Lalu kenapa disebut aplikatif? Jawabannya: konsep STIFIn bercirikan multy-angle field yang kurang lebih artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan bidang apa saja. STIFIn dapat diaplikasikan pada bidang learning, profession, parenting, couple, politic, human resources, dan bidang-bidang lainnya. Kenapa pasangan suami istri tidak harmonis? Kenapa Pak JK kalah dalam pemilu presiden? Kita dapat memakai STIFin sebagai pisau untuk membedah dua pertanyaan itu. Tidak itu saja. STIFIn sudah menyiapkan modul-modul training secara tematik dari masing-masing topik tadi. Ketika konsep lain masih berkutat pada masalah-masalah umum, STIFIn sudah jauh di depan dengan menyiapkan training untuk masalah spesifik.

STIFIn bukan ramalan

Konsepnya dibangun berdasarkaan teori-teori para ahli di bidangnya yang kemudian dielaborasi. Terdapat tiga terori yang menjadi dasar pijakan konsep STIFIn, masing-masing:

  • Teori Fungsi Dasar dari perintis psikologi analitik berkebangsaan Swiss bernama Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa terdapat empat fungsi dasar manusia yakni fungsi pengindraan (sensing), fungsi berpikir (thinking), fungsi merasa (feeling), dan fungsi intuisi (intuition). Dari empat fungsi dasar itu, hanya salah
    satu diantaranya ada yang dominan.
  • Teori Belahan Otak dari seorang neurosaintis Ned Hermann yang membagi otak menjadi empat kuadran yakni limbik kiri dan kanan, serta cerebral kiri dan kanan.
  • Teori Strata Otak Triune (tiga kepala menyatu) dari neurosaintis lain yang berkebangsaan Amerika, Paul MacLean yang membagi otak manusia berdasarkan hasil evolusinya: otak insani, mamalia, dan reptilia.

Di atas segalanya, perlu digarisbawahi, konsep STIFIn bukan sekedar mengubah dari 3 kotak (MacLean) menjadi 4 kotak (Jung dan Hermann) kemudian menambahkan satu lagi kotak menjadi 5 (STIFIn). Jika hanya begitu adanya, STIFIn tidak lebih dari hanya
sebuah rangkuman dan berhenti di situ. Fakta bahwa STIFIn bisa menjelaskan banyak hal, membuktikan bahwa konsep ini memiliki hal-hal baru hasil sintesa.

STIFIn memiliki hal-hal berikut ini:

  1. Teori menyilang sebagai superior dan inferior dalam satu paket,
  2. Teori irisan persamaan (diantara kutub perbedaan pada kuadran dan diagonal)
  3. Teori hubungan sosial segi lima yang unik dan logis (kami menyebutnya dengan Teori Sirkulasi STIFIn),
  4. Teori keselarasan metabolisme tubuh berdasarkan mesin kecerdasannya,
  5. Teori kalibrasi berdasarkan mesin kecerdasannya,
  6. Teori genetika sesuai mesin kecerdasannya,
  7. Teori strata genetik mulai dari Mesin Kecerdasan-Drive Kecerdasan-Kapasitas Hardware-Golongan Darah.

Kelak di kemudian hari, berpeluang muncul banyak teoriteori lain, sekadar untuk menunjukkan betapa universalnya konsep STIFIn. Ini bisa dibilang teori palugada, apa lu mau gua ada.


Lantas kenapa konsep STIFIn disebut akurat? Semua itu karena STIFIn menguraikan cara kerja otak berdasarkan sistem operasinya, bukan kapasitas hardware-nya. Bayangkanlah satu komputer. Ok sudah? Yang dimaksud hardware adalah perangkat keras, sedangkan sistem operasi adalah yang berfungsi menghubungkan antara perangkat keras dengan aplikasi, seperti Microsoft Windows, Linux, Android, dan Macintosh.

