sirkulasi STIFIn : S dikalahkan I. Berapa banyak kita dengar cerita seorang Artis (Sensing) yang ketika masih jaya sebagai artis, tidak memikirkan persiapan jangka panjang/investasi, hidup dihari tuanya dalam keadaan miskin. Sebab tenaga dan fisiknya tidak lagi mampu dijadikan sebagai “modal” menjemput rezeki.

5. Orang yang cepat action, akan dikalahkan oleh orang yang actionnya terencana dan tuntas.  Sirkulasi STIFIn : In dikalahkan S. Orang Insting kecenderungannya beraksi secara spontan, tanpa ada perencanaan terstruktur, sebagaimana orang Sensing yang memiliki rencana dalam setiap aktifitasnya.


LGBT BUKAN GANGGUAN KEJIWAAN

Tapi mengapa sebagian orang mengatakan LGBT (Lesby Gay Bisexual Transgender) merupakan gangguan kejiwaan

Sebagian lagi mengatakan LGBT adalah normal. Yap..bener. Jika anda berpedoman pada “kitab” DSM, LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan.

APA ITU DSM ?

Kalau BSM saya tau.. Belum Siap Mandi, hehe..kalau gitu DSM, Dah Siap Mandi..Haha.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) adalah “kitab” yang berisi klasifikasi standar gangguan mental pada manusia yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

DSM telah digunakan oleh profesional kesehatan mental di Amerika Serikat, dan selama ini telah dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

DSM digunakan di Amerika Serikat dan dalam derajat yang bervariasi telah digunakan di seluruh dunia, oleh dokter, peneliti, lembaga regulasi obat, psikiatri, perusahaan asuransi, kesehatan, perusahaan farmasi, dan pembuat kebijakan (pemerintah).

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Mari sedikit kita cermati dari sejarah perjalanan DSM itu sendiri. Dimana jumlah ketegori gangguan jiwa pada DSM berubah terus. Waktu pertama kali dipublikasikan oleh ApA tahun 1952 (versi I), hanya ada 106 jenis gangguan jiwa, pada edisi 1968 (DSM II) bertambah menjadi 185, tahun 1974 (DSM III) bertambah lagi: 265, tahun 1994 DSM IV: 365. Sebelum jadi DSM V yang sekarang, DSM IV pernah direvisi menjadi DSM IV/TR pada tahun 2000), yang jumlahnya bertambah terus.

Apa dasar untuk menambah dan juga mengurangi, tidak ada alasan yang jelas. Spekulasi yang berkembang adalah adanya unsur politk dalam penentuan penyakit-penyakit jiwa, misalnya ketika GAY dihapus dari DSM III 1974, banyak pengurus ApA yang gay.

Hal inilah yang membuat DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

Tahukah anda, Lima dari tujuh orang tim APA task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT

APA task force member terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual).

Karena itu, dengan informasi ini, kita berharap para psikolog dan psikiatri Indonesia tidak berkiblat pada DSM, terutama para psikolog dan psikiatri Islam yang landasannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak ada perubahan hingga akhir zaman. Dan juga bukan Buatan Akal Manusia.

Dikutip dari berbagai sumber..

Masihkah anda berkiblat pada DSM ?


Video iklan yang berasal dari Thailand ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua yang memiliki anak dengan Mesin Kecerdasan Sensing atau anda yang memiliki Mesin Kecerdasan Sensing. Anak Sensing memiliki potensi menjadi Pedagang. Karena Sensing memiliki 3 potensi kehebatan, yakni : Memori, Panca Indra dan Fisik yang tiada mudah letih dan kuat.

Dengan panca indranya ia menjadi anak yang hebat dalam mencontoh, tukang tiru. Ketika sang anak dalam video ini tidak tahu cara memotong nenas, sang ibu tampil dengan memberi contoh. Sensing dengan panca indra matanya melihat contoh dari ibunya langsung kerekam ke memorynya dan dia praktekkan langsung dalam memotong nenas.

