JALUR UTAMA REZEKI MU

TERMUDAH, TERBESAR, dan TERCEPAT

by @alif_ABATA

Cukup banyak orang yang mengeluhkan rezekinya kok segini-segini aja. Gak ada perubahan signifikan tambahan rezeki yang didapatkan. Tentu yang saya maksud di sini rezeki dalam bentuk harta. Salah satu sebab kenapa rezeki tidak bertambah besar dengan cepat adalah karena orang yang bersangkutan belum tahu JALUR REZEKI terbaiknya.

Maka saya ingin sampaikan disini pentingnya berada pada JALUR UTAMA REZEKI dari setiap orang. “Allah Menghendaki yang mudah buat kalian, dan Allah tidak menginginkan kesukaran buat kalian” , ini adalah kutipan terjemah dari sebagian ayat Q.S. Al Baqarah (2) : 185. JALUR UTAMA REZEKI yang saya maksud adalah JALUR REZEKI yang TERMUDAH, TERCEPAT, dan TERBESAR.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan agar kita berada pada JALUR UTAMA REZEKI kita masing-masing :

Kenali Mesin Kecerdasan

Yang pertama kenali GENETIKA TERBAIK kita yang bernama MESIN KECERDASAN. Mesin kecerdasan kita dapat diketahui dengan mengenal BELAHAN OTAK DOMINAN kita, yang sekaligus menjadi KEKUATAN UTAMA yang sudah disiapkan Allah sebagai POTENSI TERBAIK untuk kita menjalani kehidupan termasuk bagaimana mencari rezeki yang halal dan thayyib.

Profesi Sesuai Mesin Kecerdasan

Hal yang kedua adalah berusaha mencari profesi yang paling sesuai dengan Mesin Kecerdasan dalam mencari rezeki serta menjalani profesi tersebut dengan gaya yang juga selaras dengan kehebatan Mesin Kecerdasan. Profesi dalam konsep STIFIn bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah pilihan peran yang merupakan panggilan jiwa dan sekaligus menjadi sumber penghasilan.

Ketika profesi serta gaya menjalani profesi sesuai dengan Mesin Kecerdasan insyaa Allah akan memberikan kenyamanan yang sangat, sehingga bekerjanya seseorang yang dilakukan dengan nyaman dan menyenangkan, insyaa Allah akan melahirkan prestasi yang mengagumkan.
Prestasi yang besar insyaa Allah tentunya akan diikuti dengan REZEKI yang besar pula.

Miliki Energi Langit

Yang ketiga adalah melakukan percepatan dengan memiliki ENERGI TAMBAHAN yang berasal dari MARKAS ENERGI dan ENERGI LANGIT. Markas energi yang saya maksud adalah energi yang datang dari rumah, jamaah atau komunitas, serta shahabat.

Energi langit adalah energi yang datang mencerahkan ruhiyah berupa amalan wajib dan sunnah yang diajarkan oleh Allah lewat kekasih-NYA Nabi Muhammad Saw.

Tentu semua yang saya sampaikan ini adalah ILMU IKHTIYAR. Kita tak mengerti tentang taqdir yang Allah tetapkan untuk hamba-NYA. Yang jelas kita WAJIB BERUSAHA sebagaimana yang Allah sampaikan dalam Q.S. Ar-Ra’d (13):11 “…Sungguh Allah takkan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri…”.

Wallahu a’lam..


FOKUS SATU HEBAT

Bagaimana membakar kertas dengan kaca pembesar? Tambahkan sinar matahari dan pusatkan sinarnya. Maka, api akan lahir, membakar, dan memesona Anda!

Kita manusia juga seperti itu. Kertas adalah hidup. Matahari adalah potensi. Dan api adalah hasil. Tapi betapa banyak manusia yang hanya memiliki kertas, diberitahu bahwa dirinya “memiliki” matahari, tapi tak sedikit pun api yang muncul. Apa yang salah? Kenapa hal ini terjadi? Dan, bagaimana cara mengatasinya?

Semua dimulai dari kegagalan Anda untuk “fokus,” baik sebagai pribadi, orangtua, atau guru. Hidup Anda bak air yang mengalir. Tak tahu ke mana arah dan muaranya. Tak tahu cara menemukan dan mengasah potensi. Melatih diri, berjam-jam, untuk pekerjaan yang salah. Membenci karier yang tengah dijalani, bertahan belaka karena butuh uang. Memendam passion, karena dianggap tak punya masa depan.

Celakanya, Anda melakukan itu semua bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga anak-anak Anda. Murid-murid Anda. Orang-orang di sekitar Anda. Tanpa disadari, Anda telah “menggelapkan” hidup keluarga, teman, dan mereka yang terlanjur menganggap Anda sebagai rujukan.

Ah, ini tak boleh diteruskan. Harus dihentikan, saat ini juga!

Di tangan Anda, telah tertuang gagasan dan solusi hidup sukses. Karya Kang Masduki ini akan mengulas dan menarik Anda dari kubangan kestagnanan. Memandang hidup “kedua” yang terbentang di masa depan. Menjalaninya dengan semangat dan pengharapan. Sebuah pegangan dalam mendidik anak Anda atau generasi berikutnya.