Nah, IQ itu adalah perangkat keras. Dengan demikian, mengukur IQ sama dengan mengukur kapasitas hardware. Makanya jika Anda tidak punya uang untuk melakukan
tes IQ, tidak usah sedih, tinggal cari meteran, lalu ukur lingkar kepala, meski ini sangat kasar, tetapi kapasitas otak bisa diketahui. Kalau hasil pengukuran lingkar kepala Anda 60 cm, itu artinya IQ Anda kurang lebih 110. Mengapa dibilang sangat kasar karena dengan mengukur lingkar kepala semata-mata mengukur volume sel otak, sedangkan
jumlah sambungan denrit antar sel otak tidak diperhitungkan. Berbeda dengan konsep yang lain, STIFIn menggunakan sistem operasi yang berbicara tentang jenis watak kecerdasan. Tiap jenis kecerdasan punya wataknya sendiri-sendiri. Jenis watak kecerdasan itulah yang kemudian disebut sebagai Mesin Kecerdasan.

Jadi, STIFIn memetakan otak bukan berdasarkan belahan otak yang paling besar
volumenya, melainkan berdasarkan belahan otak yang paling kerap digunakan. Itulah yang disebut sebagai sistem operasi. Membagi otak berdasarkan belahan otak yang berperan sebagai sistem operasi inilah yang membuat STIFIn akurat.

Dalam sistem operasi tidak ada wilayah abu-abu, setiap jenis kecerdasan, seaneh apapun itu, dapat digolongkan ke dalam salah satu diantara 5 Mesin Kecerdasan yang
ada dengan garis pemisah yang tegas.


Sejarah perjalanan konsep STIFIn dimulai tahun 1999 – yang lalu – ketika Farid Poniman bersama partnernya, Indrawan Nugroho, yang kemudian diikuti oleh Jamil Azzaini mendirikan lembaga training Kubik Leadership. Lembaga training tersebut setiap memulai program trainingnya terlebih dahulu memetakan peserta training sesuai dengan jenis kecerdasannya.

Sebagai konsep, STIFIn kala itu bisa dibilang masih embrio. Perbaikan konsep dilakukan disana-sini seiring dengan berkembangnya penyelenggaraan training Kubik Leadership. Namun, kala itu, tesis atau hipotesisnya sudah matang dan kukuh bahwa manusia memiliki kecerdasan genetik. Berapa persisnya, itulah yang saya sebut terus berkembang.

Pada awalnya, Farid Poniman menggunakan empat kecerdasan yakni S, T, I, dan F seperti kita bisa baca dalam buku best seller Kubik Leadership. Pergulatan intelektual dan penyempurnaan terus dilakukan oleh Farid Poniman, sebelum terbitnya buku ke DNA SuksesMulia yang akhirnya berujung pada penemuan kecerdasan ke lima, yakni
Insting.

Sekarang STIFIn sudah final dengan 5 mesin kecerdasan dan 9 personaliti genetik. Artinya tidak akan ada jenis kecerdasan ke-6 dan tidak akan ada personaliti genetik yang ke-10.

Setelah dilakukan riset untuk sekian lama, kini konsep STIFIn sudah sangat kokoh. Kekuatan utamanya terletak pada konsep yang simpel, akurat, serta aplikatif.


Mulai dari simpel. Kenapa disebut simpel? Penjelasannya sederhana karena dari miliaran manusia, oleh STIFIn dikelompokkan hanya dalam 5 mesin kecerdasan dan 9 personaliti genetik. Kita tidak pusing dengan pengelompokan manusia dalam banyak kotak, seperti MBTI dan Socionics yang mengelompokkan dalam 16 kotak.

Jika berkaitan dengan kecerdasan, STIFIn cukup 5 kotak, yaitu:…S,….T,…..I,…..F,…..In. 5 mesin kecerdasan itu mencakup seluruh jenis kecerdasan yang ada yang dimiliki manusia di muka bumi ini. Bahkan alien pun, andaikan alien itu memang ada, bisa dimasukkan satu diantara 5 mesin kecerdasan. Kalau dilihat dari bentuk kepalanya, berdasarkan foto yang beredar yang umum dipercayai sebagai makhluk luar angkasa, alien lebih menyerupai mesin kecerdasan Intuition.

Masih ada penjelasan lain kenapa konsep STIFIn disebut simpel karena bersifat multy-angle theory. Artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan teori kecerdasan dan personaliti dari disiplin ilmu yang lain.

Seperti konsep otak kiri dan otak kanan (Roger W. Sperry) atau pembagian neokortek sebagai otak atas dan limbik sebagai otak bawah (Paul Broca) atau pembagian 6 Hexagonal Holland (John Holland) juga konsep DISC (Thomas International) atau bahkan teori lama Hippocrates Galenus dapat dengan mudah dibedah menggunakan STIFIn.

Uraian persamaannya sebagai berikut:

  1. Otak kiri dan otak kanan sama dengan S + T dan I + F pada
    STIFIn.
  2. Neokortek dan limbik sama dengan T + I dan S + F pada STIFIn.
  3. 6 Hexagonal Holland, Artistic-Realistic, identik dengan Kanan-Kiri STIFIn,
  4. 6 Hexagonal Holland, Investigative-Social identik dengan Atas-Bawah STIFIn,
  5. 6 Hexagonal Holland, Conventional-Enterprising identik dengan diagonal Organisasi-Produksi STIFIn.
  6. D-I-S-C pada Thomas International identik dengan S-F-I-T pada STIFIn.
  7. Kholeris, Flegmatis, Melancolis, dan Sanguinis sama dengan S, T,I, dan F pada STIFIn.

Perbandingan lebih lengkap dengan berbagai konsep lama yang lain dapat dilihat pada tabel halaman 20 pada buku STIFIn Personality.

STIFIn dengan mudah dapat diaplikasikan untuk anak berkebutuhan khusus serta terapi masalah-masalah kejiwaan dan kesehatan fisik. Jangan terkejut jika kami mengatakan bahwa dunia kedokteran bisa menggunakan konsep STIFIn untuk mendiagnosis penyakit secara akurat.

Namun, aplikasi yang paling jitu adalah ketika konsep STIFIn digunakan untuk praktik penggemblengan diri dengan prinsip fokus-satu-hebat. Konsep kecerdasan tunggal yang dianut STIFIn lebih mampu menjelaskan realitas otak dalam keseharian. Itulah
penjelasan kenapa konsep STIFIn yang menganut kecerdasan tunggal lebih aplikatif ketimbang, sebutlah, konsep kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligence (MI) yang bisa digambarkan dengan menggunakan metafora sederhana: kepemimpinan ayah dalam keluarga.

Menurut konsep STIFIn setiap orang memiliki seluruh otak, namun hanya ada satu yang memimpin (sebaliknya menurut MI ada dua,tiga, atau empat yang dominan). “A specialist in the construction of the whole” kata Daoed Joesoef.

Dalam satu keluarga yang terdiri atas bapak-ibu-anak, posisi pemimpin dipercayakan kepada bapak. Jika sang bapak maju, maka semua keluarga maju. Sehingga konsentrasi perhatian keluarga diprioritaskan pada sang bapak. Konsep kecerdasan tunggal yang dipakai STIFIn lebih aplikatif karena ternyata kecerdasan dominan (seperti sang bapak) mampu memiliki daya jalar yang lebih baik. Sementara kalau menurut konsep MI investasi yang dimiliki keluarga disebar kepada semuanya, sehingga postur investasi dalam keluarga terpolarisasi. Ingat bahwa kecerdasan yang lemah (dimetaforkan ibu anak) tidak memiliki daya jalar sebagaimana kecerdasan dominan (dimetaforkan bapak).


Agar Anak Sensing Mudah Tidur Siang.

By : Dodi Rustandi – STIFInMan – Personal Mastery Expert

Sepertinya hal ini adalah fakta yang paling sering ditemukan saat sesi konsultasi tentang tipe anak yang Sensing. Yakni, anaknya susah di kondisikan untuk tidur di siang hari.

Padahal, sang ibu sudah mengeluarkan jurus andalannya. Yaitu:

  • Langkah pertama, menggiring anak masuk ke kamar.
  • Kedua, mematikan lampu kamar.
  • Ketiga, menemani anak tiduran di kasur.
  • Keempat, ibunya yang ketiduran .. anaknya keluar kamar lagi

Oalahhh.. ternyata jurus ampuh ajah ga mampu membuat anak Sensing tidur siang. Yang ada malah ibunya yang tidur siang. Klo gitu coba deh jurus yang belum dikatakan ampuh ini, namun banyak teruji hasilnya.

Kita berpegang pada informasi dasar dahulu yah. Dasarannya adalah anak Sensing baterainya besar, maka jika waktu yang ditentukan untuk tidur sudah tiba namun baterainya masih full, dijamin bakal ga mau tidur deh. Untuk itu perlu diadakan aktivitas bergerak yang menyenangkan terlebih dahulu sebelum dikondisikan untuk tidur siang.

Klo anak Sensing sudah banyak bergerak, coba deh perhatikan ketika ada waktu jeda antara kegiatan yang satu dengan yang berikutnya, anak Sensing bisa tiba-tiba hilang dari peredaran alias ketiduran karena capek. Tidurnya bisa dimana saja. Bisa pas naik ke mobil dan ga beberapa lama kemudian diajak ngobrol, eh udah tidur. Naik motor juga bisa begitu. Sedang menunggu makanan yang akan datang juga sama.

Oke, Untuk mudahnya, kira-kira beginilah tipsnya :

  1. Lakukanlah aktivitas yang berkeringat atau bergerak lebih banyak sebelum waktu tidur siang.
  2. Waktu tidur siang jangan kaku di satu waktu, misal jam 12 siang adalah waktu tidur siang, bisa disesuaikan dengan kondisi.
  3. Kenali kondisi jeda dari aktivitas yang satu ke yang berikutnya.
  4. Manfaatkan kondisi jeda tersebut, untuk merecharge baterainya anak Sensing.
  5. Saat kondisi jeda datang, arahkan ke situasi yang nyaman dan aman untuk tidur.

Selamat menidurkan yang sudah waktunya tidur yah ..
Tetaplah sabar dalam mendampingi anak-anak dan terus bersyukur atas segala anugerah yang Seruu ini.

 


Dalam sebuah seminar, seorang ayah bertanya “Apa maksudnya dengan Kunci Sukses Feeling adalah MEMIMPIN DIRI ??” Nah..Kunci sukses Feeling introvert dan Feeling extrovet akan dijabarkan pada artikel berikut.

Tipe Mesin Kecerdasan Feeling berfikir dan merasa menggunakan HATI, hati hubungannya dengan EMOSI dan PERASAAN. Mereka yang Personality Genetik Feeling introvert, akan fokus pada Kecerdasan Emosi (emotional quotient), artinya orang Feeling introvert akan fokus pada emosi yang digerakkan oleh dirinya sendiri.

Maka bilamana dia sudah mampu menggembleng dirinya, akan menjadi pribadi yang RAMAH, BIJAKSANA, PEMIMPIN SEJATI, ngangenin, kehadirannya di rindukan orang lain. Tapi bilamana dia “belum cerdas” dalam menggembleng dirinya, akan tampak pendiam, judes, kata-katanya menyengat, mudah tersinggung dan akhirnya dendam.

Mereka yang Personality Genetik Feeling extrovert, akan fokus pada Kecerdasan Sosial (Social Quotient), artinya tipe Feeling extrovert akan lebih fokus pada masalah emosi yang berhubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Maka, jika Personality Genetik Feeling extrovert yang sudah tergembleng, akan lebih senang menjadi MENTOR bagi orang lain, lebih senang menjalin persahabatan lalu MEMOTIVASI sahabatnya agar maju menjadi orang sukses, sementara, dia sendiri akan menikmati kesuksesannya di belakang layar. Untuk itu, dia tampak BIJAKSANA dan SABAR.

Namun, bila tipe Feeling extrovert belum cerdas dalam menggembleng dirinya. Yang nampak adalah dia tak disukai lingkungannya karena menebar aura negatif, senang menyalahkan, suka nyuruh-nyuruh orang, lalu gak bertanggung jawab, malas bergerak, senang dengan hasil instant.

Kunci sukses Feeling adalah MEMIMPIN DIRI nya, sebelum memimpin orang lain

Dia harus mengusahakan sekuat tenaga mengolah emosi hatinya menjadi aura positif yang menebar cinta dan kasih sayang kepada lingkungannya. Dia harus mampu mendengar dan mengolah kata menjadi motivasi dan inspirasi bagi banyak orang. Dia harus mampu menahan rasa dengki, marah, kesal, sakit hati, cemburu, dan lain-lain yang semuanya justru akan menjadi petaka baginya.

Kesimpulannya, orang Feeling, Pimpin diri untuk BIJAKSINI sehingga bisa menjadi BIJAKSANA.

Dari : misshiday
Singspirer SuksesMulia


Analisa Pilkada Jakarta Dengan Konsep STIFIn Politik ini bukan untuk jadi ajang perdebatan dan pertanyaan panjang. Jadi cukuplah sebagai bahan bacaan saja. Awalnya saya berat untuk memposting artikel ini karena masih berupa analisa yang belum terbukti faktanya.

Tapi, ketika melihat fakta yang terjadi saat ini, setelah Ahok terkena kasus Al Maidah 51, membuat saya teringat akan satu kalimat dalam analisanya Pak Farid Poniman tentang Pilkada Jakarta 2017 yaitu : jika suhu politik dinaikkan terutama oleh Ahok sendiri.

Analisa Pak Farid Poniman saya ketahui dari Group Alumni WSLP. Awalnya muncul dari pertanyaan Mis Hiday, beliau bertanya begini : GM (Grand Master) Farid Poniman, mohon pandangannya secara STIFIn Politik terhadap pencalonan Agus Harimukti.

Inilah jawaban Pak Farid Poniman yang di posting di Group Telegram Alumni WSLP pada tanggal 26 September 2016 sebelum peristiwa Ahok menista AL Qur’an di kepulauan seribu.

Analisis saya pribadi menggunakan Skema STIFIn.

Pasangan Ahok dan Djarot.

Pasangan kerja yang mengedepankan prestasi. Ahok memimpin dengan mengawal proses secara dominan. Sehingga kerangka kerjanya terlihat nyata di jangka pendek.

Pasangan Anies dan Sandiaga.

Pasangan flamboyan yang berorientasi pada soliditas organisasi. Anies mengandalkan logika dan sistem dalam mengejar targetnya. Sehingga kerangka kerjanya baru terlihat di jangka menengah.

Pasangan Agus dan Sylvi.

Merupakan pasangan yang akan kuat dalam strategi dan taktik. Agus memiliki kepemimpinan visioner, sebagai seorang tentara yang mirip seperti Prabowo. Kerangka kerjanya kuat di jangka panjang. Membawa masyarakat untuk bervisi ke depan.

Dalam keadaan normal karena lebih sesuai dengan karakter masyarakat Jakarta, akan dimenangkan oleh Pasangan Ahok dan Djarot.

Jika suhu politik dinaikkan terutama oleh Ahok sendiri, maka peluang terbesar akan dimenangkan oleh Pasangan Agus dan Sylvi.

Anies akan menang jika Islam bersatu. Dan Anies tidak memiliki kharisma ketokohan untuk mempersatukan Islam. Kecuali para ulama yang proaktif membangkitkan peralihan suara muslim dari yang kentel ke cair.

Mesin Kecerdasan masing-masing Calon Gubernur menurut analisa Pak Farid Poniman :


Tes sidik jari untuk mengenal kemampuan otak saat ini sudah banyak beredar dengan beragam nama dan metodenya masing-masing, telah menjadi alternatif pilihan baru setelah tes psikologi. Tes psikologi memang masih menjadi salah satu metode yang banyak dipilih orang. Bahkan beberapa dekade terakhir ini para ahli psikologi terus menyempurnakan tes untuk menganalisis kecerdasan dan kepribadian seseorang. Misalnya dengan tes bakat minat, tes kepribadian, grafologi, tes gambar dan sebagainya.

Tes sidik jari dapat juga digunakan untuk mengetes potensi diri seseorang. Metode ini kabarnya dapat mengungkap potensi dan karakter asli seseorang. Seperti untuk mengetahui apakah orang itu bersifat logis, baper (bawa perasaan), bagaimana kemampuan daya tangkapnya, hingga metode belajar yang cocok untuknya.

Analisis sidik jari bukanlah hal baru, karena sebenarnya sudah digunakan dalam dunia kepolisian. Istilah yang digunakan adalah daktiloskopi, yakni ilmu yang mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali identitas seseorang. Caranya dengan mengamati garis yang terdapat pada jari tangan dan telapak kaki.

Sidik jari ‘Segambar’ dengan Otak

Ilmu yang dipakai untuk menganalisis potensi berdasar sidik jari disebut dermatoglyphics. Inilah ilmu yang mempelajari pola guratan kulit atau sidik jari serta hubungannya dengan genetika tubuh manusia.

Dalam beberapa penelitian, para ahli di bidang dermatoglyphics dan kedokteran anatomi tubuh menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis. Ibarat sebuah kode khusus dalam diri manusia yang tidak bisa dihapus atau diubah. Kode ini pun sudah muncul ketika janin berusia 13-24 minggu.

Sebuah temuan oleh Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr. Stanley Cohen menyatakan bahwa faktor pertumbuhan saraf di otak memiliki hubungan yang sangat erat dengan pertumbuhan jaringan kulit. Jaringan kulit yang memiliki guratan yang sangat jelas ada pada sidik jari seseorang.

Konsep STIFIn mempolakan sidik jari manusia menjadi 5 yang merupakan fungsi dari setiap bagian otak yang ada pada manusia. Berbeda dengan Konsep lainnya yang menganut kecerdasan majemuk, STIFIn menganut Kecerdasan Tunggal. Kecerdasan tunggal adalah : kecerdasan yang mendominasi pada seseorang. Dari 5 bagian dan fungsi otak yang ada pada manusia yaitu Sensing (panca indra dan memori), Thinking (logika analisa), Intuiting (kreatif dan inovasi), Feeling (emosi) dan Insting, STIFIn meyakini hanya 1 yang mendominasi, hanya satu yang menjadi “pemimpin” dari 4 lainnya dan itulah yang disebut STIFIn dengan Mesin Kecerdasan. Untuk mengetahui Mesin Kecerdasan seseorang dilakukan dengan Tes Sidik Jari STIFIn (fingerprint test).

(dikutip dari http://nationalgeographic.co.id)


Mengatasi Dendam Mesin Kecerdasan Intuiting dengan Menghayal ala “TIME TUNNEL”

Pada sertifikat hasil Tes STIFIn Intuiting introvert disebutkan : Menghayal ala “time tunnel” seolah olah semua hal bisa terjadi. Time tunnel adalah lorong waktu, sebuah keinginan manusia untuk menciptakan mesin “lorong waktu” yang bisa membuat manusia kembali ke masa lalu, ataupun lompat ke masa yang akan datang yang belum terjadi.

Dari pengertian diatas, jika dikaitkan dengan menghayal ala “time tunnel” maka akan terdapat 2 jenis hayalan berdasarkan waktu kejadiannya :

  1. Menghayal kembali ke masa lalu yang sudah terjadi.

Misalkan, anda seminggu yang lalu berjumpa dengan gadis impian di Mall, gadis yang selama ini anda taksir di kampus. Tapi karena anda grogi, sehingga tidak bernyali untuk sekadar say hallo kepadanya. Lalu anda pun berhayal : seandainya minggu lalu itu, aku pura-pura datang dari belakangnya, dan menyenggolnya sedikit, sehingga ia menjatuhkan barang bawaannya, aku mengambil barangnya yang terjatuh, dan ia pun melakukan hal yang sama, saat itu tatapan mata kami bertemu, aku tatap matanya yang indah, senyumnya yang menawan membuatku terpana, lalu ia mengejutkanku dengan berkata “hai.. kamu feri ya..kita kan pernah satu kampus dulu.” ..* ini bukan kisah nyata yaaa..hehehe..

2. Menghayalkan kejadian yang akan datang, yang belum terjadi.

Untuk menjelaskan hal ini saya memberikan ilustrasi dengan sebuah cuplikan film Sherlock Holmes. Dalam adegan ini, Sherlock Holmes menghayalkan jurus berkelahi apa yang akan dia lakukan untuk melumpuhkan lawannya. Silahkan di tonton cuplikan singkatnya.

Ternyata kelebihan orang yang Mesin Kecerdasan Intuiting, mampu menghayalkan sesuatu seolah-olah itu telah terjadi. Mungkin hal ini yang membuat orang Intuiting cenderung NATO, No Action Talk Only, Konsep Aja tapi Tidak Action (KATA), ya wong udah terjadi (padahal masih dalam hayalan), ngapain Action, begitulah kira-kira. Tapi ternyata ada sisi positif dari kelebihan ini yang bisa kita manfaatkan untuk membalaskan dendam karena sakit hati.

Ketika disakiti orang dengan perkelahian, anda babak belur, tidak sempat membalas, karena keburu guru sekolah mengetahuinya dan mengamankan anda yang sedang berkelahi. Sampai dirumah timbul rasa ingin membalas dendam. Anda hayalkan saja,  dengan teknik berkelahi ala jagoan di film. Ya..mirip dengan Sherlock Holmes di flmnya.

Atau anda di kata-katai dengan ucapan yang Negatif. Tapi anda saat itu diam saja, tak kuasa membalas, maka balaskanlah dalam hayalan anda. Bayangkan anda kembali kemasa kejadian itu, ucapkanlah kata-kata apa yang seharusnya anda ucapkan yang dapat memuaskan anda, dan membuatnya terdiam tak mampu berkata apapun. Dan saat anda menghayalkan itu disertai dengan emosi dan degup jantung yang berdetak kencang.

Setelah hayalan itu selesai, ada akan merasa puas sudah terbalaskan, padahal baru hayalan tapi saya yakin rasa ingin membalas dendam udah mulai hilang, karena seolah olah sudah terjadi (time tunnel). Nah, jadi manfaatkan kelebihan menghayal ini untuk membalas dendam. Sehingga untuk kasus ini, ada baiknya juga kalau Intuiting itu baru sebatas NAHO,..No Action Hayalan Only, asal jangan jadi MAHO (Manusia Homo).

Jika Intuiting punya dendam, karena sakit hati. HAYALKAN saja Cara Membalasnya. Hingga dendam itu pun mereda.

Bagaimana dengan anda yang Intuiting,  Apakah mengalami hal yang sama ?

1 2 3 10