Dengan panca indranya dia melihat penjual es krim, sang ibu melihat dan membuatkannya es krim dari nenas. Karena pernah melihat penjual es, si anak Sensing lalu kepikiran untuk menjualnya, meniru menjadi pedagang es. Dijuallah sama anaknya kepasar, tapi ternyata tidak menghasilkan pembeli. Es nya tidak laku. Ia mengadu pada ibunya, nah si ibu menyarankan agar si anak melihat bagaimana cara pedagang di pasar dalam berjualan.

Sensing dengan kehebatan panca indra dan memorinya mampu merekam setiap kejadian yang ia lihat dan ia dengar, dengan fisiknya ia tanpa letih mampu berkeliling pasar mengumpulkan informasi, bagaimana caranya berjualan. Dengan hal inilah ia mendapatkan cara berjualan yang benar.


SALAH ASUH DALAM BELAJAR

Setiap kita sebenarnya mudah untuk belajar, masalahnya cara belajar yang dipake itu masih secara umum, tidak khusus kepada setiap anak yang notabene berbeda. Akibatnya, anak ada yang berprestasi karena cara belajar itu tepat untuk dia, nah yang tidak tepat untuk anak tertentu, jadinya tak berprestasi, lalu yang disalahkan anak. Apa iya seperti itu.?

Setiap anak unik, sebagaimana setiap orang tua, sebagai suami atau istri unik juga. Karena coba aja samakan pasangan anda dengan istri atau suami tetangga, kalau gak mau tidurnya di sofa.

Dari milyaran anak manusia, cuma 5 masalah yang akan ditemukan jika di framming dengan Konsep STIFIn.

INSTING

Anak Insting biarkan belajar sambil nonton TV atau dengar musik. Anak Insting kebanyakannya belajar sambil melakukan aktifitas lainnya, kemampuan otaknya yang serba bisa, membuat dia merasa nyaman dan enjoy saat belajar sambil nonton tv/dengar musik.

Nah, logika kebanyakan orang tua, masa belajar sambil nonton tv/dengar musik. Maka dilaranglah si anak Insting tadi nonton tv, suruh masuk kamar, belajar sendiri, alhasil ketika anak tak mau belajar yang disalahkan anaknya. Padahal…hmm..orang tua yang tak tahu dimana letak kehebatan anak Instingnya dalam belajar.

Pernah, anak Insting minta dibeliin alat musik Drum, setelah dibeliin, eh jadi bagus nilainya..apa coba hubungannya, kalau pake logika pemahaman kita selama ini. Tapi kalau pake STIFIn itu erat hubungannya.

FEELING

Anak Feeling biarkan belajar kelompok, bersama teman temannya atau anda yang menjadi temannya belajar, ya..ngobrol dulu, ngalur ngidul kesana kemari, curhat curhatan, jangan langsung main hajar aja, buka buku untuk belajar. Saat udah enak moodnya, baru buka bukunya dan belajar.

Jangan disuruh belajar sendiri dikamar, tidur dia nanti. Menjauhkan anak feeling dari komunitas teman temannya, sama dengan mematikan kehebatannya.

Kenapa Anak Feeling malas belajar, karena orang tuanya melarang dia belajar kelompok bersama teman temannya. Belajar kelompok dengan diskusi sambil ngobrol adalah cara termudah anak Feeling menyerap ilmu.

Ada pengalaman unik, seorang ibu bercerita, setelah saya jelaskan tentang gaya belajar anak Feeling.

Pantas pak (waduh, kok dipanggil bapak siih, mba, padahal saya masih muda, dalam hati saya, hehe..), sebelum saya masukin ke TK ini, dulunya di TK “itu”, udah 1 bulan tak ada yang hapal dia Juz Amma satu surahpun. Nah saya masukkan lah ke TK “ini”, disini awalnya saya liat apa bisa, karena belajar disini rame rame, gak seperti di TK “itu”, eh ternyata 1 minggu saja belajar disini dia udah banyak yang hapal surah juz amma.