Dalam Buku Fokus Satu Hebat Anda akan diberitahu tentang:
– Cara menemukan Bakat alami alias Mesin Kecerdasan
– Empat jebakan dalam mencari bakat
– Cara menemukan passion
– Kenapa Anda perlu masuk golongan 3%, bukan 97%
– Mengasah fokus dengan melenyapkan muri, mura, dan muda
– Kekuatan meniru yang dianggap keliru
– Breakdown mimpi yang “mustahil” dengan aksi yang masuk akal
– Lima cara Yang Mahakuasa mengabulkan doa

Dan pengetahuan-pengetahun lainnya. Buku yang kaya dengan insight dari inspirator-inspirator dunia dan Nusantara. Tips-tips yang ringan, tapi layak dan mudah diterapkan. Fakta-fakta menarik yang sarat hikmah dan pelajaran.

Fokus Satu Hebat. Sebagai pribadi, orang tua dan guru yang cerdas. Fokuslah pada keunggulan Anda untuk meraih hidup sukses nan mulia.


INI TENTANG HARTA

Sensing berucap : Bahagia itu kalau bisa punya duit yang banyak. Tanpa duit susah mau ngapa ngapain. Mati emang gak bawa duit, tapi sebelum mati kan butuh duit.

Insting berucap : Kebahagiaan bukanlah pada Harta. Bahagia ya Bahagia aja. Tuh banyak orang Kaya gak bahagia hidupnya. Sholatnya jadi lupa, karena sibuk nyari duit. Banyak harta nanti repot ciiiiiinn..menjawab pertanyaan malaikat di kubur.

Feeling berucap : Punya Harta kalau Gak saling mencintai untuk apa. Yang penting itu dalam Hatinya ada kita satu satunya. Gak selingkuh dan minta poligami. Banyak pasangan kaya, tuh artis kurang apa duitnya, cerai juga. Karena telah hilang rasa cinta mereka. Yang penting Hati bukan Harta, ini mirip lagunya.. Kun Anta Tazdada Jamala – Humood AlKhudher.

Thinking berucap : Jabatan tinggi akan mendatangkan penghasilan yang banyak. Duit banyak tidak dipandang dan dihormati orang kalau kita tidak punya pangkat dan jabatan.

Intuiting berucap : Harta bisa habis. Tapi Ilmu bisa menjaga Harta. Cari ilmu dulu, nanti duit akan datang sendiri. Orang berilmu itu lebih tinggi posisinya di mata Allah dari pada orang ber Harta.

Hmm..kebayangkan

Betapa “serunya” rumah tangga, ketika kita memiliki Mesin Kecerdasan yang berbeda dengan pasangan saat berbicara tentang Harta, Tahta, Kata (Ilmu), Cinta dan Bahagia. Hal seperti ini aja, masalah beda pendapat tentang Harta, Tahta, Kata (Ilmu), Cinta, Bahagia, jika masing-masing tidak mampu memposisikan “makanats” (artinya keberadaan, dalam STIFIn disebut Mesin Kecerdasan) pasangannya. Bisa “barabe” (hancur) tuh rumah tangga.

Kalau gitu bagus donk, kalau Mesin Kecerdasan saya sama dengan pasangan ?..nah..klo hal ini lain lagi babnya bro and bri…karena tidak selamanya yang sama itu bagus, coba laki-laki sama laki-laki nikah, bagus tidaaak.. ?

Tips Memilih Jodoh

Tips selingan : Jika ingin menikah, carilah perbedaan, jangan cari yang banyak kesamaan sifatnya. Biasanya, karena merasa banyak kesamaan sifat, disangka pasangan cocok ideal. Padahal kutub magnet yang sama, mereka jadi gak akur, tuh buktinya tolak tolakan. Begitu kutubnya beda, jadi akur dan saling mendekat berpelukan, nempel gak mau lepas. Ternyata kutub magnet lebih smart dari kaum LGBT.

Perbedaan Adalah Sunnatullah Untuk Menjadi Akur

Nah, kalau kutub magnet yang berbeda aja bisa akur, saling mendekat dan berpelukan, masa iya..kita sama pasangan yang berbeda sifat, malah menjadi tolak tolakan. Berarti SunnatullahNya, perbedaan itu menjadikan kita akur. Tapi, faktanya keributan yang ada dirumah tangga,  justru dikarenakan adanya perbedaan  pandangan dan pengalaman hidup, pendapat dan persepsi.

Perbedaan itu terjadi karena beda Mesin Kecerdasannya. Mesin Kecerdasan itu adalah salah satu dari 5 bagian otak manusia yang paling dominan, yang paling aktif bekerja selama 24 jam/hari mengendalikan manusia. Otak Dominan tersebut menghasilkan output dalam bentuk Pandangan Hidup, Persepsi, Pendapat, Ucapan, Sikap dan Prilaku serta Prioritas Hidup yang berbeda satu sama lainnya.

Untuk itulah Konsep STIFIn yang ditemukan oleh guru kami ayah Farid Poniman, hadir sebagai Konsep yang  membuat kita menjadi lebih mudah memahami perbedaan, tidak memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain. Sehingga menjadi dasar untuk lebih mudah menghormati, memahami sikap dan tindakan, serta pilihan dan pandangan hidup pasangan kita ataupun orang lain.

Dulu sebelum kenal STIFIn, saya selalu memaksa teman yang saya kenal, agar berwirausaha kalau dia memilih profesi PNS atau Karyawan, maaf ya teman-teman yang PNS. Tapi, Sejak kenal STIFIn saya sekarang bisa jalan normal lagi, tulang punggung tidak sakit lagi dan pusing dikepala hilang…loh..kok jadi klinik Tong Fang. Setelah mengenal Konsep STIFIn saya jadi sadar, ternyata saya tidak bisa memaksakan semua orang untuk memilih jalan hidup yang sama dengan saya.

Ini ada cerita fiktif :

Intuiting berkata : Ilmu itu lebih penting dari duit. Si Intuiting ini selalu fokus nyari ilmu, baru dapatkan duit dengan ilmunya.

Sensing berkata : Gak ada duit, mana bisa menuntut ilmu, bayar seminar dan pelatihan. Sensing berpendapat cari duit dulu baru Ilmu.

Untungnya si Sensing, gak seperti itu, dulu dia manut aja (karena ditaklukkan sama Intuiting kali ya.), lagi susah susahnya duit, karena si Intuiting mau Tobat Profesi, dari Pemilik Usaha Warnet dan Jasa Service Komputer, ingin putar haluan jadi Trainer. Jadi si Intuiting ini udah tobat profesi duluan, sebelum kenal istilah Tobat Profesi dari STIFIn.

Intuiting ngomong ke Sensing, eh kita ada duit gak ya, mau ikut seminar ini nih. Pas pula Sensing lagi ngefans sama Kek Jamil Azzaini, jadi jebollah proposal untuk pergi ke Jakarta buat Wanna Be Trainer Batch 12, disana dikenalin dengan STIFIn dan berlanjut beberapa kali Workshop STIFIn. Sampe-sampe kita ngutang waktu itu untuk WSL3 yang nilainya 12 juta. Ups….

Tapi, sekarang..dia bilang..
Untung ya..ayah dulu ikut yang gituan..
Bisa ketemu dunia baru yang berbeda, komunitas baru.

Yaa..untung kamu juga dulu manut aja..
Trus dijawab.. Namanya awak patuh sama suami. Ciee cieee..cuit cuiiiit

Coba bayangin, kalau kejadiannya tidak Happy Ending seperti itu, tapi seperti ini :

Apa yah..uang kita terbatas, pengeluaran banyak, pemasukan minim, ini mau pergi seminar WBT, “Wanna Be Bokek” itu namanya, ngabisin duit aja. Emang bisa dapat duit langsung setelah pulang dari seminar, gak kan ?..Gak..gak gak..gak bisa ayah pergi seminar..dari mana duitnya, duit kita gak ada.

Lalu, dijawab enteng sama Intuiting, yang anti kemapanan..”Dari Allah” duitnya.

Sensing langsung jawab, emang bisa duit itu turun gitu aja dari langit kayak Allah nurunin hujan tanpa kerja keras. (ini bahasa emak saya dulu, ternyata setelah saya Tes STIFIn, Sensing hasilnya, hehe..)

Kalau saya terusin bisa panjang nih..daya hayal saya dalam mengarang bisa gak habis..Mau bacanya..sampe habis.. 🙂

Jadi Intinya..

Kenali Mesin Kecerdasan pasangan :

1. Agar kita lebih mudah menerima, memahami dan bersungguh sungguh mewujudkan apa yang menjadi Prioritas Hidupnya, menerima sikap dan cara berpikirnya.

2. Agar kita tidak Ego Sendiri, ingin prioritas hidup kita sendiri yang dipenuhi, sikap kita sendiri yang ditenggang rasai dan ingin dimengertii, tanpa memikirkan kalau pasangan punya prioritas yang berbeda, sikap dan cara pandang yang berbeda yang butuh juga dimengertii.

3. Saya kan Sensing kata istrinya, kamu harus ngerti donk, cari duit yang banyak sono. Ini juga sikap yang gak benar, namanya bersembunyi dibalik STIFIn. Pasangan anda pasti mengerti tanpa perlu anda ngomong begitu, jika dia udah mengenal Konsep STIFIn, jadi buruan di kenalin dengan mengikuti Workshop STIFIn.

4. Saya kan Feeling, hanya bisa memberikan Cinta, jadi jangan harapkan Harta. Ini namanya menjadikan STIFIn sebagai alasan pembenaran dari kelemahan diri karena tidak mau dan mampu berupaya mencari harta.

“Bagi saya yang penting kita Bahagia kata istri Insting, hidup pas pasan tidak masalah, asalkan kita bahagia. Kata suaminya yang Sensing. Yaaa gak gitu juga keless, emang bisa beli beras pake mata uang Bahagia, haji koim itu walaupun udah haji, kalau berasnya di beli tetap pake Rupiah”

“Bagi Saya Feeling, yang pentingkan saya mencintai kamu, sayang kamu, sepenuh hatiku milik kamu, kalau kamu mau Harta yang banyak, yaa..jangan berharap sama saya donk, saya kan feeling hanya bisa memberikan cinta dan kasih sayang. Kalau mau harta, sono tuh nikah sama Datuk Maringgih.

Jadi baiknya..

Okey, saya buat kamu Bahagia selalu dirumah dan dimanapun kita bersama berada..Tapi kamu buat saya bahagia dengan penghasilan yang banyak ya, kata Sensing pada Insting.

Okey, sekarang kamu nuntut ilmu yang banyak, nanti dengan itu hasilkan uang yang banyak ya, kata Sensing pada Intuiting (ini kata istri saya).

Okey, saya berikan kamu Cinta, dengan itu kamu harus semangat ya, pantang menyerah mencari nafkah yang banyak untuk keluarga kita, agar kita bisa beli rumah dan mobil sendiri. Kata Sensing pada Feeling.

Okey, saya berikan kamu kesempatan berkarir sampai jabatan tertinggi, saya bertanggung jawab dirumah, tapi hasilkan duit yang banyak ya, tanpa korupsi, ingat tanpa korupsi. Kata Sensing pada Thinking

Sensing kepada Sensing gimana..
Nah..ini bab nya beda bro…hehe..

Sekian dulu dari
STIFInspirator
——

NB. Mohon di koreksi jika ada yang salah..via Japri.


Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu?
Bagiku STIFIn adalah :
STIFIn Sebagai Pembuka Jalan Spiritual

Jalan untuk mengenali diri sendiri. Jalan untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenali diri sendiri. Para ulama sering berkata: من عرف نفسه فقد عرف ربه. Walaupun dari sisi ilmu tasawuf, mengenal diri sendiri bisa menyentuh sisi lain lebih dari yang dijabarkan STIFIn. Namun STIFIn telah menjadi pondasi untuk langkah selanjutnya.

STIFIn Memudahkan Kita Mengenali Orang Lain

Sebagai jalan untuk mengenali orang lain. Tanpa perlu menertawakan yang berbeda dengan kita, tanpa perlu menghakimi pilihan peran yang berbeda dengan plihan kita. Alih alih melakukan hal demikian lebih baik saling menerima.

STIFIn Mempolakan Kebaikan Setiap Mesin Kecerdasan

Tentang kebaikan, orang akan berbeda-beda. Kebaikan bagi Sensing adalah adalah harta yang banyak, bagi Thingking adalah Tahta, bagi Intuiting adalah Ilmu, bagi Feeling adalah Cinta, dan bagi Insting adalah Kebahagiaan. Begitulah adanya, jika Intuiting menganggap yang terpenting adalah Konsep, maka Thingking menganggap yang terpenting adalah SOP, maka Sensing menganggap yang penting Kerja. Feeling meneropong Visi, akhirnya Insting selalu Menjaga Keseimbangan.

STIFIn Menciptakan Kenyamanan

Pekerjaan itu tidak harus dengan uang sebagai target ujungnya, lebih dari itu, kenyamanan mengalahkan semuanya. Kenyamanan masing-masing Mesin Kecerdasan tidak akan pernah sama dengan Mesin Kecerdasan lainnya dalam bekerja. Oleh karena itu memaksakan dengan mengukur diri sendiri adalah kefatalan. Setiap orang punya ukuran tersendiri sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.

STIFIn Mencegah Ke Angkuhan Diri

Dimana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Bahkan kelebihan itu suatu waktu bahkan akan menjadi kelemahan di waktu yang lain. Saya bertemu dengan guru sufi baru-baru ini, dari Tareqat tertentu. Di pertemuan itu saya menceritakan soal STIFIn, dia tersenyum lalu berujar, “jadi kalau begitu, apa yang memaksamu untuk terus angkuh dengan apa yang engkau miliki. Engkau ingin pamer harta kepada Insting padahal baginya adalah kebahagiaan yang utama? Engkau ingin pamer tahta kepada Intuiting, padahal dunia baginya dalam pandanganmu terlalu sempit. Ia punya dunia lain yang ia ciptakan sendiri yang luasnya tak terjangkau olehmu, di sana ia bahkan menjadi raja. Bagaimana mungkin Intuiting harus berbangga dengan ilmunya kepada Sensing? Begitu seterusnya….”

STIFIn Mengenali Jalan Syurga Anda

Jalan surga setiap orang memang berbeda beda, sesuai dengan makanatnya, lanjut guru Sufi tersebut. Maka jangan pernah berburuk sangka jika menyaksikan orang yang terburu buru menyelesaikan shalatnya, setelah salam ia langsung bergegas keluar dari masjid. Boleh jadi ia lagi mengurusi keluarganya yang sakit, atau anaknya yang menanti kehadirannya di sisinya. Sebab jalan surga tidak harus melewati dzikir dan doa, tapi menafkahi keluarga juga adalah jalan surga. Yang ahli dzikir jangan lagi berbangga dengan dzikirnya, yang ahli sedekah jangan lagi berbangga dengan sedekahnya, yang ustadz ahli ilmu gak lagi bangga dengan ilmunya.

Para sahabat Rasulullahpun tidak masuk surga dengan jalan yang sama. Bukankah Bilal terdengar terompahnya di surga karena wudhunya, bukankah Uwais al Qarni dijamin oleh Rasulullah di surga sebab berbakti pada ibunya, padahal di saat yang sama kumandang jihad sedang berjalan.

STIFIn Mengelola Perbedaan

Akhirnya, STIFIn adalah seni mengelolah perbedaan. Banyak lagi perbincangan kami… tak bisa disebutkan semuanya di sini. Terima kasih untuk gurunda kami Farid Poniman atas ilmu STIFIn ini. Semoga akan banyak manusia yang tercerahkan.

 Oleh : Bapak Wahyudin.


JANGAN JADIKAN “STIFIn” SEBAGAI PEMBENARAN ATAS KEKURANGAN DIRI

Beberapa tahun terakhir ini saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu pengembangan diri yang disebut STIFIn. Perkenalan pertama kali saya dengan STIFIn ketika mengikuti TFT 1 Pak Jamil Azzaini di Jogja tahun 2009 adalah salah satu lembaran penting dalam kehidupan saya. Kemudian saya merasa “gue banget”, menemukan “missing puzzle” dalam kehidupan, dan merasa lebih mudah untuk menemukan jalur terbaik kehidupan. Yang membuat saya yakin untuk banting setir dari dunia desain bangunan menjadi (bergeser sedikit) ke dunia desain kehidupan. (Beda tipis kan? Hehehe.)

Seiring dengan perjalanan waktu, selain ilmu yang semakin luas saya dapatkan, saya pun berkenalan dengan banyak teman baru, yang sebagian besar diantaranya bahkan telah menjadi seperti saudara dengan hubungan yang sangat dekat. (Tapi sayangnya kok nggak ada yang jadi istri ya? ‪#‎eh‬ ‪#‎kode‬.)

Beberapa hari lalu menjadi hari yang istimewa ketika ketemu dan terlibat “perbincangan seru dengan seorang sahabat lama”. Artinya : sudah kenal lama, sudah seperti sahabat, tapi berbincang ya baru kemarin itu. Seru kan?

Dan siang itu saya merasa dihajar habis-habisan terutama ketika sahabat saya itu cerita betapa “seru”-nya status-status saya di facebook, terutama pada musim pilpres beberapa waktu lalu. Sambil beliau menyampaikan pendapatnya, seolah di depan saya berkelebat berbagai penjelasan Pak Farid Poniman tentang Karakter Mesin Kecerdasan Insting. Semuanya “Gue Banget”! Cuma sayangnya “gue banget” yang versi negatif. Hahahaha. Betapa saya sangat responsif, temperamental, dan di saat yang sama juga on-off nya sangat tinggi. Habis ngamuk-ngamuk tetiba becanda, eh setelah ketawa-ketawa kemudian emosi lagi. Trus habis itu nyesel. Tapi besoknya terulang lagi. Parah dah. Hahaha.

Setelah ketawa-ketawa dengerin cerita beliau, tetiba saya tertohok oleh sebuah fakta : lho, saya udah belajar STIFIn sejak 2009 tapi ternyata masih begitu-begitu aja perilaku saya ya? Masih Insting banget versi on the spot eh versi negatifnya ya? Masih belum bisa move on dari Level Personality. Padahal level Personality adalah level terendah. Sangat jauh dari gambaran terbaik seorang Insting. Aduh.

Maka pada saat itu saya ber istighfar dan kemudian dalam hati berterima kasih kepada sahabat saya ini. Yang mengibaratkan dirinya sebagai seseorang yang berada di “teras rumah STIFIn”. Yang pernah masuk ke dalam rumah STIFIn tapi kemudian merasa lebih nyaman duduk menyendiri di teras dibanding ngobrol berinteraksi di dalam rumah. Tapi juga tidak seperti sebagian yang lain, yang meninggalkan rumah STIFIn dengan penuh kekecewaan atau bahkan kemarahan.

Beliau bercerita bahwa potret seperti saya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak potret-potret para peggiat STIFIn. Siapakah pegiat STIFIn itu? Yaitu mereka yang aktif mengkampanyekan STIFIn. Serunya, beliau menyatakan bahwa potret-potret tersebut menggambarkan hal yang sama. Yaitu masih di Level Personality. Yang menggambarkan setiap Mesin Kecerdasan dengan semua kutub positif dan negatifnya.

Yang gampang banget ngomong :

“ya kan saya Thinking, emang susah lah terima pendapat orang lain.”
Sensing kan gitu. Saya nggak bisa ngerjain kalo ga ada contohnya.”
“Lebay gpp lah. Secara aku Feeling gitu loohh…”
“Emang susah ngikutin aturan kalo Intuiting kayak saya gini.”
“Bawaan Insting kali ya? Jadi emang saya ngga bisa fokus.”

…dan beliau menyampaikan ketidak nyamanannya berinteraksi dengan orang-orang seperti itu (salah satunya : Saya!). Yang belajar banyak tentang STIFIn namun kemudian hanya untuk mendapatkan pembenaran atas kekurangannya. Yang seru membahas kelemahan masing-masing namun hanya sebagai lucu-lucuan, tanpa adanya satu aksi konkret untuk memperbaiki diri.

Deg! Seolah jantung berhenti mendengar cerita beliau. Terutama karena saya saat ini sedang mendapat tugas untuk mengelola STIFIn Institute, yang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarluaskan STIFIn ke seluruh Indonesia. Maka kemudian saya kembali ber istighfar, memohon ampun kepada Allah atas sering hadirnya perasaan merasa sudah hebat. Merasa sudah banyak paham tentang STIFIn. Ternyata tentang diri saya pun saya belum paham. Dan ternyata saya belum praktekkan. Kalo dilihat dari Taksonomi Bloom, ternyata saya baru sebatas ingat atau hafal saja. Masih jauh dari menerapkan, menganalisa, dst. Saya lebih sering merasa hebat dibandingkan menjadi hebat.

Alhamdulilah, Allah masih sayang sama saya. Masih bersedia mengirimkan seseorang untuk menampar saya. (Cuma kenapa namparnya kuenceng banget, ya Allah… hehehe…)

Bismillah, memulai hari dan memulai minggu dengan niat untuk menjadi seorang Insting yang selalu berusaha untuk menaikkan level kepribadian saya. Menjadi seorang Insting yang sederhana, berfokus pada kepentingan yang lebih besar, mementingkan orang lain, cepat tuntas, merangkul potensi-potensi yang ada, mempermudah, memperlancar, tidak membebani, mengalir, pragmatis berdaya guna, dan berperan aktif dalam program kemanusiaan. Semoga Allah mudahkan langkah kaki dan upaya saya serta sahabat-sahabat  saya para pegiat STIFIn untuk menjadi hebat. Aamiinn.

Sumber Catatatn Andhika Harya
Direktur Eksekutif STIFIn Institute

Dari Judul aslinya : Menjadi Hebat atau Merasa Hebat


Sirkulasi STIFIn Mengalahkan

Dalam Konsep STIFIn ada Teori Sirkulasi STIFIn, Mengalahkan/Menaklukkan dan Mendukung, bisa lihat pada Gambar diatas.

Seperti apa aplikasinya pada berbagai Profesi yang dijalani oleh Setiap Mesin Kecerdasan bisa kita pahami dengan penjelasan singkat berikut :

1. Seorang pengusaha Intuiting, yang memiliki Bisnis jika tidak termanajeman dengan baik, akan dikalahkan dengan Pengusaha lainnya, yang memiliki Bisnis dengan manajeman yang OK. Sirkulasi STIFIn  : T mengalahkan I, atau I dikalahkan T

2. Manager yang mengatur Sumber Daya Manusia (SDM) tidak menggunakan Bahasa Hati, akan di kalahkan dengan Manager yang menggunakan Bahasa Hati. Sirkulasi STIFIn : T dikalahkan F

3. Pemimpin yang lambat beraksi mewujudkan visinya, akan dikalahkan oleh Pemimpin yang beraksi Cepat. Sirkulasi STIFIn : F dikalahkan In

4. Orang Rajin yang tidak punya dream (berpikir jangka panjang), akan dikalahkan sama orang rajin yang memiliki Dream. Sirkulasi STIFIn : S dikalahkan I. Berapa banyak kita dengar cerita seorang Artis (Sensing) yang ketika masih jaya sebagai artis, tidak memikirkan persiapan jangka panjang/investasi, hidup dihari tuanya dalam keadaan miskin. Sebab tenaga dan fisiknya tidak lagi mampu dijadikan sebagai “modal” menjemput rezeki.

5. Orang yang cepat action, akan dikalahkan oleh orang yang actionnya terencana dan tuntas.  Sirkulasi STIFIn : In dikalahkan S. Orang Insting kecenderungannya beraksi secara spontan, tanpa ada perencanaan terstruktur, sebagaimana orang Sensing yang memiliki rencana dalam setiap aktifitasnya.


LGBT BUKAN GANGGUAN KEJIWAAN

Tapi mengapa sebagian orang mengatakan LGBT (Lesby Gay Bisexual Transgender) merupakan gangguan kejiwaan

Sebagian lagi mengatakan LGBT adalah normal. Yap..bener. Jika anda berpedoman pada “kitab” DSM, LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan.

APA ITU DSM ?

Kalau BSM saya tau.. Belum Siap Mandi, hehe..kalau gitu DSM, Dah Siap Mandi..Haha.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) adalah “kitab” yang berisi klasifikasi standar gangguan mental pada manusia yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

DSM telah digunakan oleh profesional kesehatan mental di Amerika Serikat, dan selama ini telah dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

DSM digunakan di Amerika Serikat dan dalam derajat yang bervariasi telah digunakan di seluruh dunia, oleh dokter, peneliti, lembaga regulasi obat, psikiatri, perusahaan asuransi, kesehatan, perusahaan farmasi, dan pembuat kebijakan (pemerintah).

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Mari sedikit kita cermati dari sejarah perjalanan DSM itu sendiri. Dimana jumlah ketegori gangguan jiwa pada DSM berubah terus. Waktu pertama kali dipublikasikan oleh ApA tahun 1952 (versi I), hanya ada 106 jenis gangguan jiwa, pada edisi 1968 (DSM II) bertambah menjadi 185, tahun 1974 (DSM III) bertambah lagi: 265, tahun 1994 DSM IV: 365. Sebelum jadi DSM V yang sekarang, DSM IV pernah direvisi menjadi DSM IV/TR pada tahun 2000), yang jumlahnya bertambah terus.

Apa dasar untuk menambah dan juga mengurangi, tidak ada alasan yang jelas. Spekulasi yang berkembang adalah adanya unsur politk dalam penentuan penyakit-penyakit jiwa, misalnya ketika GAY dihapus dari DSM III 1974, banyak pengurus ApA yang gay.

Hal inilah yang membuat DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

Tahukah anda, Lima dari tujuh orang tim APA task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT

APA task force member terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual).

Karena itu, dengan informasi ini, kita berharap para psikolog dan psikiatri Indonesia tidak berkiblat pada DSM, terutama para psikolog dan psikiatri Islam yang landasannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak ada perubahan hingga akhir zaman. Dan juga bukan Buatan Akal Manusia.

Dikutip dari berbagai sumber..

Masihkah anda berkiblat pada DSM ?


Menghafal Al Quran dengan metode STIFIn kutip dari Penemu STIFIn Bapak Farid Poniman dengan Menggunakan Formula 15

Gunakan ‘Formula 15’

Oleh: Farid Poniman (Penemu Konsep STIFIn)

Menghafal Al Quran Gaya SENSING

  • 5x baca rekam (perbendaharaan kata),
  • 5x hafal sambil menandai (warna dan letak),
  • 5x pengendapan tanpa lihat (letak sudah tercetak)

Baca sebanyak 5x sekaligus di rekam dalam memori. Bacanya sambil ngelihat tulisan. Ini bertujuan untuk menambah perbendaharaan kata. Setelah baca 5x dengan melihat tulisannya, lanjutin baca 5x dengan gaya belajarnya Sensing, yaitu dengan menunjuk tulisan sambil membacanya, menandai letaknya, atau memberi warna tulisannya. Terakhir baca 5x dengan menutup tulisan/Al Qur’an. Tujuannya agar perbendaharaan kata yang sudah masuk ke dalam memori semakin mengendap dalam ingatan orang Sensing. Letak huruf atau bacaan pastu sudah tercetak dalam memorinya.

Menghafal Al Quran  Gaya THINKING

  • 5x baca rekam (nomor, awal, dan akhir ayat),
  • 5x strukturkan dan sambungkan,
  • 5x pengendapan tanpa lihat (kerangka sambungan sudah jadi)

Baca 5x dengan melihat tulisan. Rekam nomor ayat, awal dan akhir ayat. Lalu, baca 5x sambil menemukan struktur bacaan, pola kata, kalimat, lalu sambungkan. Setelah itu baca lagi 5x dengan menutup Al Qur’an, dibagian ini kerangka sambungan udah jadi.

Menghafal Al Quran Gaya INTUITING

sebelum baca, diterjemahkan, dipolakan;

  • 5x baca rekam (sebagai kalimat),
  • 5x hafal dikaitkan cerita serta visual tangan atau muka,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil mengekspresikan pesan.

Sebelum baca ayat Al Qur’an, baca terlebih dahulu terjemahannya, kemudian polakan. Baca 5x, rekam sebagai kalimat. Kemudian, baca ayatnya 5x (dihafal), lalu dikaitkan dengan cerita yang disertai visual tangan atau muka. Terakhir, baca 5x dengan menutup Al Qur’an sambil mengekspresikan pesan.

Menghafal Al Quran Gaya FEELING

  • 5x baca rekam (hidupkan tokoh),
  • 5x murajaah (cari pantulan),
  • 5x pengendapan tanpa lihat sambil penghayatan tokoh.

Baca 5x, baca, rekam, dan hidupkan tokoh. Lalu, baca 5x. Terakhir, baca 5x untuk pengendapan tanpa melihat Al Qur’an tapi sambil penghayatan tokoh.

Menghafal Al Quran Gaya INSTING

  • 5x baca pake murattal (rekam keindahan nada),
  • 5x rekam kaitkandengan cengkok nada,
  • 5x pengendapan tanpa lihat sesuai murattal.

Baca 5x sambil dengarkan murattalnya , rekam keindahan nadanya. Lalu, baca 5x sambil mengaitkannya dengan cengkok nada. Baca 5x dihafal dengan menutup AL Qur’an dan sesuaikan dengan murattal.


Video iklan yang berasal dari Thailand ini bisa menjadi pelajaran bagi orang tua yang memiliki anak dengan Mesin Kecerdasan Sensing atau anda yang memiliki Mesin Kecerdasan Sensing. Anak Sensing memiliki potensi menjadi Pedagang. Karena Sensing memiliki 3 potensi kehebatan, yakni : Memori, Panca Indra dan Fisik yang tiada mudah letih dan kuat.

Dengan panca indranya ia menjadi anak yang hebat dalam mencontoh, tukang tiru. Ketika sang anak dalam video ini tidak tahu cara memotong nenas, sang ibu tampil dengan memberi contoh. Sensing dengan panca indra matanya melihat contoh dari ibunya langsung kerekam ke memorynya dan dia praktekkan langsung dalam memotong nenas.

Dengan panca indranya dia melihat penjual es krim, sang ibu melihat dan membuatkannya es krim dari nenas. Karena pernah melihat penjual es, si anak Sensing lalu kepikiran untuk menjualnya, meniru menjadi pedagang es. Dijuallah sama anaknya kepasar, tapi ternyata tidak menghasilkan pembeli. Es nya tidak laku. Ia mengadu pada ibunya, nah si ibu menyarankan agar si anak melihat bagaimana cara pedagang di pasar dalam berjualan.

Sensing dengan kehebatan panca indra dan memorinya mampu merekam setiap kejadian yang ia lihat dan ia dengar, dengan fisiknya ia tanpa letih mampu berkeliling pasar mengumpulkan informasi, bagaimana caranya berjualan. Dengan hal inilah ia mendapatkan cara berjualan yang benar.


Oleh: @Jonru – Jonru Ginting, Penulis Buku “Saya Tobat”

Jika anak Anda jadi juara kelas, pasti sangat bangga, bukan? Tapi bagaimana jika tidak juara? Bahkan 10 besar pun tak masuk. Gimana, dong?

Banyak orang tua yang terlalu “mendewa-dewakan” rangking sekolah anaknya. Mereka pun mendorong (bahkan sering memaksa) agar anaknya dapat rangking di sekolah.

Jika tidak dapat rangking, si anak disalahkan, hobinya disalahkan, pergaulannya disalahkan, sekolahnya disalahkan. Bahkan anak disebut bodoh, tak punya masa depan karena tak bisa jadi juara.

Duhai Teman!
Dulu sejak SD hingga tamat SMA, saya juga langganan juara satu. Bahkan nilai saya pernah tertinggi sekotamadya Binjai.

Namun saat ini, saya merasakan bahwa rangking atau juara tersebut TIDAK terlalu berpengaruh terhadap kehidupan saya selama ini. Memang sih ada pengaruhnya sedikit (misalnya saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri karena nilai saya lumayan bagus). Tapi ya hanya sesedikit itu.

FAKTA juga membuktikan bahwa TAK ADA JAMINAN bahwa anak yang dapat rangking punya masa depan yang lebih baik. Banyak teman sekolah saya dulu, yang rangkingnya jauh di bawah saya, tapi hidup mereka sekarang jauh lebih sukses.

Jadi, Anda masih “mendewa-dewakan” rangking?

Saya buka ahli parenting, tapi alhamdulillah saya sudah belajar banyak tentang pendidikan anak, bahwa yang paling penting bagi seorang anak BUKAN menjadi juara kelas.

Yang paling penting adalah:
Kita mendidik mereka sesuai karakter khas dan potensi terbesar mereka, bekali dengan iman dan taqwa sehingga mereka nantinya menjadi anak yang SUKSES, MULIA, dan GUE BANGET.

Apa artinya?

Begini:

1. SUKSES itu urusan dunia. Misalnya menjadi kaya, punya jabatan, jadi tokoh populer, dan sebagainya.

2. MULIA adalah urusan dunia dan akhirat. Si anak menjadi anak yang berguna bagi umat, beriman dan bertakwa, berakhlak baik, dan di akhirat nanti dia masuk surga, bersama kita tentu saja. Aamiin… Itulah harapan semua orang tua, bukan?

3. GUE BANGET. Anak kita bukan hanya berprofesi di bidang yang gajinya besar, yang hidupnya mewah, dan seterusnya. Untuk apa itu semua jika kita TIDAK BAHAGIA. Untuk apa itu semua jika kita tidak suka pada pekerjaan yang dilakoni?

Alangkah indahnya jika semua orang – termasuk kita dan anak-anak kita – bisa berprofesi di bidang yang PALING GUE BANGET.

Dibayar untuk bersenang-senang. Pasti ini adalah impian semua orang!

* * *

Jadi daripada sibuk ngurusin rangking sekolah, seharusnya kita lebih fokus mendidik anak sesuai dengan karakter dan potensi terbesar mereka. Didik mereka agar menjadi insan yang SUKSES MULIA dan hidup GUE BANGET.

Untuk mewujudkan impian seperti itu, kita bisa memulainya dengan mengenali minat, bakat dan potensi terbesar seorang anak. Maka saran saya, lakukanlah TES SIDIK JARI di ‪#‎STIFIn‬

Sumber Fanspage Jonru