PAHAMI JENIS TITIPAN

Dititipi amanah itu musti PAHAM jenis amanahnya..

Bahkan saat kita mau titip deliver barang saja, perusahaan penitipan akan tanya “isinya apa pak/bu?”

Kalau mudah pecah maka ditulis “fragile”. Dan akan di treatment dengan lebih hati-hati. Kalau titipannya makanan akan diberi tanda agar tidak tumpah. Kalau titipannya alat elektronik juga diberi tanda agar tak mudah rusak..

Nah kita orangtua dititipi amanah yang begitu besar bernama ANAK. Sudahkan kita pahami JENIS titipan Nya???

1.  Pahami JENIS KELAMINNYA.

Anak laki atau perempuan?? Helloww beda lho treatmentnya. Allah marah kalau ada yang saling menyerupai satu dengan lainnya…

2. Pahami JENIS MESIN KECERDASANNYA.

Mesin ini adanya di OTAK. Kalau tahu jenis mesinnya maka kita tahu CARA BERFIKIRNYA
Beda mesin beda treatmentnya…

3. Pahami JENIS DRIVE MOTIVASINYA.

Apakah di drive dari dalam dirinya atau dari luar dirinya?? Beda lhoo cara menanganinya…

4. Pahami Jenis KAPASITAS OTAKNYA.

Yang kapasitas memorinya besar dengan yang kecil beda lhoo jenis aplikasi yang bisa diinstall

5. Pahami JENIS GOLONGAN DARAHNYA.

Manfaatnya untuk memastikan dia anak kita atau bukan hehehe (pelajari ilmu biologi SMP, Red) Selain itu kita jadi tahu respon awal menerima stimulasinya akan seperti apa. Saat urgent membutuhkan transfusi pun kita tahu harus mencari bantuan jenis apa,..

Naaahhh… Sudah pahamkah kita dengan JENIS TITIPANNYA???

Kalau belum, hati-hati kena konsekuensi dosa karena enggan mencari ilmu.

Semoga menjadi inspirasi untuk mau meraih rejeki berupa ilmu.. Aamiin

*misshiday*
Singspirer
PU PARENTING PROGRAM
STIFIn Institute


JALUR UTAMA REZEKI MU

TERMUDAH, TERBESAR, dan TERCEPAT

by @alif_ABATA

Cukup banyak orang yang mengeluhkan rezekinya kok segini-segini aja. Gak ada perubahan signifikan tambahan rezeki yang didapatkan. Tentu yang saya maksud di sini rezeki dalam bentuk harta. Salah satu sebab kenapa rezeki tidak bertambah besar dengan cepat adalah karena orang yang bersangkutan belum tahu JALUR REZEKI terbaiknya.

Maka saya ingin sampaikan disini pentingnya berada pada JALUR UTAMA REZEKI dari setiap orang. “Allah Menghendaki yang mudah buat kalian, dan Allah tidak menginginkan kesukaran buat kalian” , ini adalah kutipan terjemah dari sebagian ayat Q.S. Al Baqarah (2) : 185. JALUR UTAMA REZEKI yang saya maksud adalah JALUR REZEKI yang TERMUDAH, TERCEPAT, dan TERBESAR.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan agar kita berada pada JALUR UTAMA REZEKI kita masing-masing :

Kenali Mesin Kecerdasan

Yang pertama kenali GENETIKA TERBAIK kita yang bernama MESIN KECERDASAN. Mesin kecerdasan kita dapat diketahui dengan mengenal BELAHAN OTAK DOMINAN kita, yang sekaligus menjadi KEKUATAN UTAMA yang sudah disiapkan Allah sebagai POTENSI TERBAIK untuk kita menjalani kehidupan termasuk bagaimana mencari rezeki yang halal dan thayyib.

Profesi Sesuai Mesin Kecerdasan

Hal yang kedua adalah berusaha mencari profesi yang paling sesuai dengan Mesin Kecerdasan dalam mencari rezeki serta menjalani profesi tersebut dengan gaya yang juga selaras dengan kehebatan Mesin Kecerdasan. Profesi dalam konsep STIFIn bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pilihan peran yang merupakan panggilan jiwa dan sekaligus menjadi sumber penghasilan.

