JANGAN JADIKAN “STIFIn” SEBAGAI PEMBENARAN ATAS KEKURANGAN DIRI

Beberapa tahun terakhir ini saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu pengembangan diri yang disebut STIFIn. Perkenalan pertama kali saya dengan STIFIn ketika mengikuti TFT 1 Pak Jamil Azzaini di Jogja tahun 2009 adalah salah satu lembaran penting dalam kehidupan saya. Kemudian saya merasa “gue banget”, menemukan “missing puzzle” dalam kehidupan, dan merasa lebih mudah untuk menemukan jalur terbaik kehidupan. Yang membuat saya yakin untuk banting setir dari dunia desain bangunan menjadi (bergeser sedikit) ke dunia desain kehidupan. (Beda tipis kan? Hehehe.)

Seiring dengan perjalanan waktu, selain ilmu yang semakin luas saya dapatkan, saya pun berkenalan dengan banyak teman baru, yang sebagian besar diantaranya bahkan telah menjadi seperti saudara dengan hubungan yang sangat dekat. (Tapi sayangnya kok nggak ada yang jadi istri ya? ‪#‎eh‬ ‪#‎kode‬.)

Beberapa hari lalu menjadi hari yang istimewa ketika ketemu dan terlibat “perbincangan seru dengan seorang sahabat lama”. Artinya : sudah kenal lama, sudah seperti sahabat, tapi berbincang ya baru kemarin itu. Seru kan?

Dan siang itu saya merasa dihajar habis-habisan terutama ketika sahabat saya itu cerita betapa “seru”-nya status-status saya di facebook, terutama pada musim pilpres beberapa waktu lalu. Sambil beliau menyampaikan pendapatnya, seolah di depan saya berkelebat berbagai penjelasan Pak Farid Poniman tentang Karakter Mesin Kecerdasan Insting. Semuanya “Gue Banget”! Cuma sayangnya “gue banget” yang versi negatif. Hahahaha. Betapa saya sangat responsif, temperamental, dan di saat yang sama juga on-off nya sangat tinggi. Habis ngamuk-ngamuk tetiba becanda, eh setelah ketawa-ketawa kemudian emosi lagi. Trus habis itu nyesel. Tapi besoknya terulang lagi. Parah dah. Hahaha.

Setelah ketawa-ketawa dengerin cerita beliau, tetiba saya tertohok oleh sebuah fakta : lho, saya udah belajar STIFIn sejak 2009 tapi ternyata masih begitu-begitu aja perilaku saya ya? Masih Insting banget versi on the spot eh versi negatifnya ya? Masih belum bisa move on dari Level Personality. Padahal level Personality adalah level terendah. Sangat jauh dari gambaran terbaik seorang Insting. Aduh.

Maka pada saat itu saya ber istighfar dan kemudian dalam hati berterima kasih kepada sahabat saya ini. Yang mengibaratkan dirinya sebagai seseorang yang berada di “teras rumah STIFIn”. Yang pernah masuk ke dalam rumah STIFIn tapi kemudian merasa lebih nyaman duduk menyendiri di teras dibanding ngobrol berinteraksi di dalam rumah. Tapi juga tidak seperti sebagian yang lain, yang meninggalkan rumah STIFIn dengan penuh kekecewaan atau bahkan kemarahan.

Beliau bercerita bahwa potret seperti saya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak potret-potret para peggiat STIFIn. Siapakah pegiat STIFIn itu? Yaitu mereka yang aktif mengkampanyekan STIFIn. Serunya, beliau menyatakan bahwa potret-potret tersebut menggambarkan hal yang sama. Yaitu masih di Level Personality. Yang menggambarkan setiap Mesin Kecerdasan dengan semua kutub positif dan negatifnya.

Yang gampang banget ngomong :

“ya kan saya Thinking, emang susah lah terima pendapat orang lain.”
Sensing kan gitu. Saya nggak bisa ngerjain kalo ga ada contohnya.”
“Lebay gpp lah. Secara aku Feeling gitu loohh…”
“Emang susah ngikutin aturan kalo Intuiting kayak saya gini.”
“Bawaan Insting kali ya? Jadi emang saya ngga bisa fokus.”

…dan beliau menyampaikan ketidak nyamanannya berinteraksi dengan orang-orang seperti itu (salah satunya : Saya!). Yang belajar banyak tentang STIFIn namun kemudian hanya untuk mendapatkan pembenaran atas kekurangannya. Yang seru membahas kelemahan masing-masing namun hanya sebagai lucu-lucuan, tanpa adanya satu aksi konkret untuk memperbaiki diri.

Deg! Seolah jantung berhenti mendengar cerita beliau. Terutama karena saya saat ini sedang mendapat tugas untuk mengelola STIFIn Institute, yang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarluaskan STIFIn ke seluruh Indonesia. Maka kemudian saya kembali ber istighfar, memohon ampun kepada Allah atas sering hadirnya perasaan merasa sudah hebat. Merasa sudah banyak paham tentang STIFIn. Ternyata tentang diri saya pun saya belum paham. Dan ternyata saya belum praktekkan. Kalo dilihat dari Taksonomi Bloom, ternyata saya baru sebatas ingat atau hafal saja. Masih jauh dari menerapkan, menganalisa, dst. Saya lebih sering merasa hebat dibandingkan menjadi hebat.

Alhamdulilah, Allah masih sayang sama saya. Masih bersedia mengirimkan seseorang untuk menampar saya. (Cuma kenapa namparnya kuenceng banget, ya Allah… hehehe…)

Bismillah, memulai hari dan memulai minggu dengan niat untuk menjadi seorang Insting yang selalu berusaha untuk menaikkan level kepribadian saya. Menjadi seorang Insting yang sederhana, berfokus pada kepentingan yang lebih besar, mementingkan orang lain, cepat tuntas, merangkul potensi-potensi yang ada, mempermudah, memperlancar, tidak membebani, mengalir, pragmatis berdaya guna, dan berperan aktif dalam program kemanusiaan. Semoga Allah mudahkan langkah kaki dan upaya saya serta sahabat-sahabat  saya para pegiat STIFIn untuk menjadi hebat. Aamiinn.

Sumber Catatatn Andhika Harya
Direktur Eksekutif STIFIn Institute

Dari Judul aslinya : Menjadi Hebat atau Merasa Hebat


Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan Menggunakan Formula 15

Gunakan ‘Formula 15’

Oleh: Farid Poniman (Penemu Konsep STIFIn)

Menghafal Al Quran Gaya SENSING

  • 5x baca rekam (perbendaharaan kata),
  • 5x hafal sambil menandai (warna dan letak),
  • 5x pengendapan tanpa lihat (letak sudah tercetak)

Baca sebanyak 5x sekaligus di rekam dalam memori. Bacanya sambil ngelihat tulisan. Ini bertujuan untuk menambah perbendaharaan kata. Setelah baca 5x dengan melihat tulisannya, lanjutin baca 5x dengan gaya belajarnya Sensing, yaitu dengan menunjuk tulisan sambil membacanya, menandai letaknya, atau memberi warna tulisannya. Terakhir baca 5x dengan menutup tulisan/Al Qur’an. Tujuannya agar perbendaharaan kata yang sudah masuk ke dalam memori semakin mengendap dalam ingatan orang Sensing. Letak huruf atau bacaan pastu sudah tercetak dalam memorinya.

Menghafal Al Quran  Gaya THINKING

  • 5x baca rekam (nomor, awal, dan akhir ayat),
  • 5x strukturkan dan sambungkan,
  • 5x pengendapan tanpa lihat (kerangka sambungan sudah jadi)

Baca 5x dengan melihat tulisan. Rekam nomor ayat, awal dan akhir ayat. Lalu, baca 5x sambil menemukan struktur bacaan, pola kata, kalimat, lalu sambungkan. Setelah itu baca lagi 5x dengan menutup Al Qur’an, dibagian ini kerangka sambungan udah jadi.

Menghafal Al Quran Gaya INTUITING

sebelum baca, diterjemahkan, dipolakan;

  • 5x baca rekam (sebagai kalimat),
  • 5x hafal dikaitkan cerita serta visual tangan atau muka,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil mengekspresikan pesan.

Sebelum baca ayat Al Qur’an, baca terlebih dahulu terjemahannya, kemudian polakan. Baca 5x, rekam sebagai kalimat. Kemudian, baca ayatnya 5x (dihafal), lalu dikaitkan dengan cerita yang disertai visual tangan atau muka. Terakhir, baca 5x dengan menutup Al Qur’an sambil mengekspresikan pesan.

Menghafal Al Quran Gaya FEELING

  • 5x baca rekam (hidupkan tokoh),
  • 5x murajaah (cari pantulan),
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil penghayatan tokoh.

Baca 5x, baca, rekam, dan hidupkan tokoh. Lalu, baca 5x. Terakhir, baca 5x untuk pengendapan tanpa melihat Al Qur’an tapi sambil penghayatan tokoh.

Menghafal Al Quran Gaya INSTING

  • 5x baca pake murattal (rekam keindahan nada),
  • 5x rekam kaitkandengan cengkok nada,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sesuai murattal.

Baca 5x sambil dengarkan murattalnya , rekam keindahan nadanya. Lalu, baca 5x sambil mengaitkannya dengan cengkok nada. Baca 5x dihafal dengan menutup AL Qur’an dan sesuaikan dengan murattal.


Oleh: @Jonru – Jonru Ginting, Penulis Buku “Saya Tobat”

Jika anak Anda jadi juara kelas, pasti sangat bangga, bukan? Tapi bagaimana jika tidak juara? Bahkan 10 besar pun tak masuk. Gimana, dong?

Banyak orang tua yang terlalu “mendewa-dewakan” rangking sekolah anaknya. Mereka pun mendorong (bahkan sering memaksa) agar anaknya dapat rangking di sekolah.

Jika tidak dapat rangking, si anak disalahkan, hobinya disalahkan, pergaulannya disalahkan, sekolahnya disalahkan. Bahkan anak disebut bodoh, tak punya masa depan karena tak bisa jadi juara.

Duhai Teman!
Dulu sejak SD hingga tamat SMA, saya juga langganan juara satu. Bahkan nilai saya pernah tertinggi sekotamadya Binjai.

Namun saat ini, saya merasakan bahwa rangking atau juara tersebut TIDAK terlalu berpengaruh terhadap kehidupan saya selama ini. Memang sih ada pengaruhnya sedikit (misalnya saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri karena nilai saya lumayan bagus). Tapi ya hanya sesedikit itu.

FAKTA juga membuktikan bahwa TAK ADA JAMINAN bahwa anak yang dapat rangking punya masa depan yang lebih baik. Banyak teman sekolah saya dulu, yang rangkingnya jauh di bawah saya, tapi hidup mereka sekarang jauh lebih sukses.

Jadi, Anda masih “mendewa-dewakan” rangking?

Saya buka ahli parenting, tapi alhamdulillah saya sudah belajar banyak tentang pendidikan anak, bahwa yang paling penting bagi seorang anak BUKAN menjadi juara kelas.

Yang paling penting adalah:
Kita mendidik mereka sesuai karakter khas dan potensi terbesar mereka, bekali dengan iman dan taqwa sehingga mereka nantinya menjadi anak yang SUKSES, MULIA, dan GUE BANGET.

Apa artinya?

Begini:

1. SUKSES itu urusan dunia. Misalnya menjadi kaya, punya jabatan, jadi tokoh populer, dan sebagainya.

2. MULIA adalah urusan dunia dan akhirat. Si anak menjadi anak yang berguna bagi umat, beriman dan bertakwa, berakhlak baik, dan di akhirat nanti dia masuk surga, bersama kita tentu saja. Aamiin… Itulah harapan semua orang tua, bukan?

3. GUE BANGET. Anak kita bukan hanya berprofesi di bidang yang gajinya besar, yang hidupnya mewah, dan seterusnya. Untuk apa itu semua jika kita TIDAK BAHAGIA. Untuk apa itu semua jika kita tidak suka pada pekerjaan yang dilakoni?

Alangkah indahnya jika semua orang – termasuk kita dan anak-anak kita – bisa berprofesi di bidang yang PALING GUE BANGET.

Dibayar untuk bersenang-senang. Pasti ini adalah impian semua orang!

* * *

Jadi daripada sibuk ngurusin rangking sekolah, seharusnya kita lebih fokus mendidik anak sesuai dengan karakter dan potensi terbesar mereka. Didik mereka agar menjadi insan yang SUKSES MULIA dan hidup GUE BANGET.

Untuk mewujudkan impian seperti itu, kita bisa memulainya dengan mengenali minat, bakat dan potensi terbesar seorang anak. Maka saran saya, lakukanlah TES SIDIK JARI di ‪#‎STIFIn‬

Sumber Fanspage Jonru


“BELAJAR SESUAI DENGAN KEHEBATAN ANAK”

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

Azka, ” Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!”

Me, ” Woooow, I’m so proud of you. You are amazing!!!!”

Azka, ” Yeaaaaaay”

Ibu-ibu entah arisan di belakang, “Mas Ded, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Mas Ded.”

Me, “Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe”

Ibu, “Ah Mas Ded bisa aja. Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas.”

Me, “Hahah, Azka gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang. Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.”

Ibu, “Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah.”

Me, “Gak renang aja, Mbak?”

Senyap……

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?
(Penting? NO!! Sama dengan Renang)

Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.

Atau.. Azka.. Atau Azka…
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
Banyak kelebihan yang kalian punya. Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi, apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.

1. Si anak stress dan membenci hal itu.

2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)

Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.

Saya sampai sekarang masih bingung, mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?

Saya…
Saya 2 kali tidak naik kelas…
Yes, i am. Proudly to say.

Ayah saya ambil raport. Merah semua.
Dia tertawa, “Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain.”

Me, “Iya, Pa.”

“Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?
Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?”

Wow… My target is 6…..
Not 8.. Not 9…
NOT 10!!!!
It’s easy….. Its helping… Its good communication between me and my father….
Its a GOOD Deal…
Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah. Kuliah.
Jadi dosen tamu .. Mengajar di beberapa kampus.

Oh.. Anaknya…
Become one thing they never imagine…
World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Dilarang lagi bermain sulap?

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad… Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena keunikannya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.

U never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.

–Deddy Corbuzier–

Tes STIFIn dapat menjadi cara termudah untuk mengenali Kehebatan anak ayah dan bunda. Jangan sampai kita ngotot memaksakan apa yang anak kita tidak bisa, karena kita merasa itu bisa dilakukan anak kita. Seperti ayah bunda yang juga memiliki kekuatan dan kelemahan, anak juga sama. Ayo kenali Kekuatan anak dengan Tes STIFIn.


Artikel ini sambungan dari Udah Gak Zaman Mengatakan Anak Pintar.

Carol S Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success :

a. Fixed Mindset (FM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth Mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yang bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, (kalau Konsep STIFIn, sesuai dengan Mesin Kecerdasannya) ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.” (Jika sudah tau apa Mesin Kecerdasan anak dengan Tes STIFIn, kita mudah mencari tau cara yang cocok untuk setiap anak)

d. Fixed Mindset : “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” Growth Mindset : “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. Fixed Mindset mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. Growth Mindset mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

[pull_quote_right]Walaupun anda punya bakat alami yang hebat, kalau tanpa proses belajar dan kegigihan berusaha, bakat alami hanya sebagai informasi tanpa ada manfaatnya.- STIFInspirator[/pull_quote_right]

f. Fixed Mindset percaya kalau tes mengukur kemampuan. Growth Mindset percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area pertumbuhan.

Perbedaaanya Pada Guru/Pendidik

g. Guru dengan Fixed Mindset menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan Growth Mindset merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan Fixed Mindset memiliki semua jawaban. Guru dengan Growth Mindset menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan Fixed Mindset menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan Growth Mindset mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

————-

Nah mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi memang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya.

Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil.

Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, :

  • tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.”
  • Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”.

Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal.

Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Tolong jangan bilang anakku “pintar” . Emangnya kenapa? Udah gak zamannya lagi memuji anak dengan mengatakan “pintar”. Loh..Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel berubah fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

[quote_box_center]Tanpa sadar orang tua yang memuji anaknya “pintar”, takut dikatakan orang tua yang “tidak pintar” — STIFInspirator[/quote_box_center]

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu ?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed mindeset vs growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol S Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak :

Satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama : memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle yang berbeda.

Puzzle di ronde kedua : diberikan dua pilihan puzzle; puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan puzzle yang mudah, serupa dengan puzzle di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang lebih mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah ??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tersebut, sehingga nggak perlu atau takut ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Ronde Tes Ketiga

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan : mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan dan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya.

Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha :

  1. Mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya.
  2. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan.
  3. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu?

Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya :

  1. Menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar.
  2. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.
Ronde Tes Terakhir

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa :

Mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka.

Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosio ekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

———————-

Okay. Anda tarik Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Memuji Upaya Lebih Baik Dari Pada Memuji Hasil

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya.

Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menganggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, dan mementingkan hasil akhirnya.

Nah, dimana letak Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Tobat Profesi istilah yang kerap dipakai bagi Penggiat STIFIn yang benar benar sudah mengenal dirinya, keberadaannya (makanatsnya). Sehingga dia menjadi lebih mudah memutuskan apa yang membuat dia bisa bahagia dan tidak bahagia ketika menjalankan suatu profesi. Hal inilah yang dirasakan oleh seorang tokoh bernama Jonru, dalam blognya menulis bahwa ia melakukan Tobat Profesi sebagai penulis.

Artikel ini Admin kutip dari Blognya Jonru dengan Judul aslinya : Saya Sudah Tobat Profesi, Berhenti Menjadi Penulis.

— By Jonru Ginting

Sejak kelas empat SD, saya sangat hobi menulis. Cita-cita terbesar saya adalah ingin mengembangkan bakat menulis. Saat kuliah, saya gabung di pers kampus dengan tujuan untuk belajar menulis. Setelah lulus kuliah, saya hanya mau mencari pekerjaan di bidang penulisan. Dan saat berhenti bekerja, saya pun memulai bisnis, dan masih di bidang penulisan; Sekolah Menulis Online (SMO) dan penerbitan buku (Dapur Buku).

Pokoknya all about writing. Saat kuliah saya pernah bikin slogan “Born To Write.” Dan sekitar tahun 2000 saya bikin slogan baru, “Writing is not my hobby. It’s a part of my life.”

Ya, saya menganggap bahwa menulis adalah passion terbesar saya, dan saya hanya mau berkarir di bidang penulisan.

Namun semuanya berubah sejak negara api menyerang. Hehehe… Maksudnya begini:

1. Dulu ketika saya berbisnis di bidan penulisan, hasilnya begitu-begitu saja, perkembangan bisnis saya stagnan, bahkan saya sering mengalami kesulitan keuangan.

Selain itu, dari segi psikologis saya pun sebenarnya kurang bahagia. Saya memang berusaha bekerja seprofesional mungkin. Namun di dalam hati kecil yang terdalam, ada perasaan malas ketika harus mengisi pelatihan-menulis online, ada perasaan jengkel ketika seorang penulis pemula mengajukan pertanyaan yang tidak saya sukai. Akibatnya, itu berpengaruh buruk terhadap layanan bisnisnya. Maka tidak heran, semakin lama bisnis yang saya kelola pun semakin sepi. Mungkin karena banyak pelanggan yang kecewa.

2. Dulu saat masih berbisnis di bidang penulisan, saya berusaha jaim di depan publik. Saya membangun personal branding dan menerapkan kiat marketing sebaik mungkin. Saya sangat hati-hati saat menulis di social media. Namun ternyata, strategi seperti itu tidak berhasil membuat bisnis saya maju pesat. Hasilnya justru begitu-begitu saja.

Berbeda halnya ketika saya mulai tampil apa adanya, blak-blakan, berani dan bersikap kritis. Tiba-tiba jumlah follower saya meningkat drastis. Nama saya makin dikenal. Ini membuat saya berpikir bahwa ternyata dulu itu saya hanya membangun pencitraan. Jonru di era SMO bukanlah Jonru yang asli. Itu hanya masking, sebuah personal branding yang saya bangun untuk tujuan bisnis.

Ternyata ketika saya tampil sebagai diri sendiri, melupakan semua personal branding, kiat marketing dan sebagainya, di situlah gerbang sukses mulai terlihat dengan jelas.

3. Akhir tahun 2014 saya melakukan tes STIFIn, dan akhirnya tahu bahwa Mesin Kecerdasan saya Insting. Dan bulan Maret 2015, saya mengikuti Workshop STIFIn level 1. Dari materi workshop ini, saya mendapat pencerahan mengenai apa profesi terbaik bagi seseorang. Saya pun menerapkan rumus yang diberikan oleh Pak Andhika selaku pembicara pada acara tersebut.

Dan hasilnya: Saya memutuskan untuk menghentikan personal branding sebagai penulis, juga sebagai guru menulis. Saya akhirnya dengan penuh keyakinan memasuki branding yang baru sebagai Talent & Passion Consultant.

Ya, ternyata tanpa saya sadari, selama ini saya punya minat atau passion yang sangat besar di bidang talent, passion, penemuan jadi diri, menjadi diri sendiri, dan hal-hal lain yang terkait.

Itulah sebabnya, ketika saya mulai gabung sebagai Promotor STIFIn, ternyata level kebahagiaan di hati saya seperti mencapai titik maksimal. Seratus persen! Saya dengan penuh semangat menjalankan bisnis ini, tak kenal lelah.

Pernah ada teman yang datang ke rumah saya jam 22.30 WIB untuk tes STIFIn, tetap saya layani dengan senang hati. Padahal saya sudah ngantuk.

Saat tim saya membuat group WhatsApp untuk para alumni workshop “Kuliah & Kerja Gue Banget”, saya dengan penuh semangat melayani pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman di sana. Bahkan ketika tak ada yang tanya, saya dengan penuh antusias menunggu mereka.

Padahal ketika dulu saya membuat group Kiat Menulis di WhatsApp juga, entah kenapa saya malas aktif di sana. Ketika ada yang tanya, saya cuekin karena malas. Situasi seperti inilah – antara lain – yang membuat saya makin yakin bahwa profesi terbaik saya bukan di bidang penulisan.

Passion adalah sesuatu yang membuat kita bersedia all out mengerjakannya, dengan perasaan penuh riang gembira dan sangat bahagia, walau tak ada bayarannya sama sekali. Dan situasi seperti ini hanya saya temukan saat fokus mengelola bisnis sebagai Talent & Passion Consultant.

Karena itulah, saya pun dengan penuh keberanian dan keyakinan berkata, “SAYA SUDAH TOBAT PROFESI!!!”

Sekarang saya bukan lagi penulis atau guru menulis. Saya sekarang adalah YOUR TALENT & PASSION CONSULTANT. Saya akan MEMBANTU Anda menemukan diri sendiri, menemukan potensi terbesar dalam hidup Anda, agar bisa hidup GUE BANGET.

Hm, bukan berarti saya berhenti menulis. Sama sekali bukan! Saya insya Allah tetap akan menulis, karena itu memang salah satu passion dan keahlian saya. Saya justru akan tetap rajin menulis, berbagi ilmu mengenai talent dan passion tersebut. Yang saya tinggalkan hanyalah branding dan profesi sebagai penulis. Itu saja.

NB:

(1) Saya BUKAN berkata bahwa menjadi penulis tidak menjanjikan dari segi materi. Sama sekali bukan! Banyak kok orang yang sukses sebagai penulis. Namun saya percaya bahwa setiap orang punya jalan sukses masing-masing. Ada orang yang jalan suksesnya di bidang penulisan. Dan ternyata, jalan sukses saya bukan di situ.

(2) Menurut yang saya baca dari buku ON karya pak Jamil Azzaini, tobat profesi adalah salah satu cara agar kita bisa masuk surga.Kenapa? karena saat kita bekerja di bidang yang tak cocok, pasti kinerja kita buruk, banyak melakukan kesalahan, banyak pelanggan yang kecewa, dan seterusnya. Intinya banyak dosa.

Tobat profesi adalah salah satu cara untuk mengurangi dosa. Sebab dengan bekerja di bidang yang paling sesuai passion dan potensi terbesar kita, di situlah kita bisa memberikan excellent services. Kita akan bekerja all out, melakukan semuanya dengan penuh kebahagiaan. Pelanggan pun merasa puas dan makin senang.. Dan saya sudah membuktikan itu.

(3) Jika ingin tahu bagaimana STIFIn bisa menemukan potensi terbesar dalam hidup Anda, agar Anda juga bisa tobat profesi seperti saya, coba hubungi Promotor STIFIn Seluruh Indonesia.

Sumber


KURIKULUM

Oleh : Cacan Soemantri Agis

Kemarin saya memberi pelatihan di Klinik Gigi. Peserta kebanyakan dokter gigi. Tapi mereka nggak mau praktek. Hah…biaya mahal, praktek nggak mau. Alasannya macam-macam. Intinya mereka nggak enjoy. Kasihan banget.

Kejadian tersebut menginspirasi saya menuliskan tentang Kurikulum.

Serangkaian kegiatan yang diberikan sangat padat dan dipaksakan. Meski tidak pas dan tidak berkenan. Program ini harus jalan. Percis loyang cetak untuk membuat kue. Hasil akhir rasa dan bentuk sudah bisa dipastikan.

Itulah kurikulum!

Disadari atau tidak anak kita, akan menjadi diri yang terbelenggu, kaku dan dia bukan dirinya lagi. Dengan kata lain anak dengan serangkaian kurikulum, menjadi jarak dengan dirinya sendiri. Dia terpaksa mengikuti dan berusaha untuk menjadi diri yang diharapkan kurikulum tersebut.

Sebuah program yang dipaksakan hasil akhir bisa ditebak. Tidak berdampak, hanya sebagai syarat. Sehingga tidak berbekas dan berkarakter. Kaku dan tidak berpendirian. Merubah dengan hasil akhirnya yang tidak nyaman. Tidak berdampak karena tidak di respon oleh anak. Kalaupun ada yang berhasil bisa dihitung dengan jari. Itupun dengan suatu catatan bahwa hasil akhir tidak semuanya bisa dipakai atau diimplementasikan ditempat kerja. Bahkan jauh menyimpang antara kurikulum dengan tempat kerja saat ini.

Setiap anak punya potensi dan bakatnya masing-masing. Masalahnya cuma satu. Bakat dan potensi tersebut tidak diketahui oleh diri dan orang tuanya.

Bakat belum diketahui sudah di”cemplungkan” ke kurikulum yang sungguh sangat asing dan belum tentu pas dengan talentanya. Hasil akhir, ya seperti ini! Dampak terburuk, jati diri saja tidak dipahami, akibatnya mudah terbawa arus.

Contoh kongkritnya seperti ini;

Begal di usia dini ..
Konsumsi narkoba menjadi tradisi…
Akhir kelulusan ada pesta bikini…
Punya kuasa dan posisi berkolaborasi melakukan korupsi…
Lulus kuliah masih berputar membawa map cari intansi…
Ketika bekerja bingung dan asing yang akhirnya jauh dari prestasi…

Adakah kurikulum yang salah?

Sejatinya kurikulum hadir untuk melengkapi dan mengoptimalkan anak didik. Sehingga mereka berkembang dan maju berbasis potensi diri.

Mengetahui potensi diri sejak dini adalah solusi pasti saat ini.

Tidak semua harus jadi dokter. Nggak mesti semua orang suka dengan profesi pilot. Ada anak yang tidak suka dengan uniform mengikat dan kaku. Adakalanya orang merasa nyaman dan menikmati mesti hanya berjualan bahan pokok di pasar tradisional. Ada sebagian yang suka dengan profesi sebagai pengacara, sebagai Trainer, atau lebih nyaman kerja dengan menjual produk asuransi. Dsb.

[quote_center]Hasil akhir akan gemilang. Apapun profesinya. Jika diawali tidak dari paksaan melainkan mengembangkan diri dari potensi masing-masing.[/quote_center]

Akhirnya, kutipan Khalil Gibran, bisa menjadi pelengkap artikel ini. “bahwa anakmu bukanlah anak, ia adalah anak-anak zaman.”

Sebagai orang tua, semoga kita bisa mengantarkan dan mengarahkan  kesuksesan mereka. Tapi tidak memaksakan kehendak kita. Karena jalur rezeki dan nafkah mereka sudah ada yang ngatur. Dan itu pasti!


RESPON TERHADAP ARTIKEL PROF SARLITO WIRAWAN

(Ditulis Khusus untuk Keperluan Internal bagi Para Promotor STIFIn)
Oleh : Farid Poniman

Pertama, saya sangat menghormati Prof. Sarlito Wirawan dan pendapatnya.
Hal terpenting berikutnya, kita mesti terbiasa menerima perbedaan dengan lapang dada.

Dimana letak perbedaannya? Hal ini berawal dari perbedaan world-view (sumber paradigma). Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism). Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak. Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan. Sehingga kalau kembali kepada rumus 100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip, sedangkan saya aliran yang 20% Genetik.

Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik. Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture. Saya penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.

Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan:

1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan

2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Kalau menggunakan bahasa gaulnya, “jangan bawa-bawa Tuhan deh dalam pembahasan ilmiah”. Itulah world-view mereka.

Secara sederhananya, saya meyakini adanya sibghah (celupan) Allah dalam diri manusia melalui kesengajaan Allah menjadikan manusia keturunan Adam. Selain itu ada kesengajaan Allah memberikan genetik yang unik pada setiap manusia. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya). Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.

Pandangan saya sebagaimana yang saya ungkapkan dalam banyak kesempatan bahwa yang 20% Genetik itulah yang aktif mencari 80% Lingkungan sehingga 100% Fenotip itu banyak dikontribusi oleh 20% Genetik. Memang betul tidak selalu 80% Lingkungan itu berhasil dicapai sepenuhnya sesuai dengan 20% Genetik, tetapi tesis besarnya adalah –sadar atau tidak sadar—kebebasan berkehendak pada manusia akan mencetuskan keinginan mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya, yaitu yang sesuai dengan 20% Genetik tadi. Setiap manusia mencari lingkungan yang ‘gua banget’ bagi dirinya.

Tentang hal ini, Rhenald Khasali (sesama dosen UI dengan Prof Sarlito namun berbeda pandangan juga dengan Prof Sarlito) menyebutnya sebagai genetika perilaku. “Para ahli genetika mulai masuk ke cabang baru dari genetika biologi, yakni genetika perilaku (behavioral genetics), karena berdasar sejumlah penelitian mutakhir terungkap adanya pengaruh genetika terhadap perilaku perubahan “, Rhenald Khasali (2010).

Sekedar ilurtrasi dalam bentuk lain, saya paparkan empat riset sebagai bukti pengaruh genetik terhadap perilaku dan eksistensi manusia (saya kutip dan edit dari Kompas.com):

1. Seorang psikolog asal Virginia Commonwealth University, Michael McDaniel menyatakan bahwa otak yang besar memang berpengaruh terhadap kecerdasan.Dalam Journal Intelligence yang terbit tahun 2005, Michael menyebutkan bahwa volume otak sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan karena semakin banyak sel-sel otak, sistem dan jaringan informasi yang dimiliki seseorang dalam otaknya pun semakin banyak, yang berarti ia bisa lebih cerdas. Hal itu menurutnya berlaku untuk semua rentang usia dan juga jenis kelamin.

2. Para ilmuwan dari Cambridge University menemukan bahwa para pialang yang bekerja di bursa-bursa saham memiliki jari manis lebih panjang dari pada jari telunjuk. Ini menunjukkan bahwa mereka lebih pintar mencari uang. Dalam 20 bulan para pialang dengan jari manis lebih panjang ini ‘mencetak’ uang sebelas kali daripada yang jari manisnya relatif lebih pendek(Kompas.com,16 Januari 2009).

3. Ukuran pinggul yang besar memengaruhi daya ingat seorang perempuan. Para peneliti menemukan bahwa setiap poin kenaikan BMI, skor tes kemampuan daya ingat mereka juga turun satu poin. Dan, partisipan yang memiliki bentuk tubuh pir (pinggang kecil, tetapi pinggul lebar) memiliki skor yang paling buruk(Kompas.com, 15 Juli 2010).

4. Menurut hasil penelitian, mereka yang bertampang menarik lebih pintar daripada kebanyakan orang. Riset yang dilakukanLondon School of Economics (LSE) di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan, pria dan perempuan menarik memiliki intelligence quotient (IQ) 14 poin di atas rata-rata kebanyakan orang(KOMPAS.com, 17 Januari 2011).

Nah, tentu saja para ilmuwan psikologi tidak akan setuju sepenuhnya dengan empat contoh riset tersebut karena mereka lebih meyakini dengan pola perilaku yang tampak yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Kira-kira mereka akan mengatakan demikian, “Tidak ada kaitannya antara potensi genetik yang tergambar pada besar kepala, panjang jari manis, besar pinggul, dan tampang yang menarik dengan perilaku seseorang”. Sebagaimana Prof Sarlito juga mengatakan tidak ada kaitannya antara sidik jari dengan perilaku seseorang.

Sampai disini, saya berharap anda dapat memahami bahwa perbedaan pandangan harus diterima dengan lapang dada, yang penting kita mengetahui perbedaan world-view nya.

Oleh karena itu untuk menjembatani bahwa potensi genetik yang digali Tes STIFIn itu juga dapat diukur dari perilaku yang tampak maka saya selalu memasukkan 10 variabel personaliti yang bisa diukur secara psikometrik pada setiap hasil Tes STIFIn. Pendek kata, jika anda ingin membuktikan secara ilmiah keberadaan potensi genetik dalam personaliti seseorang, minta salah satu doktor/PhD psikometrik di kota anda untuk mengukur keberadaan 10 variabel pada peserta tes. Jika keberadaan 10 variabel itu ternyata eksis maka hal itu menunjukkan bahwa Tes STIFIn memiliki validitas yang tinggi. Jika hal tersebut dites lagi beberapa kali dan hasilnya tetap sama maka bermakna reliabilitas Tes STIFIn juga tinggi. Tentang kedua hal ini kami sudah melakukan riset internal yang menunjukkan bahwa validitas dan reliabilitas Tes STIFIn sangat tinggi. Namun saya harap anda bersabar menunggu hasil riset independen yang dilakukan dua tim profesor di Malaysia dan Indonesia yang akan diumumkan tidak lama lagi.

Sejarah Finger Print

Sidik jari adalah ciri permanen yang genetik dan tidak berubah sepanjang umur manusia. William Jenings dari Franklin Institute Philadelpia, mengambil sidik jarinya sendiri pada umur 27 tahun (1887) kemudian membandingkan dengan sidik jari setelah umur 77 tahun ternyata tidak terjadi perubahan.

Sidik jari seseorang memiliki hubungan dengan kode genetik dari sel otak dan potensi intelegensi seseorang. Penelitian ini telah dimulai sejak lebih 200 tahun yang lalu, diawali oleh Govard Bidloo (1865), J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), Inez Whipple (1904), Kristine Bonnevie (1923), Harold Cummins (1926), Noel Jaquin (1958), Beryl Hutchinson (1967), dan kemudian oleh Baverly C Jaegers (1974) yang menyimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang.

Pada tahun 1901, Sir Edward Richard Henry mengembangkan Sistem Galton menjadi sistem Galton-Henry. Pada tahun 1914, sistem Galton-Henry mulai dikembangkan di Indonesia. Pada tahun 1960, sistem ini resmi digunakan oleh POLRI (menurut Indonesia Automatic Fingerprint Identification System/INAFIS).

Sekarang teknologi sidik jari sudah berkembang jauh. Salah satunya, teknologi dermatoglyphics yang dapat dipakai untuk membuktikan seberapa besar kapasitas yang dimiliki anak sejak lahir, mengetahui potensi bawaan, serta bakat terpendam anak. Teknologi tersebutmulanya dikembangkan di Harvard University, Cambridge University, dan Massachusetts University.Data statistik perangkat lunak dermatoglyphics itu diolah berdasarkan data sidik jari 3 juta orang di Asia dan Amerika.

Dari rangkaian sejarah riset-riset sidik jari di atas masih kurang ilmiah apa lagi?

Jika genetika perilaku yang mampu ditunjukkan oleh sidik jari dianggap sebagai ilmu semu, sebaiknya hal tersebut perlu direkomendasikan langsung ke POLRI dan institusi intelijen di seluruh negara untuk menukarkannya dengan cara lain. Saya yakin Prof Sarlito tidak akan punya cara lain yang lebih efisien dan efektif dibanding teknologi sidik jari. Padahal sidik jari sudah memiliki sejarah riset yang panjang, yang sungguh menyedihkan kalau dianggap sebagai bentuk penipuan yang lain.

Penutup

Sebenarnya anda sendiri bisa menjadi juri bebas, karena sebelum menjadi promotor anda mengikuti Tes STIFIn. Adakah kesimpulan tentang personaliti anda yang dikeluarkan oleh Tes STIFIn tidak akurat? Kalau lebih dari 90% diantara anda mengatakan akurat, maka janganlah golongkan kami sebagai penipu. Justru ini adalah amal kifayah kami untuk mencerdaskan bangsa kita.

Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Prof Sarlito atas pengabdian dan integritasnya sebagai ilmuwan psikologi.

Kuala Lumpur, 18 April 2011

—–


Fingerprint Test, Keilmiahan dan Tulisan ‘Sidik Jari’ Prof Sarlito

Oleh : Audifax (Bergiat di SMART HRPD, Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB dan Pustaka Kushala)

Berdebat mengenai Fingerprint Test, sudah bukan hal baru lagi. Sudah sejak 2008 lalu, ketika saya dan Ratih Ibrahim memulai menggunakan alat ini untuk biro kami masing-masing, perdebatan sudah muncul. Argumen kontra umumnya mempersoalkan keilmiahan. Sebuah argumen yang sebenarnya umum dan sering digunakan bukan hanya dalam kasus Fingerprint, tapi juga hampir semua kasus yang berkaitan dengan ‘pemikiran baru’ atau ‘metode baru’.

Permasalahannya, kontra argumen yang mengatasnamakan keilmiahan itu sendiri sering dilontarkan secara tidak ilmiah. Salah satunya, yang kebetulan saya diminta menanggapi oleh Ellen Kristi, teman dari Semarang, adalah tulisan dari Profesor Sarlito berjudul ‘Sidik Jari’, yang di-share di Facebook dan dimuat di harian SINDO edisi 15 Mei 2011. Mengapa saya katakan argumen itu tidak ilmiah? Mari kita lihat satu demi satu.

Pertama soal klaim bahwa beliau telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali.

Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Saya sendiri mencoba memverifikasi dengan menggunakan mesin pencari Google, dengan kata kunci: dermatoglyphic, intelligence dan setting hanya mencari file pdf. Ada ribuan thread muncul, dan banyak di antaranya jurnal. Saya berikan beberapa yang terata:

  1. Association between Finger Patterns of Digit II and Intelligence Quotient Level in Adolescents. Mostaf Najafi, MD, (2009), Department of Psychiatry, Shahrekord University of Medical Sciences, Shahrekord, IR Iran.
  2. Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence. M. Cezarik, dkk, 1996;
  3. Application and Development of Palmprint Research, Yunyu Zhou, dkk, (2001), Linknya
  4. Analysis of dermatoglyphic signs for definition psychic functional state of human’s organism, Anatoly Bikh,dkk; Linknya
  5. Determining The Association Between Dermatoglyphics And Schizophrenia By Using Fingerprint Asymmetry Measures; Jen-Feng Wang, dkk; Linknya
  6. Quantifying the Dermatoglyphic Growth Patterns in Children through Adolescence; J.K. Schneider, Ph.D.; Linknya

Begitu banyak yang bisa ditemukan. Itu semua membuat saya makin tidak percaya bahwa Prof Sarlito benar-benar mencari jurnal atau penelitian terkait. Justru aneh kalau ada sebanyak itu jurnal, tapi seorang profesor tidak mampu menemukannya satu pun.

Ini pelajaran penting dalam membuat sebuah argumen ilmiah yang tidak banyak orang psikologi mampu melakukannya. Alasan-alasan semacam: tidak nemu jurnalnya, sudah kuno, sudah mulai ditinggalkan, dan sejenisnya, itu semua bukan sebuah argumen ilmiah.

Membuat sebuah argumen ilmiah, carilah argumen yang diberikan oleh para teoritisi dermatoglyphic (fingerprint). Pelajari tesis-tesisnya, lalu buat antitesisnya. Teori vs teori. Data vs data. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan, khususnya psikologi dalam konteks ini, akan berkembang semakin luas dan bermanfaat.

Bukankah Prof Sarlito sendiri menulis: “…setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini.” Kenapa sebagai seorang profesor anda tidak kutip saja salah satu tesis ilmiah mereka dan berikan antitesis ilmiahnya? Bukankah semestinya di situ keilmiahan seorang profesor ditunjukkan? Bukannya malah melantur kesana kemari mulai soal ibu-ibu yang ongkang-ongkang sampai soal Densus88.

Coba Prof Sarlito membaca model-model perdebatan ilmiah, misalnya perdebatan Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung, perdebatan Paul Ricour dan Algirdas Greimas, dst. Mereka berdebat fokus pada masing-masing tesis, bukan kemana-mana. Premis-premis mereka pun jelas, bukan muncul dari dasar laut seperti tulisan Prof Sarlito ini:

Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.

Di sini jelas bahwa premis utamanya saja Prof Sarlito tidak menguasai, kok berani-beraninya membuat kesimpulan? Apakah mengenali potensi anak sama dengan memastikan arah hidup si anak? Tentu saja ini hal yang berbeda. Ini logika mendasar tapi tidak dipahami Prof Sarlito.

Mengenali potensi anak, hanya berfungsi membantu anak untuk mengembangkan potensinya, sekaligus mengatasi kelemahannya. Dan dalam hal ini, fungsinya sama saja dengan semua bentuk lain dari tes dan diagnosa psikologi, yaitu sifatnya hanya membantu. Di luar apa yang telah dipetakan, kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan jelas masih ada.

Di sinilah perlunya memahami logika dasar bahwa tes Fingerprint, tujuannya adalah memetakan dan sama seperti ilmu pengetahuan lain, sebuah pemetaan atau prediksi saintifik hanya berlaku ketika memenuhi hukum ceteris paribus.

Ketidakpahaman Prof Sarlito mengenai ilmu pengetahuan dan logika, juga nampak pada kutipan berikut:

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.

Saya semakin heran dengan keprofesoran Sarlito ketika membaca kalimat: “Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.” Jadi, kalau suatu ilmu berada di luar komunitas ilmu psikologi lalu disimpulkan sebagai pseudo-science dari psikologi? Wah, betapa arogan ‘komunitas’ macam itu. Dan, dari cara memverifikasi berdasarkan cara semacam itu saja Prof Sarlito sudah tidak ilmiah. Apa Prof Sarlito tidak menyadari bahwa banyak orang di luar komunitas psikologi mampu memelajari secara lebih mendalam soal psikologi ketimbang orang-orang dalam komunitas psikologi?

Sebagai profesor, semestinya Prof Sarlito menyadari bahwa pengujian suatu ilmu bukan berdasarkan suatu komunitas, melainkan dengan menguji bangunan ontologi, epistemologi dan aksiologi/metodologi-nya. Ini satu hal mendasar lagi yang tidak terlihat dari cara Prof Sarlito menuliskan mengenai Fingerprint.

Lalu ketika Prof Sarlito menuliskan:

“Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya.”

Saya sebenarnya penasaran, Prof Sarlito ini tahu apa enggak mengenai ‘verifikasi’. Dugaan saya, beliau tidak mengetahui alasannya. (Saya menantang siapapun juga yang membaca ini untuk menjelaskan alasan mengapa keilmiahan perlu ‘verifikasi’ dan verifikasi macam apa). Darimana saya menduga kalau beliau tidak tahu? Pertama dari tidak adanya alasan jelas mengapa harus ada verifikasi. Kedua, dari tulisan selanjutnya:

Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!). Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.

Prof Sarlito membaca dari literatur astrologi mana yang menyatakan manusia berbintang Leo sifatnya galak? Itu benar ada atau cuma kira-kira Prof Sarlito? Tidak jelas. Di sini kembali terlihat logika yang premisnya muncul dari dasar laut. Itu menunjukkan argumen itu disusun asal ngomong, bukan karena benar-benar tahu apa yang diomongkan.

Dan penilaian Prof Sarlito disini pun seolah dia sterilkan dari verifikasi. Bagaimana memverifikasi bahwa memang belum pernah ada penelitian yang mengkaji hubungan astrologi dan kepribadian? Ini saya buktikan kalau logika Prof Sarlito muncul dari dasar laut. Ternyata ada kok peneliti dari University of Georgia, yang meneliti hubungan antara astrologi dengan personality traits dan menemukan hubungannya:

Hyokjin Kwak; Astrology: Its Influence On Consumers’ Buying Patterns And Consumers’ Evaluations Of Products And Services, linknya

Begitu juga komentar Prof Sarlito mengenai Sidik Jari dalam kutipan di atas, tidak bisa diverifikasi darimana asalnya. Bahkan, terlihat bahwa Prof Sarlito tidak menguasai dengan benar premis yang mendasari, walau dalam tulisannya mengutip pemikiran Sir Francis Galton dan sejumlah pemikir lain yang mengembangkan telaah sidik jari.

Saya sependapat dengan komentar Nuruddin Asyhadie di FB mengenai tulisan Sidik Jari, bahwa dengan apa yang Prof Sarlito lakukan sekarang (keterlibatannya dalam riset psikologi dan psikologi kriminal), dan reputasinya sebagai psikolog, kukira seharusnya Prof Sarlito tahu dengan baik posisi wacana fingerprint atau dermatoglip dengan psikologi sejak penyelidikan Galton, Bapak Psikometri, mengenai ras dan kecerdasan dengan fingerprint, sampai penggunaan korelasi NGF (Nerve Growth Factor) dan EGF (Epidermal Growth Factor) yang ditemukan oleh Rita Levi dan Dr. Stanley Cohen, yang membuat keduanya meraih nobel.

Keprofesoran Sarlito seharusnya ditunjukkan dengan membuat antitesis dari sejarah panjang tersebut. Itu baru kita bisa bicara ilmiah dan tidak ilmiah. Tradisi semacam inilah yang perlu dikembangkan dalam psikologi di Indonesia, sehingga komentar-komentar yang mengatasnamakan keilmiahan, alih-alih ilmiah justru nampak genit dan reaktif. Perlu disadari juga bahwa sebuah tulisan kritis, bukan berarti bisa mensterilkan dirinya dari kekritisan.

Ada sebuah kritikan menarik dari Karl Raimund Popper, tokoh pospositivis, yang mengkritisi Vienna Circle dan cara berpikirnya. Popper mengatakan bahwa, pengetahuan selayaknya bukan mempertahankan (memverifikasi) yang sebelumnya sudah dianggap ilmiah, namun juga memfalsifikasi. Artinya, suatu pengujian justru harus dilakukan untuk melihat kemungkinan apa yang selama ini dipercayai benar ternyata mungkin saja salah, dan sebaliknya, yang dianggap salah justru mungkin menjadi benar.

Popper mengambil perumpamaan, bahwa untuk menggugurkan tesis bahwa semua angsa adalah putih, cukup diperlukan satu angsa hitam. Maka itu, janganlah membuat pernyataan: ‘Tidak ada angsa berwarna hitam’, melainkan ‘Belum ada angsa berwarna hitam’. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan akan selalu terbuka akan hal-hal baru dan bukan semata memertahankan hal-hal lama.

Saya merasa perlu menuliskan ini, selain memenuhi ajakan menanggapi dari Ellen Kristi, juga karena melihat bahwa perdebatan mengenai fingerprint ini, nampaknya sama sekali tidak ilmiah karena banyaknya orang yang mendebat dengan model seperti Prof Sarlito, yaitu tanpa menguasai premisnya dengan baik, dan bicara mengatasnamakan ilmiah tapi tidak ada argumen ilmiahnya. Ini membuat, perdebatan mengenai fingerprint tidak pernah sampai ke ranah ilmiah.

Silahkan anda kuasai dulu apa itu ilmiah, baru kita bicara keilmiahan.

Sumber