Nah, loh..ada testimoninya langsung.

SENSING

Anak Sensing, biarkan bermain terlebih dahulu sepulang sekolah, berkeringat, baru lah belajar. Anak Sensing inilah yang cocoknya senam dulu sebelum belajar, tapi tidak untuk anak Intuiting, karena waktu SD sehabis senam, pernah saya beralasan sakit, supaya bisa tidur di ruang P3K. Hehe..Anak Sensing, please jangan dipaksa Tidur Siang kalau ia tidak mau, ntar kasihan jadinya OON, pelupa ‘bin’ gendut ‘binti’ pemalas. Kalau dia belajar dirumah badannya gak bisa diam, mulutnya gak bisa diam, ya mbok dibiarin aja. Emang gitu gaya belajarnya. Anak Sensing kudu ngabisin baterenya dengan banyak bergerak, kalo ndak malamnya dia gentayangan kayak cacing kepanasan dikamar, susah gak mau tidur.

Kenapa Anak Sensing jadi malas belajar, bisa jadi karena dia tidak diberikan waktu bermain atau berkeringat. Alasan orang tua, kasihan nanti kecapekan. Padahal mainnya anak Sensing itulah cara paling ampuh merefresh otaknya yang udah penat belajar. Justru anda harus buat anak Sensing berkeringat agar potensinya meningkat.

INTUITING

Kalau mau suruh tidur, suruh aja Anak Intuiting tidur siang dulu (sepulang sekolah) sebelum belajar, itupun jangan lama-lama, cukup 15 menit saja. Setelah itu bangunkan, suruh nonton kartun dulu 10 menit di youtube, baru belajar.

Sebelum belajar anak Intuiting baiknya jangan makan dulu..hehe..ntar kalau udah makan, ngantuk dia, tidurnya bisa panjang. Intuiting kebanyakan makan oon, kurangi makannya, belajarnya jadi OK.

Tapi jangan anak Sensing yang dikurangi makannya, dia butuh banyak makan buat energi gerak tubuhnya. Tapi biasanya anak Sensing malas makan, karena gak enak makanannya. Anak Intuiting cenderung malas berkeringat, sehingga energi dari apa yang dimakannya jadi pemberat Mata.

Kenapa Anak Intuiting malas belajar, bisa jadi karena orang tua tidak memberi ruang bagi si anak untuk mengerjakan dengan caranya sendiri, belajar dengan gayanya sendiri, pernah ada orang tua yang bilang, udah dibeliin meja belajar, belajarnya malah diteras. Haha..meja belajar ampuh untuk anak Thinking bu, saya bilang, anak Intuiting yang meruang, alam terkembang, langit bergantung menjadi tempat belajarnya, apa ibu bisa beliin meja selebar jagat raya.

THINKING

Anak Thinking biarkan belajar sendiri, anda beruntung punya anak Thinking, bisa mandiri, tapi kalau terlalu anda dikte dan ajari yang dia udah tau, berulang ulang, bersiaplah, hilang motivasi belajarnya. Anak Thinking siapkan suasana hening saat belajar, jauhkan dari anak Sensing yang belajarnya gak bisa diam, bisa pecah konsentrasi Anak Thinking.

Gimana bisa tau pak, anak saya ada yang Sensing? Nah, makanya perlu di Tes STIFIn anak kita semua. Eh..BTW Basway…udah dites STIFIn belum semua anak ayah dan bunda. Kalau belum jangan lanjutin bacanya, gak kan ada manfaatnya, percuma, ngabisin waktu ayah bunda aja. Stop sampai disini aja.

Eh..udah stop..kok masih dilanjutin bacanya.

Kenapa Anak Thinking jadi malas belajar, bisa jadi karena orang tua selalu mengulang ulang yang anak Thinking udah tau. Karena Anak Thinking itu Sotoy, jangan sampai kita kelihatan sotoy juga dimatanya.