Ketika profesi serta gaya menjalani profesi sesuai dengan Mesin Kecerdasan insyaa Allah akan memberikan kenyamanan yang sangat, sehingga bekerjanya seseorang yang dilakukan dengan nyaman dan menyenangkan, insyaa Allah akan melahirkan prestasi yang mengagumkan.
Prestasi yang besar insyaa Allah tentunya akan diikuti dengan REZEKI yang besar pula.

Miliki Energi Langit

Yang ketiga adalah melakukan percepatan dengan memiliki ENERGI TAMBAHAN yang berasal dari MARKAS ENERGI dan ENERGI LANGIT. Markas energi yang saya maksud adalah energi yang datang dari rumah, jamaah atau komunitas, serta shahabat.

Energi langit adalah energi yang datang mencerahkan ruhiyah berupa amalan wajib dan sunnah yang diajarkan oleh Allah lewat kekasih-NYA Nabi Muhammad Saw.

Tentu semua yang saya sampaikan ini adalah ILMU IKHTIYAR. Kita tak mengerti tentang taqdir yang Allah tetapkan untuk hamba-NYA. Yang jelas kita WAJIB BERUSAHA sebagaimana yang Allah sampaikan dalam Q.S. Ar-Ra’d (13):11 “…Sungguh Allah takkan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri…”.

Wallahu a’lam..


FOKUS SATU HEBAT

Bagaimana membakar kertas dengan kaca pembesar? Tambahkan sinar matahari dan pusatkan sinarnya. Maka, api akan lahir, membakar, dan memesona Anda!

Kita manusia juga seperti itu. Kertas adalah hidup. Matahari adalah potensi. Dan api adalah hasil. Tapi betapa banyak manusia yang hanya memiliki kertas, diberitahu bahwa dirinya “memiliki” matahari, tapi tak sedikit pun api yang muncul. Apa yang salah? Kenapa hal ini terjadi? Dan, bagaimana cara mengatasinya?

Semua dimulai dari kegagalan Anda untuk “fokus,” baik sebagai pribadi, orangtua, atau guru. Hidup Anda bak air yang mengalir. Tak tahu ke mana arah dan muaranya. Tak tahu cara menemukan dan mengasah potensi. Melatih diri, berjam-jam, untuk pekerjaan yang salah. Membenci karier yang tengah dijalani, bertahan belaka karena butuh uang. Memendam passion, karena dianggap tak punya masa depan.

Celakanya, Anda melakukan itu semua bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga anak-anak Anda. Murid-murid Anda. Orang-orang di sekitar Anda. Tanpa disadari, Anda telah “menggelapkan” hidup keluarga, teman, dan mereka yang terlanjur menganggap Anda sebagai rujukan.

Ah, ini tak boleh diteruskan. Harus dihentikan, saat ini juga!

Di tangan Anda, telah tertuang gagasan dan solusi hidup sukses. Karya Kang Masduki ini akan mengulas dan menarik Anda dari kubangan kestagnanan. Memandang hidup “kedua” yang terbentang di masa depan. Menjalaninya dengan semangat dan pengharapan. Sebuah pegangan dalam mendidik anak Anda atau generasi berikutnya.

Dalam Buku Fokus Satu Hebat Anda akan diberitahu tentang:
– Cara menemukan Bakat alami alias Mesin Kecerdasan
– Empat jebakan dalam mencari bakat
– Cara menemukan passion
– Kenapa Anda perlu masuk golongan 3%, bukan 97%
– Mengasah fokus dengan melenyapkan muri, mura, dan muda
– Kekuatan meniru yang dianggap keliru
– Breakdown mimpi yang “mustahil” dengan aksi yang masuk akal
– Lima cara Yang Mahakuasa mengabulkan doa

Dan pengetahuan-pengetahun lainnya. Buku yang kaya dengan insight dari inspirator-inspirator dunia dan Nusantara. Tips-tips yang ringan, tapi layak dan mudah diterapkan. Fakta-fakta menarik yang sarat hikmah dan pelajaran.

Fokus Satu Hebat. Sebagai pribadi, orang tua dan guru yang cerdas. Fokuslah pada keunggulan Anda untuk meraih hidup sukses nan mulia.


Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu?
Bagiku STIFIn adalah :
STIFIn Sebagai Pembuka Jalan Spiritual

Jalan untuk mengenali diri sendiri. Jalan untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenali diri sendiri. Para ulama sering berkata: من عرف نفسه فقد عرف ربه. Walaupun dari sisi ilmu tasawuf, mengenal diri sendiri bisa menyentuh sisi lain lebih dari yang dijabarkan STIFIn. Namun STIFIn telah menjadi pondasi untuk langkah selanjutnya.

STIFIn Memudahkan Kita Mengenali Orang Lain

Sebagai jalan untuk mengenali orang lain. Tanpa perlu menertawakan yang berbeda dengan kita, tanpa perlu menghakimi pilihan peran yang berbeda dengan plihan kita. Alih alih melakukan hal demikian lebih baik saling menerima.

STIFIn Mempolakan Kebaikan Setiap Mesin Kecerdasan

Tentang kebaikan, orang akan berbeda-beda. Kebaikan bagi Sensing adalah adalah harta yang banyak, bagi Thingking adalah Tahta, bagi Intuiting adalah Ilmu, bagi Feeling adalah Cinta, dan bagi Insting adalah Kebahagiaan. Begitulah adanya, jika Intuiting menganggap yang terpenting adalah Konsep, maka Thingking menganggap yang terpenting adalah SOP, maka Sensing menganggap yang penting Kerja. Feeling meneropong Visi, akhirnya Insting selalu Menjaga Keseimbangan.

STIFIn Menciptakan Kenyamanan

Pekerjaan itu tidak harus dengan uang sebagai target ujungnya, lebih dari itu, kenyamanan mengalahkan semuanya. Kenyamanan masing-masing Mesin Kecerdasan tidak akan pernah sama dengan Mesin Kecerdasan lainnya dalam bekerja. Oleh karena itu memaksakan dengan mengukur diri sendiri adalah kefatalan. Setiap orang punya ukuran tersendiri sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.

STIFIn Mencegah Ke Angkuhan Diri

Dimana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Bahkan kelebihan itu suatu waktu bahkan akan menjadi kelemahan di waktu yang lain. Saya bertemu dengan guru sufi baru-baru ini, dari Tareqat tertentu. Di pertemuan itu saya menceritakan soal STIFIn, dia tersenyum lalu berujar, “jadi kalau begitu, apa yang memaksamu untuk terus angkuh dengan apa yang engkau miliki. Engkau ingin pamer harta kepada Insting padahal baginya adalah kebahagiaan yang utama? Engkau ingin pamer tahta kepada Intuiting, padahal dunia baginya dalam pandanganmu terlalu sempit. Ia punya dunia lain yang ia ciptakan sendiri yang luasnya tak terjangkau olehmu, di sana ia bahkan menjadi raja. Bagaimana mungkin Intuiting harus berbangga dengan ilmunya kepada Sensing? Begitu seterusnya….”

STIFIn Mengenali Jalan Syurga Anda

Jalan surga setiap orang memang berbeda beda, sesuai dengan makanatnya, lanjut guru Sufi tersebut. Maka jangan pernah berburuk sangka jika menyaksikan orang yang terburu buru menyelesaikan shalatnya, setelah salam ia langsung bergegas keluar dari masjid. Boleh jadi ia lagi mengurusi keluarganya yang sakit, atau anaknya yang menanti kehadirannya di sisinya. Sebab jalan surga tidak harus melewati dzikir dan doa, tapi menafkahi keluarga juga adalah jalan surga. Yang ahli dzikir jangan lagi berbangga dengan dzikirnya, yang ahli sedekah jangan lagi berbangga dengan sedekahnya, yang ustadz ahli ilmu gak lagi bangga dengan ilmunya.

Para sahabat Rasulullahpun tidak masuk surga dengan jalan yang sama. Bukankah Bilal terdengar terompahnya di surga karena wudhunya, bukankah Uwais al Qarni dijamin oleh Rasulullah di surga sebab berbakti pada ibunya, padahal di saat yang sama kumandang jihad sedang berjalan.

STIFIn Mengelola Perbedaan

Akhirnya, STIFIn adalah seni mengelolah perbedaan. Banyak lagi perbincangan kami… tak bisa disebutkan semuanya di sini. Terima kasih untuk gurunda kami Farid Poniman atas ilmu STIFIn ini. Semoga akan banyak manusia yang tercerahkan.

 Oleh : Bapak Wahyudin.


JANGAN JADIKAN “STIFIn” SEBAGAI PEMBENARAN ATAS KEKURANGAN DIRI

Beberapa tahun terakhir ini saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu pengembangan diri yang disebut STIFIn. Perkenalan pertama kali saya dengan STIFIn ketika mengikuti TFT 1 Pak Jamil Azzaini di Jogja tahun 2009 adalah salah satu lembaran penting dalam kehidupan saya. Kemudian saya merasa “gue banget”, menemukan “missing puzzle” dalam kehidupan, dan merasa lebih mudah untuk menemukan jalur terbaik kehidupan. Yang membuat saya yakin untuk banting setir dari dunia desain bangunan menjadi (bergeser sedikit) ke dunia desain kehidupan. (Beda tipis kan? Hehehe.)

Seiring dengan perjalanan waktu, selain ilmu yang semakin luas saya dapatkan, saya pun berkenalan dengan banyak teman baru, yang sebagian besar diantaranya bahkan telah menjadi seperti saudara dengan hubungan yang sangat dekat. (Tapi sayangnya kok nggak ada yang jadi istri ya? ‪#‎eh‬ ‪#‎kode‬.)

Beberapa hari lalu menjadi hari yang istimewa ketika ketemu dan terlibat “perbincangan seru dengan seorang sahabat lama”. Artinya : sudah kenal lama, sudah seperti sahabat, tapi berbincang ya baru kemarin itu. Seru kan?

Dan siang itu saya merasa dihajar habis-habisan terutama ketika sahabat saya itu cerita betapa “seru”-nya status-status saya di facebook, terutama pada musim pilpres beberapa waktu lalu. Sambil beliau menyampaikan pendapatnya, seolah di depan saya berkelebat berbagai penjelasan Pak Farid Poniman tentang Karakter Mesin Kecerdasan Insting. Semuanya “Gue Banget”! Cuma sayangnya “gue banget” yang versi negatif. Hahahaha. Betapa saya sangat responsif, temperamental, dan di saat yang sama juga on-off nya sangat tinggi. Habis ngamuk-ngamuk tetiba becanda, eh setelah ketawa-ketawa kemudian emosi lagi. Trus habis itu nyesel. Tapi besoknya terulang lagi. Parah dah. Hahaha.

Setelah ketawa-ketawa dengerin cerita beliau, tetiba saya tertohok oleh sebuah fakta : lho, saya udah belajar STIFIn sejak 2009 tapi ternyata masih begitu-begitu aja perilaku saya ya? Masih Insting banget versi on the spot eh versi negatifnya ya? Masih belum bisa move on dari Level Personality. Padahal level Personality adalah level terendah. Sangat jauh dari gambaran terbaik seorang Insting. Aduh.

Maka pada saat itu saya ber istighfar dan kemudian dalam hati berterima kasih kepada sahabat saya ini. Yang mengibaratkan dirinya sebagai seseorang yang berada di “teras rumah STIFIn”. Yang pernah masuk ke dalam rumah STIFIn tapi kemudian merasa lebih nyaman duduk menyendiri di teras dibanding ngobrol berinteraksi di dalam rumah. Tapi juga tidak seperti sebagian yang lain, yang meninggalkan rumah STIFIn dengan penuh kekecewaan atau bahkan kemarahan.

Beliau bercerita bahwa potret seperti saya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak potret-potret para peggiat STIFIn. Siapakah pegiat STIFIn itu? Yaitu mereka yang aktif mengkampanyekan STIFIn. Serunya, beliau menyatakan bahwa potret-potret tersebut menggambarkan hal yang sama. Yaitu masih di Level Personality. Yang menggambarkan setiap Mesin Kecerdasan dengan semua kutub positif dan negatifnya.

Yang gampang banget ngomong :

“ya kan saya Thinking, emang susah lah terima pendapat orang lain.”
Sensing kan gitu. Saya nggak bisa ngerjain kalo ga ada contohnya.”
“Lebay gpp lah. Secara aku Feeling gitu loohh…”
“Emang susah ngikutin aturan kalo Intuiting kayak saya gini.”
“Bawaan Insting kali ya? Jadi emang saya ngga bisa fokus.”

…dan beliau menyampaikan ketidak nyamanannya berinteraksi dengan orang-orang seperti itu (salah satunya : Saya!). Yang belajar banyak tentang STIFIn namun kemudian hanya untuk mendapatkan pembenaran atas kekurangannya. Yang seru membahas kelemahan masing-masing namun hanya sebagai lucu-lucuan, tanpa adanya satu aksi konkret untuk memperbaiki diri.

Deg! Seolah jantung berhenti mendengar cerita beliau. Terutama karena saya saat ini sedang mendapat tugas untuk mengelola STIFIn Institute, yang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarluaskan STIFIn ke seluruh Indonesia. Maka kemudian saya kembali ber istighfar, memohon ampun kepada Allah atas sering hadirnya perasaan merasa sudah hebat. Merasa sudah banyak paham tentang STIFIn. Ternyata tentang diri saya pun saya belum paham. Dan ternyata saya belum praktekkan. Kalo dilihat dari Taksonomi Bloom, ternyata saya baru sebatas ingat atau hafal saja. Masih jauh dari menerapkan, menganalisa, dst. Saya lebih sering merasa hebat dibandingkan menjadi hebat.

Alhamdulilah, Allah masih sayang sama saya. Masih bersedia mengirimkan seseorang untuk menampar saya. (Cuma kenapa namparnya kuenceng banget, ya Allah… hehehe…)

Bismillah, memulai hari dan memulai minggu dengan niat untuk menjadi seorang Insting yang selalu berusaha untuk menaikkan level kepribadian saya. Menjadi seorang Insting yang sederhana, berfokus pada kepentingan yang lebih besar, mementingkan orang lain, cepat tuntas, merangkul potensi-potensi yang ada, mempermudah, memperlancar, tidak membebani, mengalir, pragmatis berdaya guna, dan berperan aktif dalam program kemanusiaan. Semoga Allah mudahkan langkah kaki dan upaya saya serta sahabat-sahabat  saya para pegiat STIFIn untuk menjadi hebat. Aamiinn.

Sumber Catatatn Andhika Harya
Direktur Eksekutif STIFIn Institute

Dari Judul aslinya : Menjadi Hebat atau Merasa Hebat


Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan Menggunakan Formula 15

Gunakan ‘Formula 15’

Oleh: Farid Poniman (Penemu Konsep STIFIn)

Menghafal Al Quran Gaya SENSING

  • 5x baca rekam (perbendaharaan kata),
  • 5x hafal sambil menandai (warna dan letak),
  • 5x pengendapan tanpa lihat (letak sudah tercetak)

Baca sebanyak 5x sekaligus di rekam dalam memori. Bacanya sambil ngelihat tulisan. Ini bertujuan untuk menambah perbendaharaan kata. Setelah baca 5x dengan melihat tulisannya, lanjutin baca 5x dengan gaya belajarnya Sensing, yaitu dengan menunjuk tulisan sambil membacanya, menandai letaknya, atau memberi warna tulisannya. Terakhir baca 5x dengan menutup tulisan/Al Qur’an. Tujuannya agar perbendaharaan kata yang sudah masuk ke dalam memori semakin mengendap dalam ingatan orang Sensing. Letak huruf atau bacaan pastu sudah tercetak dalam memorinya.

Menghafal Al Quran  Gaya THINKING

  • 5x baca rekam (nomor, awal, dan akhir ayat),
  • 5x strukturkan dan sambungkan,
  • 5x pengendapan tanpa lihat (kerangka sambungan sudah jadi)

Baca 5x dengan melihat tulisan. Rekam nomor ayat, awal dan akhir ayat. Lalu, baca 5x sambil menemukan struktur bacaan, pola kata, kalimat, lalu sambungkan. Setelah itu baca lagi 5x dengan menutup Al Qur’an, dibagian ini kerangka sambungan udah jadi.

Menghafal Al Quran Gaya INTUITING

sebelum baca, diterjemahkan, dipolakan;

  • 5x baca rekam (sebagai kalimat),
  • 5x hafal dikaitkan cerita serta visual tangan atau muka,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil mengekspresikan pesan.

Sebelum baca ayat Al Qur’an, baca terlebih dahulu terjemahannya, kemudian polakan. Baca 5x, rekam sebagai kalimat. Kemudian, baca ayatnya 5x (dihafal), lalu dikaitkan dengan cerita yang disertai visual tangan atau muka. Terakhir, baca 5x dengan menutup Al Qur’an sambil mengekspresikan pesan.

Menghafal Al Quran Gaya FEELING

  • 5x baca rekam (hidupkan tokoh),
  • 5x murajaah (cari pantulan),
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil penghayatan tokoh.

Baca 5x, baca, rekam, dan hidupkan tokoh. Lalu, baca 5x. Terakhir, baca 5x untuk pengendapan tanpa melihat Al Qur’an tapi sambil penghayatan tokoh.

Menghafal Al Quran Gaya INSTING

  • 5x baca pake murattal (rekam keindahan nada),
  • 5x rekam kaitkandengan cengkok nada,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sesuai murattal.

Baca 5x sambil dengarkan murattalnya , rekam keindahan nadanya. Lalu, baca 5x sambil mengaitkannya dengan cengkok nada. Baca 5x dihafal dengan menutup AL Qur’an dan sesuaikan dengan murattal.


Oleh: @Jonru – Jonru Ginting, Penulis Buku “Saya Tobat”

Jika anak Anda jadi juara kelas, pasti sangat bangga, bukan? Tapi bagaimana jika tidak juara? Bahkan 10 besar pun tak masuk. Gimana, dong?

Banyak orang tua yang terlalu “mendewa-dewakan” rangking sekolah anaknya. Mereka pun mendorong (bahkan sering memaksa) agar anaknya dapat rangking di sekolah.

Jika tidak dapat rangking, si anak disalahkan, hobinya disalahkan, pergaulannya disalahkan, sekolahnya disalahkan. Bahkan anak disebut bodoh, tak punya masa depan karena tak bisa jadi juara.

Duhai Teman!
Dulu sejak SD hingga tamat SMA, saya juga langganan juara satu. Bahkan nilai saya pernah tertinggi sekotamadya Binjai.

Namun saat ini, saya merasakan bahwa rangking atau juara tersebut TIDAK terlalu berpengaruh terhadap kehidupan saya selama ini. Memang sih ada pengaruhnya sedikit (misalnya saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri karena nilai saya lumayan bagus). Tapi ya hanya sesedikit itu.

FAKTA juga membuktikan bahwa TAK ADA JAMINAN bahwa anak yang dapat rangking punya masa depan yang lebih baik. Banyak teman sekolah saya dulu, yang rangkingnya jauh di bawah saya, tapi hidup mereka sekarang jauh lebih sukses.

Jadi, Anda masih “mendewa-dewakan” rangking?

Saya buka ahli parenting, tapi alhamdulillah saya sudah belajar banyak tentang pendidikan anak, bahwa yang paling penting bagi seorang anak BUKAN menjadi juara kelas.

Yang paling penting adalah:
Kita mendidik mereka sesuai karakter khas dan potensi terbesar mereka, bekali dengan iman dan taqwa sehingga mereka nantinya menjadi anak yang SUKSES, MULIA, dan GUE BANGET.

Apa artinya?

Begini:

1. SUKSES itu urusan dunia. Misalnya menjadi kaya, punya jabatan, jadi tokoh populer, dan sebagainya.

2. MULIA adalah urusan dunia dan akhirat. Si anak menjadi anak yang berguna bagi umat, beriman dan bertakwa, berakhlak baik, dan di akhirat nanti dia masuk surga, bersama kita tentu saja. Aamiin… Itulah harapan semua orang tua, bukan?

3. GUE BANGET. Anak kita bukan hanya berprofesi di bidang yang gajinya besar, yang hidupnya mewah, dan seterusnya. Untuk apa itu semua jika kita TIDAK BAHAGIA. Untuk apa itu semua jika kita tidak suka pada pekerjaan yang dilakoni?

Alangkah indahnya jika semua orang – termasuk kita dan anak-anak kita – bisa berprofesi di bidang yang PALING GUE BANGET.

Dibayar untuk bersenang-senang. Pasti ini adalah impian semua orang!

* * *

Jadi daripada sibuk ngurusin rangking sekolah, seharusnya kita lebih fokus mendidik anak sesuai dengan karakter dan potensi terbesar mereka. Didik mereka agar menjadi insan yang SUKSES MULIA dan hidup GUE BANGET.

Untuk mewujudkan impian seperti itu, kita bisa memulainya dengan mengenali minat, bakat dan potensi terbesar seorang anak. Maka saran saya, lakukanlah TES SIDIK JARI di ‪#‎STIFIn‬

Sumber Fanspage Jonru


“BELAJAR SESUAI DENGAN KEHEBATAN ANAK”

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

Azka, ” Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!”

Me, ” Woooow, I’m so proud of you. You are amazing!!!!”

Azka, ” Yeaaaaaay”

Ibu-ibu entah arisan di belakang, “Mas Ded, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Mas Ded.”

Me, “Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe”

Ibu, “Ah Mas Ded bisa aja. Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas.”

Me, “Hahah, Azka gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang. Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.”

Ibu, “Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah.”

Me, “Gak renang aja, Mbak?”

Senyap……

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?
(Penting? NO!! Sama dengan Renang)

Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.

Atau.. Azka.. Atau Azka…
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
Banyak kelebihan yang kalian punya. Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi, apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.

1. Si anak stress dan membenci hal itu.

2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)

Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.

Saya sampai sekarang masih bingung, mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?

Saya…
Saya 2 kali tidak naik kelas…
Yes, i am. Proudly to say.

Ayah saya ambil raport. Merah semua.
Dia tertawa, “Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain.”

Me, “Iya, Pa.”

“Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?
Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?”

Wow… My target is 6…..
Not 8.. Not 9…
NOT 10!!!!
It’s easy….. Its helping… Its good communication between me and my father….
Its a GOOD Deal…
Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah. Kuliah.
Jadi dosen tamu .. Mengajar di beberapa kampus.

Oh.. Anaknya…
Become one thing they never imagine…
World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Dilarang lagi bermain sulap?

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad… Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena keunikannya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.

U never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.

–Deddy Corbuzier–

Tes STIFIn dapat menjadi cara termudah untuk mengenali Kehebatan anak ayah dan bunda. Jangan sampai kita ngotot memaksakan apa yang anak kita tidak bisa, karena kita merasa itu bisa dilakukan anak kita. Seperti ayah bunda yang juga memiliki kekuatan dan kelemahan, anak juga sama. Ayo kenali Kekuatan anak dengan Tes STIFIn.


Artikel ini sambungan dari Udah Gak Zaman Mengatakan Anak Pintar.

Carol S Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success :

a. Fixed Mindset (FM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth Mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yang bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, (kalau Konsep STIFIn, sesuai dengan Mesin Kecerdasannya) ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.” (Jika sudah tau apa Mesin Kecerdasan anak dengan Tes STIFIn, kita mudah mencari tau cara yang cocok untuk setiap anak)

d. Fixed Mindset : “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” Growth Mindset : “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. Fixed Mindset mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. Growth Mindset mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

[pull_quote_right]Walaupun anda punya bakat alami yang hebat, kalau tanpa proses belajar dan kegigihan berusaha, bakat alami hanya sebagai informasi tanpa ada manfaatnya.- STIFInspirator[/pull_quote_right]

f. Fixed Mindset percaya kalau tes mengukur kemampuan. Growth Mindset percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area pertumbuhan.

Perbedaaanya Pada Guru/Pendidik

g. Guru dengan Fixed Mindset menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan Growth Mindset merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan Fixed Mindset memiliki semua jawaban. Guru dengan Growth Mindset menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan Fixed Mindset menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan Growth Mindset mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

————-

Nah mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi memang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya.

Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil.

Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, :

  • tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.”
  • Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”.

Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal.

Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Tolong jangan bilang anakku “pintar” . Emangnya kenapa? Udah gak zamannya lagi memuji anak dengan mengatakan “pintar”. Loh..Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel berubah fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

[quote_box_center]Tanpa sadar orang tua yang memuji anaknya “pintar”, takut dikatakan orang tua yang “tidak pintar” — STIFInspirator[/quote_box_center]

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu ?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed mindeset vs growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol S Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak :

Satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama : memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle yang berbeda.

Puzzle di ronde kedua : diberikan dua pilihan puzzle; puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan puzzle yang mudah, serupa dengan puzzle di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang lebih mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah ??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tersebut, sehingga nggak perlu atau takut ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Ronde Tes Ketiga

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan : mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan dan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya.

Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha :

  1. Mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya.
  2. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan.
  3. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu?

Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya :

  1. Menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar.
  2. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.
Ronde Tes Terakhir

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa :

Mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka.

Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosio ekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

———————-

Okay. Anda tarik Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Memuji Upaya Lebih Baik Dari Pada Memuji Hasil

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya.

Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menganggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, dan mementingkan hasil akhirnya.

Nah, dimana letak Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.