Jelas ya..anak terlahir fitrah, apa adanya sesuai dengan pemberian dari Allah, tapi orang tuanya yang menjadikan Nasrani, Majusi dan Yahudi karena ketidak tahuan akan Fitrah si anak.

Tapi ayah bunda ndak usah khawatir karena sekarang sudah ada Konsep STIFIn yang bisa membuat ayah bunda menjadi sangat sangat mudah 3x, mudah, simple dan aplikatif, mengenali Fitrah Genetiknya anak.

Akan sangat sangat keliru, jika anda mempelajari sebuah Konsep Psikologi untuk mengenali manusia, tapi tidak sedikitpun dikupas tentang Sang Pencipta Manusia di dalam Konsepnya. Padahal yang jauh lebih tahu si manusia itu adalah Penciptanya.

Nah, Konsep STIFIn meyakini adanya “campur tangan” Allah sebagai Sang Pencipta Manusia dalam Karakternya Manusia. Sementara Konsep yang lain, mereka mengabaikan Sisi Sang Pencipta Manusia. Makanya, manusia zaman sekarang banyak masuk UGD (Unit Galau & Dilema) karena virus Andy Lau, “Antara Dilema Dan Galau”, akibat memahami konsep yang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta.

Konsep yang benar adalah, ketika kita mengenal diri kita, kita mengenal Allah, Tuhan Pencipta Manusia. Nah, STIFIn bisa menjadi solusi.

Dah..ah kalau diterusin bisa kemana mana ntar bahasannya..maklum Intuiting kalau udah berkata kata suka panjang bin lompat lompat binti mengambang, abstrak gak jelas.

Kalau mau tahu lebih banyak, bisa hadiri Workshop STIFIn

Terimakasih, dan maaf karena saya sudah mengambil sedikit waktu anda untuk membaca sampai disini.


Suatu ketika saya di minta oleh seorang kenalan yang juga anggota sebuah komunitas, untuk mengisi materi tentang Mengenal Bakat dengan Konsep STIFIn di salah satu Group WhatsApp nya komunitas mereka, setelah saya cari tahu tentang komunitasnya, ternyata cukup dikenal di Indonesia. Karena mendapat tawaran untuk share tentang STIFIn maka saya menyambut baik, dan siap untuk dijadwalkan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, niat kenalan saya itu untuk menjadikan saya sebagai nara sumber di Group WhatsApp mereka, dibatalkan, karena diantara sesama anggota group komunitas mereka banyak yang pro dan kontra dengan Tes Finger Print  dikarenakan tulisan seorang Prof Sarlito Wirawan.

————

“Mas Fery, ternyata STIFIn masih mengundang Pro Kontra. Jadi belum dulu ya sharing ilmu di Komunitas ……….”

Pro Kontranya gimana tuh, kalau boleh tau,.. jawab saya.

Ya tidak sependapat. Masa pendidikan anak tergantung sidik jari. Gampang bangets. Ada juga yang uplod pendapat psikologi tentang kontra Sidik Jari. Ada yang sependapat juga.

Kalau masalah seperti itu udah sering kita hadapi. Gpp pak., jawab saya..

Karena penasaran, saya tanya..

Kalau boleh tau pak, pendapat psikologi mana yang menjadi pro kontra di komunitas bapak?

Teman saya mengirimkan link tentang Pendapat Prof Sarlito Wirawan yang mengatakan Tes Sidik Jari Penipuan.

Hmm.. saya sudah menebaknya pak…

———————–

Seperti apa isi artikelnya Prof Sarlito Wirawan ? Banyak web yang mengutip Artikel Prof Sarlito Wirawan yang di muat di Koran SINDO 15 Mei 2011. Jadi sangat mudah untuk anda menemukannya dengan kata kunci “Prof Sarlito Wirawan Tes Sidik Jari Penipuan”, tapi beberapa sumber terutama dari media online ternama, saya menemukan linknya error, kemungkinan sudah dihapus artikelnya.

Ada juga saya menemukan respon dari seorang yang mengatakan bahwa Artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut tidak Ilmiah padahal ia membahas tentang keilmiahan dalam artikelnya. Sedikit saya kutip komentarnya:

Pertama soal klaim bahwa beliau (Prof Sarlito Wirawan) telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali. Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Lebih lengkap seperti apa isi Komentarnya bisa dibaca disini.

Akan tetapi apa yang paling penting yang ingn saya sampaikan disini adalah, sebuah respon dari Bapak Farid Poniman atas tulisan Prof Sarlito Wirawan yang hanya beredar di kalangan internal STIFIn saja. Tapi, ternyata saya lihat sudah banyak beredar di Internet juga. Nah, seperti apa tanggapan dan respon Bapak Farid Poniman selaku penemu Konsep STIFIn Finger Print atas artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut bisa anda baca lengkapnya : Respon Terhadap Artikel Prof Sarlito Wirawan dalam format PDF atau bisa juga di baca di sini Jawaban Bapak Farid Poniman.

Semoga tulisan ringan ini  dapat menjadi bahan bagi kita dalam mengambil keputusan.


Hidup itu penuh pilihan.
Dan aku memilih untuk mengikuti Kata Hatiku.
Menemukan apa yang terbaik untukku.
Untuk membawaku lebih maju lagi.

Video iklan ini menggambarkan betapa galaunya seorang anak ketika ia memiliki cita-cita ingin menjadi Chef, dilain sisi orang tuanya ingin ia menjadi seorang Pilot (seperti ayahnya). Hal seperti ini banyak terjadi dilingkungan kita, orang tua dokter ingin anaknya menjadi dokter juga., tapi dalam hati terdalamnya, ada dorongan kuat untuk melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya. Posisi anak menjadi sangat dilema. Satu sisi gak patuh sama orang tua, dianggap anak durhaka, mengikuti kata hati, menjadi siksa batin yang bergejolak setiap hari.

Ada 2 hal yang akan terjadi, video tersebut diatas menggambarkan hal yang positif.

1. Anak mengikuti keinginan orang tuanya untuk menjadi pilot. Setelah menjadi pilot, ia serahkan seragam pilot kepada orang tuanya. Lalu ia jalani apa yang menjadi gejolak hatinya menjadi seorang chef. Tentu hal ini akan membuang waktu, waktu untuk menjalani sekolah pilot, yang pada akhirnya tidak tergunakan ilmunya.

2. Tapi banyak yang terjadi dengan ending yang menyedihkan. Anak tak mampu menahan gejolak batinnya, menjalankan profesi sesuai keinginan orang tua, kuliah di jurusan yang sesuai dengan keinginan orang tua, tidak memiliki Passion (hasrat) yang kuat, sehingga sekadar bekerja, dan tentuanya sesuatu yang di kerjakan sekadar tanpa passion yang kuat, menghasilkan hasil yang juga sekadar buat makan dan hidup. Tak cukup buat beli intan dan permata.

Anak anda bukanlah fotocopy-an dari orang tua. Anak juga memiliki hobi, keinginan, cita-cita yang lain yang pada umumnya bisa berbanding terbalik dengan cita-cita atau hobi orang tua itu sendiri. contohnya saja, saya memiliki teman yang orang tuanya merupakan PNS. Tapi, sang anak lebih menyukai berbisnis dan ingin jadi pengusaha, tidak suka dengan rutinitas jam kerja masuk pagi pulang sore. Berbeda banget kan. ?

STIFIn hadir guna memberi solusi untuk masalah seperti ini, STIFIn tidak bersikap berat sebelah. Apakah akan membela orang tua atau mengikuti keinginan anaknya. Jika anda pahami Konsep STIFIn, sesungguhnya jalan menuju sukses menjadi sangat mudah. Konsep STIFIn memberikan jawaban mengapa anak anda memilih kegiatan, hobi, cita-cita tertentu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua.