Lalu kenapa disebut aplikatif? Jawabannya: konsep STIFIn bercirikan multy-angle field yang kurang lebih artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan bidang apa saja. STIFIn dapat diaplikasikan pada bidang learning, profession, parenting, couple, politic, human resources, dan bidang-bidang lainnya. Kenapa pasangan suami istri tidak harmonis? Kenapa Pak JK kalah dalam pemilu presiden? Kita dapat memakai STIFin sebagai pisau untuk membedah dua pertanyaan itu. Tidak itu saja. STIFIn sudah menyiapkan modul-modul training secara tematik dari masing-masing topik tadi. Ketika konsep lain masih berkutat pada masalah-masalah umum, STIFIn sudah jauh di depan dengan menyiapkan training untuk masalah spesifik.

STIFIn bukan ramalan

Konsepnya dibangun berdasarkaan teori-teori para ahli di bidangnya yang kemudian dielaborasi. Terdapat tiga terori yang menjadi dasar pijakan konsep STIFIn, masing-masing:

  • Teori Fungsi Dasar dari perintis psikologi analitik berkebangsaan Swiss bernama Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa terdapat empat fungsi dasar manusia yakni fungsi pengindraan (sensing), fungsi berpikir (thinking), fungsi merasa (feeling), dan fungsi intuisi (intuition). Dari empat fungsi dasar itu, hanya salah
    satu diantaranya ada yang dominan.
  • Teori Belahan Otak dari seorang neurosaintis Ned Hermann yang membagi otak menjadi empat kuadran yakni limbik kiri dan kanan, serta cerebral kiri dan kanan.
  • Teori Strata Otak Triune (tiga kepala menyatu) dari neurosaintis lain yang berkebangsaan Amerika, Paul MacLean yang membagi otak manusia berdasarkan hasil evolusinya: otak insani, mamalia, dan reptilia.

Di atas segalanya, perlu digarisbawahi, konsep STIFIn bukan sekedar mengubah dari 3 kotak (MacLean) menjadi 4 kotak (Jung dan Hermann) kemudian menambahkan satu lagi kotak menjadi 5 (STIFIn). Jika hanya begitu adanya, STIFIn tidak lebih dari hanya
sebuah rangkuman dan berhenti di situ. Fakta bahwa STIFIn bisa menjelaskan banyak hal, membuktikan bahwa konsep ini memiliki hal-hal baru hasil sintesa.

STIFIn memiliki hal-hal berikut ini:

  1. Teori menyilang sebagai superior dan inferior dalam satu paket,
  2. Teori irisan persamaan (diantara kutub perbedaan pada kuadran dan diagonal)
  3. Teori hubungan sosial segi lima yang unik dan logis (kami menyebutnya dengan Teori Sirkulasi STIFIn),
  4. Teori keselarasan metabolisme tubuh berdasarkan mesin kecerdasannya,
  5. Teori kalibrasi berdasarkan mesin kecerdasannya,
  6. Teori genetika sesuai mesin kecerdasannya,
  7. Teori strata genetik mulai dari Mesin Kecerdasan-Drive Kecerdasan-Kapasitas Hardware-Golongan Darah.

Kelak di kemudian hari, berpeluang muncul banyak teoriteori lain, sekadar untuk menunjukkan betapa universalnya konsep STIFIn. Ini bisa dibilang teori palugada, apa lu mau gua ada.


Lantas kenapa konsep STIFIn disebut akurat? Semua itu karena STIFIn menguraikan cara kerja otak berdasarkan sistem operasinya, bukan kapasitas hardware-nya. Bayangkanlah satu komputer. Ok sudah? Yang dimaksud hardware adalah perangkat keras, sedangkan sistem operasi adalah yang berfungsi menghubungkan antara perangkat keras dengan aplikasi, seperti Microsoft Windows, Linux, Android, dan Macintosh.

Nah, IQ itu adalah perangkat keras. Dengan demikian, mengukur IQ sama dengan mengukur kapasitas hardware. Makanya jika Anda tidak punya uang untuk melakukan
tes IQ, tidak usah sedih, tinggal cari meteran, lalu ukur lingkar kepala, meski ini sangat kasar, tetapi kapasitas otak bisa diketahui. Kalau hasil pengukuran lingkar kepala Anda 60 cm, itu artinya IQ Anda kurang lebih 110. Mengapa dibilang sangat kasar karena dengan mengukur lingkar kepala semata-mata mengukur volume sel otak, sedangkan
jumlah sambungan denrit antar sel otak tidak diperhitungkan. Berbeda dengan konsep yang lain, STIFIn menggunakan sistem operasi yang berbicara tentang jenis watak kecerdasan. Tiap jenis kecerdasan punya wataknya sendiri-sendiri. Jenis watak kecerdasan itulah yang kemudian disebut sebagai Mesin Kecerdasan.

Jadi, STIFIn memetakan otak bukan berdasarkan belahan otak yang paling besar
volumenya, melainkan berdasarkan belahan otak yang paling kerap digunakan. Itulah yang disebut sebagai sistem operasi. Membagi otak berdasarkan belahan otak yang berperan sebagai sistem operasi inilah yang membuat STIFIn akurat.

Dalam sistem operasi tidak ada wilayah abu-abu, setiap jenis kecerdasan, seaneh apapun itu, dapat digolongkan ke dalam salah satu diantara 5 Mesin Kecerdasan yang
ada dengan garis pemisah yang tegas.


Sejarah perjalanan konsep STIFIn dimulai tahun 1999 – yang lalu – ketika Farid Poniman bersama partnernya, Indrawan Nugroho, yang kemudian diikuti oleh Jamil Azzaini mendirikan lembaga training Kubik Leadership. Lembaga training tersebut setiap memulai program trainingnya terlebih dahulu memetakan peserta training sesuai dengan jenis kecerdasannya.

Sebagai konsep, STIFIn kala itu bisa dibilang masih embrio. Perbaikan konsep dilakukan disana-sini seiring dengan berkembangnya penyelenggaraan training Kubik Leadership. Namun, kala itu, tesis atau hipotesisnya sudah matang dan kukuh bahwa manusia memiliki kecerdasan genetik. Berapa persisnya, itulah yang saya sebut terus berkembang.

Pada awalnya, Farid Poniman menggunakan empat kecerdasan yakni S, T, I, dan F seperti kita bisa baca dalam buku best seller Kubik Leadership. Pergulatan intelektual dan penyempurnaan terus dilakukan oleh Farid Poniman, sebelum terbitnya buku ke DNA SuksesMulia yang akhirnya berujung pada penemuan kecerdasan ke lima, yakni
Insting.

Sekarang STIFIn sudah final dengan 5 mesin kecerdasan dan 9 personaliti genetik. Artinya tidak akan ada jenis kecerdasan ke-6 dan tidak akan ada personaliti genetik yang ke-10.

Setelah dilakukan riset untuk sekian lama, kini konsep STIFIn sudah sangat kokoh. Kekuatan utamanya terletak pada konsep yang simpel, akurat, serta aplikatif.


Mulai dari simpel. Kenapa disebut simpel? Penjelasannya sederhana karena dari miliaran manusia, oleh STIFIn dikelompokkan hanya dalam 5 mesin kecerdasan dan 9 personaliti genetik. Kita tidak pusing dengan pengelompokan manusia dalam banyak kotak, seperti MBTI dan Socionics yang mengelompokkan dalam 16 kotak.

Jika berkaitan dengan kecerdasan, STIFIn cukup 5 kotak, yaitu:…S,….T,…..I,…..F,…..In. 5 mesin kecerdasan itu mencakup seluruh jenis kecerdasan yang ada yang dimiliki manusia di muka bumi ini. Bahkan alien pun, andaikan alien itu memang ada, bisa dimasukkan satu diantara 5 mesin kecerdasan. Kalau dilihat dari bentuk kepalanya, berdasarkan foto yang beredar yang umum dipercayai sebagai makhluk luar angkasa, alien lebih menyerupai mesin kecerdasan Intuition.

Masih ada penjelasan lain kenapa konsep STIFIn disebut simpel karena bersifat multy-angle theory. Artinya, STIFIn dapat dipakai untuk menjelaskan teori kecerdasan dan personaliti dari disiplin ilmu yang lain.

Seperti konsep otak kiri dan otak kanan (Roger W. Sperry) atau pembagian neokortek sebagai otak atas dan limbik sebagai otak bawah (Paul Broca) atau pembagian 6 Hexagonal Holland (John Holland) juga konsep DISC (Thomas International) atau bahkan teori lama Hippocrates Galenus dapat dengan mudah dibedah menggunakan STIFIn.

Uraian persamaannya sebagai berikut:

  1. Otak kiri dan otak kanan sama dengan S + T dan I + F pada
    STIFIn.
  2. Neokortek dan limbik sama dengan T + I dan S + F pada STIFIn.
  3. 6 Hexagonal Holland, Artistic-Realistic, identik dengan Kanan-Kiri STIFIn,
  4. 6 Hexagonal Holland, Investigative-Social identik dengan Atas-Bawah STIFIn,
  5. 6 Hexagonal Holland, Conventional-Enterprising identik dengan diagonal Organisasi-Produksi STIFIn.
  6. D-I-S-C pada Thomas International identik dengan S-F-I-T pada STIFIn.
  7. Kholeris, Flegmatis, Melancolis, dan Sanguinis sama dengan S, T,I, dan F pada STIFIn.

Perbandingan lebih lengkap dengan berbagai konsep lama yang lain dapat dilihat pada tabel halaman 20 pada buku STIFIn Personality.

STIFIn dengan mudah dapat diaplikasikan untuk anak berkebutuhan khusus serta terapi masalah-masalah kejiwaan dan kesehatan fisik. Jangan terkejut jika kami mengatakan bahwa dunia kedokteran bisa menggunakan konsep STIFIn untuk mendiagnosis penyakit secara akurat.

Namun, aplikasi yang paling jitu adalah ketika konsep STIFIn digunakan untuk praktik penggemblengan diri dengan prinsip fokus-satu-hebat. Konsep kecerdasan tunggal yang dianut STIFIn lebih mampu menjelaskan realitas otak dalam keseharian. Itulah
penjelasan kenapa konsep STIFIn yang menganut kecerdasan tunggal lebih aplikatif ketimbang, sebutlah, konsep kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligence (MI) yang bisa digambarkan dengan menggunakan metafora sederhana: kepemimpinan ayah dalam keluarga.

Menurut konsep STIFIn setiap orang memiliki seluruh otak, namun hanya ada satu yang memimpin (sebaliknya menurut MI ada dua,tiga, atau empat yang dominan). “A specialist in the construction of the whole” kata Daoed Joesoef.

Dalam satu keluarga yang terdiri atas bapak-ibu-anak, posisi pemimpin dipercayakan kepada bapak. Jika sang bapak maju, maka semua keluarga maju. Sehingga konsentrasi perhatian keluarga diprioritaskan pada sang bapak. Konsep kecerdasan tunggal yang dipakai STIFIn lebih aplikatif karena ternyata kecerdasan dominan (seperti sang bapak) mampu memiliki daya jalar yang lebih baik. Sementara kalau menurut konsep MI investasi yang dimiliki keluarga disebar kepada semuanya, sehingga postur investasi dalam keluarga terpolarisasi. Ingat bahwa kecerdasan yang lemah (dimetaforkan ibu anak) tidak memiliki daya jalar sebagaimana kecerdasan dominan (dimetaforkan bapak).


Dalam sebuah seminar, seorang ayah bertanya “Apa maksudnya dengan Kunci Sukses Feeling adalah MEMIMPIN DIRI ??” Nah..Kunci sukses Feeling introvert dan Feeling extrovet akan dijabarkan pada artikel berikut.

Tipe Mesin Kecerdasan Feeling berfikir dan merasa menggunakan HATI, hati hubungannya dengan EMOSI dan PERASAAN. Mereka yang Personality Genetik Feeling introvert, akan fokus pada Kecerdasan Emosi (emotional quotient), artinya orang Feeling introvert akan fokus pada emosi yang digerakkan oleh dirinya sendiri.

Maka bilamana dia sudah mampu menggembleng dirinya, akan menjadi pribadi yang RAMAH, BIJAKSANA, PEMIMPIN SEJATI, ngangenin, kehadirannya di rindukan orang lain. Tapi bilamana dia “belum cerdas” dalam menggembleng dirinya, akan tampak pendiam, judes, kata-katanya menyengat, mudah tersinggung dan akhirnya dendam.

Mereka yang Personality Genetik Feeling extrovert, akan fokus pada Kecerdasan Sosial (Social Quotient), artinya tipe Feeling extrovert akan lebih fokus pada masalah emosi yang berhubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Maka, jika Personality Genetik Feeling extrovert yang sudah tergembleng, akan lebih senang menjadi MENTOR bagi orang lain, lebih senang menjalin persahabatan lalu MEMOTIVASI sahabatnya agar maju menjadi orang sukses, sementara, dia sendiri akan menikmati kesuksesannya di belakang layar. Untuk itu, dia tampak BIJAKSANA dan SABAR.

Namun, bila tipe Feeling extrovert belum cerdas dalam menggembleng dirinya. Yang nampak adalah dia tak disukai lingkungannya karena menebar aura negatif, senang menyalahkan, suka nyuruh-nyuruh orang, lalu gak bertanggung jawab, malas bergerak, senang dengan hasil instant.

Kunci sukses Feeling adalah MEMIMPIN DIRI nya, sebelum memimpin orang lain

Dia harus mengusahakan sekuat tenaga mengolah emosi hatinya menjadi aura positif yang menebar cinta dan kasih sayang kepada lingkungannya. Dia harus mampu mendengar dan mengolah kata menjadi motivasi dan inspirasi bagi banyak orang. Dia harus mampu menahan rasa dengki, marah, kesal, sakit hati, cemburu, dan lain-lain yang semuanya justru akan menjadi petaka baginya.

Kesimpulannya, orang Feeling, Pimpin diri untuk BIJAKSINI sehingga bisa menjadi BIJAKSANA.

Dari : misshiday
Singspirer SuksesMulia


Wacanda Bisnis adalah program Radio SmartFM 95,9 FM Jakarta. Dengan format acara yang santai, program ini tetap berbobot dalam menampilkan sisi bisnis. Host program ini adalah Abrar Din Ilyas, Gunawan Lukito dan Ola Nurlija. Bintang tamu pada edisi Jumat 22 januari 2016 jam 20.00 WIB adalah Bapak Farid Poniman, beliau adalah Penemu Konsep dan Tes STIFIn. Dalam acara Wacanda Bisnis Bapak Farid Poniman menjelaskan tentang STIFIn Personality. Secara singkat berikut resumenya :

Konsep STIFIn berdasarkan 5 Belahan Otak, setiap orang mempunyai 1 belahan otak yang dominan, dalam STIFIn disebut dengan Mesin Kecerdasan, sehingga ada 5 Mesin Kecerdasan yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting.

Mesin Kecerdasan Sensing

Sensing memiliki dominan belahan otak limbik kiri bawah. Orang Sensing gampangnya orang yang ngikut kepada FAKTA, apa yang terlihat, sehingga dia bicara hal-hal yang sensorik banget, faktual banget, konkrit banget. Kalau menyuruh orang Sensing ini bekerja , kita gak bisa berikan janji muluk-muluk yang tidak keliatan, langsung down to earth, duitnya segini, insentifnya segini, kamu kalau kerja ini dapetnya segini, buat orang Sensing begitu yang ia senangi karena ia jenis orang yang Tangible.

Mesin Kecerdasan Thinking

Thinking memiliki dominan belahan otak neokortek kiri atas. Orang Thinking menggunakan LOGIKA, apa-apa dilogikan oleh dia, itu mengapa kalau duit sudah masuk ke kantongnya, sulit untuk keluar karena penuh pertimbangan, buat apa, gunanya apa, analitis banget. Orang Bankers, auditor, bagus untuk orang Thinking, tapi secara umum orang-orang Eksekutif, Corporate bagus untuk orang Thinking.

Mesin Kecerdasan Intuiting

Intuiting memiliki dominan belahan otak neokortek kanan atas. Intuiting adalah orang yang kreatif, konseptor, abstrak, dia kebalikan dari orang Sensing, dia justru adalah Intangible, dia kualitatif. Jika orang Sensing mengejar Volume, dia ngejar margin, dia mau ada kualitas yang jauh lebih tinggi.

Mesin Kecerdasan Feeling

Feeling memiliki dominan belahan otak limbik kanan bawah. Orang yang pakai PERASAAN, faktor-faktor perasaan sangat dominan pada orang feeling, dia akan menjadi hebat ketika perasaannya terpicu, tersentuh, muncul mood, bangkit semangatnya, bangkit spiritnya. Profesi yang cocok untuk orang Feeling yang paling umum adalah Public Speaker, Sales, P.R, tapi yang paling spesifik adalah yang pandai berjanji belum tentu ditepati itu adalah Politisi. Termasuk orang ini memiliki kecenderungan banyak korban pasangan lawan jenisnya, pemberi harapan palsu, play boy cap kodok, tipe perayu.

Mesin Kecerdasan Insting

Insting memiliki dominan belahan otak tengah. Orang yang cenderung serba bisa, kita liat dia musik bisa, nari dia bisa, masak dia bisa, olah raga dia bisa, inilah orang tipe Generalis, dia akan sulit ditarik untuk menjadi Spesialis, sementara 4 tipe yang lainnya itu tipe Spesialis, yang akan sulit di tarik ke Generalis.

Lebih jelas tentang Konsep STIFIn anda bisa hadir dan mengikuti Workshop STIFIn Level 1 yang akan mengupas tuntas tentang Konsep STIFIn, sehingga anda akan mengatakan STIFIn Gue Banget setelah mengikuti Workshop STIFIn Level 1, karena anda sudah sangat-sangat paham dan telah mengenal tentang Jati Diri anda yang sebenarnya setelah mengikuti Workshop STIFIn Level 1 ini.

STIFIn juga pernah di undang untuk menjadi pembicara dalam acara Smart FM lainnya, yang membahas tentang Profesi dan Pekerjaan oleh Direktur STIFIn Institute Bapak Andhikaharya, anda bisa mendengarkan rekaman audionya dalam topik Menekuni Profesi atau Pekerjaan.


RESPON TERHADAP ARTIKEL PROF SARLITO WIRAWAN

(Ditulis Khusus untuk Keperluan Internal bagi Para Promotor STIFIn)
Oleh : Farid Poniman

Pertama, saya sangat menghormati Prof. Sarlito Wirawan dan pendapatnya.
Hal terpenting berikutnya, kita mesti terbiasa menerima perbedaan dengan lapang dada.

Dimana letak perbedaannya? Hal ini berawal dari perbedaan world-view (sumber paradigma). Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism). Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak. Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan. Sehingga kalau kembali kepada rumus 100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip, sedangkan saya aliran yang 20% Genetik.

Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik. Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture. Saya penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.

Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan:

1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan

2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Kalau menggunakan bahasa gaulnya, “jangan bawa-bawa Tuhan deh dalam pembahasan ilmiah”. Itulah world-view mereka.

Secara sederhananya, saya meyakini adanya sibghah (celupan) Allah dalam diri manusia melalui kesengajaan Allah menjadikan manusia keturunan Adam. Selain itu ada kesengajaan Allah memberikan genetik yang unik pada setiap manusia. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya). Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.

Pandangan saya sebagaimana yang saya ungkapkan dalam banyak kesempatan bahwa yang 20% Genetik itulah yang aktif mencari 80% Lingkungan sehingga 100% Fenotip itu banyak dikontribusi oleh 20% Genetik. Memang betul tidak selalu 80% Lingkungan itu berhasil dicapai sepenuhnya sesuai dengan 20% Genetik, tetapi tesis besarnya adalah –sadar atau tidak sadar—kebebasan berkehendak pada manusia akan mencetuskan keinginan mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya, yaitu yang sesuai dengan 20% Genetik tadi. Setiap manusia mencari lingkungan yang ‘gua banget’ bagi dirinya.

Tentang hal ini, Rhenald Khasali (sesama dosen UI dengan Prof Sarlito namun berbeda pandangan juga dengan Prof Sarlito) menyebutnya sebagai genetika perilaku. “Para ahli genetika mulai masuk ke cabang baru dari genetika biologi, yakni genetika perilaku (behavioral genetics), karena berdasar sejumlah penelitian mutakhir terungkap adanya pengaruh genetika terhadap perilaku perubahan “, Rhenald Khasali (2010).

Sekedar ilurtrasi dalam bentuk lain, saya paparkan empat riset sebagai bukti pengaruh genetik terhadap perilaku dan eksistensi manusia (saya kutip dan edit dari Kompas.com):

1. Seorang psikolog asal Virginia Commonwealth University, Michael McDaniel menyatakan bahwa otak yang besar memang berpengaruh terhadap kecerdasan.Dalam Journal Intelligence yang terbit tahun 2005, Michael menyebutkan bahwa volume otak sangat erat kaitannya dengan tingkat kecerdasan karena semakin banyak sel-sel otak, sistem dan jaringan informasi yang dimiliki seseorang dalam otaknya pun semakin banyak, yang berarti ia bisa lebih cerdas. Hal itu menurutnya berlaku untuk semua rentang usia dan juga jenis kelamin.

2. Para ilmuwan dari Cambridge University menemukan bahwa para pialang yang bekerja di bursa-bursa saham memiliki jari manis lebih panjang dari pada jari telunjuk. Ini menunjukkan bahwa mereka lebih pintar mencari uang. Dalam 20 bulan para pialang dengan jari manis lebih panjang ini ‘mencetak’ uang sebelas kali daripada yang jari manisnya relatif lebih pendek(Kompas.com,16 Januari 2009).

3. Ukuran pinggul yang besar memengaruhi daya ingat seorang perempuan. Para peneliti menemukan bahwa setiap poin kenaikan BMI, skor tes kemampuan daya ingat mereka juga turun satu poin. Dan, partisipan yang memiliki bentuk tubuh pir (pinggang kecil, tetapi pinggul lebar) memiliki skor yang paling buruk(Kompas.com, 15 Juli 2010).

4. Menurut hasil penelitian, mereka yang bertampang menarik lebih pintar daripada kebanyakan orang. Riset yang dilakukanLondon School of Economics (LSE) di Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan, pria dan perempuan menarik memiliki intelligence quotient (IQ) 14 poin di atas rata-rata kebanyakan orang(KOMPAS.com, 17 Januari 2011).

Nah, tentu saja para ilmuwan psikologi tidak akan setuju sepenuhnya dengan empat contoh riset tersebut karena mereka lebih meyakini dengan pola perilaku yang tampak yang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Kira-kira mereka akan mengatakan demikian, “Tidak ada kaitannya antara potensi genetik yang tergambar pada besar kepala, panjang jari manis, besar pinggul, dan tampang yang menarik dengan perilaku seseorang”. Sebagaimana Prof Sarlito juga mengatakan tidak ada kaitannya antara sidik jari dengan perilaku seseorang.

Sampai disini, saya berharap anda dapat memahami bahwa perbedaan pandangan harus diterima dengan lapang dada, yang penting kita mengetahui perbedaan world-view nya.

Oleh karena itu untuk menjembatani bahwa potensi genetik yang digali Tes STIFIn itu juga dapat diukur dari perilaku yang tampak maka saya selalu memasukkan 10 variabel personaliti yang bisa diukur secara psikometrik pada setiap hasil Tes STIFIn. Pendek kata, jika anda ingin membuktikan secara ilmiah keberadaan potensi genetik dalam personaliti seseorang, minta salah satu doktor/PhD psikometrik di kota anda untuk mengukur keberadaan 10 variabel pada peserta tes. Jika keberadaan 10 variabel itu ternyata eksis maka hal itu menunjukkan bahwa Tes STIFIn memiliki validitas yang tinggi. Jika hal tersebut dites lagi beberapa kali dan hasilnya tetap sama maka bermakna reliabilitas Tes STIFIn juga tinggi. Tentang kedua hal ini kami sudah melakukan riset internal yang menunjukkan bahwa validitas dan reliabilitas Tes STIFIn sangat tinggi. Namun saya harap anda bersabar menunggu hasil riset independen yang dilakukan dua tim profesor di Malaysia dan Indonesia yang akan diumumkan tidak lama lagi.

Sejarah Finger Print

Sidik jari adalah ciri permanen yang genetik dan tidak berubah sepanjang umur manusia. William Jenings dari Franklin Institute Philadelpia, mengambil sidik jarinya sendiri pada umur 27 tahun (1887) kemudian membandingkan dengan sidik jari setelah umur 77 tahun ternyata tidak terjadi perubahan.

Sidik jari seseorang memiliki hubungan dengan kode genetik dari sel otak dan potensi intelegensi seseorang. Penelitian ini telah dimulai sejak lebih 200 tahun yang lalu, diawali oleh Govard Bidloo (1865), J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), Inez Whipple (1904), Kristine Bonnevie (1923), Harold Cummins (1926), Noel Jaquin (1958), Beryl Hutchinson (1967), dan kemudian oleh Baverly C Jaegers (1974) yang menyimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang.

Pada tahun 1901, Sir Edward Richard Henry mengembangkan Sistem Galton menjadi sistem Galton-Henry. Pada tahun 1914, sistem Galton-Henry mulai dikembangkan di Indonesia. Pada tahun 1960, sistem ini resmi digunakan oleh POLRI (menurut Indonesia Automatic Fingerprint Identification System/INAFIS).

Sekarang teknologi sidik jari sudah berkembang jauh. Salah satunya, teknologi dermatoglyphics yang dapat dipakai untuk membuktikan seberapa besar kapasitas yang dimiliki anak sejak lahir, mengetahui potensi bawaan, serta bakat terpendam anak. Teknologi tersebutmulanya dikembangkan di Harvard University, Cambridge University, dan Massachusetts University.Data statistik perangkat lunak dermatoglyphics itu diolah berdasarkan data sidik jari 3 juta orang di Asia dan Amerika.

Dari rangkaian sejarah riset-riset sidik jari di atas masih kurang ilmiah apa lagi?

Jika genetika perilaku yang mampu ditunjukkan oleh sidik jari dianggap sebagai ilmu semu, sebaiknya hal tersebut perlu direkomendasikan langsung ke POLRI dan institusi intelijen di seluruh negara untuk menukarkannya dengan cara lain. Saya yakin Prof Sarlito tidak akan punya cara lain yang lebih efisien dan efektif dibanding teknologi sidik jari. Padahal sidik jari sudah memiliki sejarah riset yang panjang, yang sungguh menyedihkan kalau dianggap sebagai bentuk penipuan yang lain.

Penutup

Sebenarnya anda sendiri bisa menjadi juri bebas, karena sebelum menjadi promotor anda mengikuti Tes STIFIn. Adakah kesimpulan tentang personaliti anda yang dikeluarkan oleh Tes STIFIn tidak akurat? Kalau lebih dari 90% diantara anda mengatakan akurat, maka janganlah golongkan kami sebagai penipu. Justru ini adalah amal kifayah kami untuk mencerdaskan bangsa kita.

Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Prof Sarlito atas pengabdian dan integritasnya sebagai ilmuwan psikologi.

Kuala Lumpur, 18 April 2011

—–


Interpersonal / Social Quotient

Feeling extrovert, Mesin Kecerdasannya adalah Feeling, drive nya adalah extrovert yang membawa dari luar ke dalam, sehingga Feelingnya punya kemampuan sosial, feelingnya mempertautkan dia ketika dia berhubungan dengan orang lain. Orang Feeling extrovert bukanlah orang yang memiliki kemampuan intrapersonal yang kuat, tetapi dia memiliki interpersonal yang kuat, memiliki hubungan relationship yang kuat, dia berfikir dan merasakan tentang orang lain yang lebih besar, ketimbang dia sekedar melakukan introspeksi kepada dirinya (intrapersonal).

Maka daya penerimaan orang lain menjadi ukuran apakah seorang Feeling extrovert ini telah memaksimalkan kemampuannya atau tidak ? Kalau dia punya sedikit teman, punya sedikit sahabat, ini menunjukkan bahwa rating sosial relationshipnya dia adalah rendah dan itu berarti dia tidak menggunakan Feeling extrovert nya dengan baik. Kenapa ? Karena pada otaknya orang Feeling extrovert itu adalah otak kohesif, otak kohesif bila di kaitkan dengan berhubungan dengan orang lain, jadi dia harus selalu mencari cara bagaimana dia mengkohesifkan (melekatkan) dirinya dengan orang lain, itu adalah Feeling extrovert, sehingga muncul hubungan sosial yang harmonis.

King Maker

Feeling extrovert dia sangat mahir di dalam men-develop hubungan sosial yang manis, yang cantik, yang harmonis, yang kompak, karena kemampuan komunikasinya, dan daya kohesifnya (rekat) tadi membuat setiap orang yang satu dengan orang yang lain seperti punya daya rekat, itu adalah kemampuan dari seorang Feeling extrovert.

Maka kalau orang Feeling introvert tadi adalah layak menjadi sebagai seorang pemimpin yang besar, seorang King, maka seorang Feeling extrovert ini adalah seorang King Maker, dialah yang mencetak raja, karena daya kohesifnya itu dia lebih mementingkan menempah orang, mendidik orang, menggembleng orang, nurturingnya terhadap orang lain, supaya kemudian banyak lahir kader dari tangannya.

Tempat Curhat

Dia akan merasa nyaman jika hidupnya terkoneksi dengan orang lain, dia merasa tereliminasi, dia merasa terasing, dia merasa gagal dalam hidupnya kalau dia tidak terkoneksi dengan orang lain. Orang Feeling extrovert dia haruslah di perlukan oleh orang lain dalam konteks bahwa keberadaannya itu bermanfaat bagi orang lain terutama adalah menyelesaikan persoalan-persoalan orang, persoalan-persoalan kemanusiaan, persoalan-persoalan personal kepada setiap orang.

Mengapa orang Feeling extrovert ini paling enak di ajak curhat-curhatan, akan bisa panjang ceritanya kalau curhat-curhatan sama orang Feeling extrovet. Di samping dia punya kemampuan listening yang kuat, dia juga punya kemampuan berbicara yang kuat, jadi bersambut gayunglah sebagian dari waktunya mendengar, sebagiannya lagi dia waktunya berbicara, nyambung itu curhat-curhatannya jadi bisa berjalan dalam waktu yang lama, ini adalah Feeling extrovert. Ngerumpi paling enak memang bagi orang Feeling extrovert. Ngegosip paling enak bagi orang Feeling extrovert. Dari situlah muncul daya sosial yang kuat.

Senang Mencetak SDM

Feeling extrovert, dia memiliki atensi yang sangat besar dalam menempah orang, mencetak SDM, menjadi seorang King Maker. Feeling extrovert, dia lebih senang ketika secara sosial dia berhasil meskipun secara pribadi dia dianggap kurang berhasil. Dia akan senang kalo kemudian bisa mencetak para juara dan para orang hebat yang tiba-tiba menjadi someone dari no one, meskipun dirinya ketinggalan di bandingkan dengan kader-kadernya. Dia lebih bangga, dia lebih happy dengan itu. Karena otaknya bekerja terkohesi dengan keberhasilan orang lain.

Play Boy

Kalau dalam urusan cinta orang Feeling extrovert ini memang seperti cintanya laki-laki, kalau Feeling introvert seperti cintanya perempuan. Feeling extrovert ini adalah cintanya laki-laki. Apa maksudnya cinta laki-laki? Dia di tolak oleh satu orang maka dia akan cari orang lain. Gak pake masa waktu menunggu terlalu lama untuk mengobati sakit hatinya, itu terjadi pada Feeling introvert. Kalau pada Feeling extrovert dia cenderung easy lover, dia cenderung gampang bercinta dengan orang lain. Modus operandi atau tren yang namanya cinlok (cinta lokasi) lebih mudah terjadi pada orang Feeling extrovert. Dia memcintai lawan mainnya, dia mencintai tetangganya, dia mencintai anak ibu kosnya, bahkan sampai kadang-kadang kalau pembantunya cantik, mencintai pembantunya. inilah kebablasannya orang Feeling extrovert.

Feeling extrovert mudah sekali dia jatuh cinta, dia adalah cerminan dari orang yang playboy cap kodok, mata keranjang, gak ada habis-habisnya karena cintanya yang banyak itu memang di bagi-bagi sebagaimana cintanya laki-laki.

Sukses Bisnis Dengan Penggemblengan Orang

Adakah kemungkinan orang Feeling extrovert ini bisa menekuni sebuah profesi yang sangat serius? termasuk diantaranya seperti menjadi seorang pebisnis? mungkin saja, namun perlu di pertimbangkan bahwa kemajuan orang Feeling extrovert ketika dia menekuni satu profesi itu sangat tergantung pada keseriusan dia untuk menelateni proses penggemblengan orang lain. Semakin dia punya banyak kader, semakin berpeluang dia berhasil. Tentu saja kader-kader itu kalau juga di siapkan, di sesuaikan dengan profesinya atau pun panggilan bisnisnya.

Jadi dia akan berhasil kalau dia menggunakan tangan orang lain, dimana tangan orang lainlah yang punya kompetensi, tangan orang lainlah yang punya profesi. Si orang feeling ini cukup dia mendidik orang itu untuk menjadi seseorang yang punya kompetensi. Tugaskan orang lain, delegasikan pada orang lain, berikan kesempatan orang lain untuk maju, di balik kemajuannya, kompetensinya, dan profesiensinya gunakanlah secara maksimal. Dan orang Feeling extrovert pandai untuk mengkonfensing orang, itu supaya delegasi itu bisa berjalan dengan baik.

Naik Levelnya

Gimana caranya seorang Feeling extrovert ini untuk naik kelas, meningkatkan leverage, tentu saja adalah, output sederhananya adalah lihat di kadernya, lihat tempaannya, lihat di menti nya, lihat di anak buahnya, anak buahnya masih kelas itu-itu saja apa tidak? kalau dia hanya mengkader anak SMP-SMP terus gak naik level dia. Maka dia harus naik level ke level yang lebih tinggi. Jadi bukan hanya semata-mata jumlah orangnya yang lebih banyak, tetapi dia kepada kualifikasi yang lebih baik. Kalau dia mengkader seorang atlet yang atletnya level nasional, maka disitulah kelas dia. Kalau dia mengkader orang yang levelnya dunia, maka naiklah level dia. Jadi Feeling extrovert kemampuannya sangat di ukur pada seberapa hebat orang yang di kadernya? seberapa banyak dia bisa menjadikan seorang King ? Kingnya di level yang seperti apa ? itu adalah Feeling extrovert.

Moodyan

Orang Feeling extrovert termasuk juga orang Feeling introvert memang sesungguhnya dia, setiap punya energi di bawa pada hatinya, di bawa kepada emosinya, maka memang seringkali ada unsur mood dan tidak mood pada orang feeling. Yang extrovert moodnya dari mana? emosinya dari mana? feelingnya dari mana? dari situasi luar. Kalau situasi luar bertepuk tangan memanggil dia karena dia menjadi sangat di perlukan, maka dia datanglah dengan gagah berani sebagai seorang pahlawan yang dirindukan oleh orang sekitarnya dan disitu dia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Dimana berperannya? pasti akan selalu berfokus di bagian SDM untuk meningkatkan kemampuan orang lain menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Demikian juga kalau dia menangani persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, maka dia akan selalu mengatakan sesuatu yang oleh orang lain bahkan difikir tidak mungkin, yaitu membawa pada leverage yang lebih tinggi.

——————


Mesin Kecerdasan nya Thinking yang di drive dengan introvertnya, sehingga dari dalam menuju keluar, Thinkingnya yang di bawa dari dalam menuju keluar, sama dengan yang lain-lainya, yang disebut dengan  introvert. Introvert ini bukan membawa seluruh Mesin Kecerdasan, introvert disini hanya terkait dengan Mesin Kecerdasan yang menjadi Mesin Kecerdasan yang bersangkutan. Jadi, kalau Thinking introvert, introvertnya itu hanya pada Thinking saja, bukan kepada semua Mesin Kecerdasan.

SOTOY “SOK TAHU”

Jenis orang Thinking introvert, Thinkingnya dibawa dari dalam dalam keluar, karena itulah orang Thinking introvert ini, sepertinya dia orang yang banyak tahu . Karena dia Thinking, dia berfikir, dia punya ilmu otomatis dari hasil kerja fikirannya, dan karena itulah dari banyak tahunya itu kemudian dibawa keluar. Maka orang Thinking introvert ini memiliki banyak referensi, banyak pustaka, banyak pengetahuan, banyak memory yang dia bisa uraikan kepada orang lain. Sering kali kalau dalam bahasa pergaulannya, konotasi yang negativenya itu dia disebut “sotoy”, ini orang sok tahu, ini adalah orang Thinking introvert

SISTEMATIS

Sesungguhnya orang Thinking introvert ini, di dalam kerja otaknya, dia adalah mengangkat kerja otak itu, kepada kompleksitas yang tinggi. Jadi, diantara semua type Personality Genetic, dimana otaknya bersedia menangani persoalan-persoalan yang komplek itu adalah Thinking introvert . Tetapi dia memiliki tools, memiliki alat, memiliki cara, bagaimana situasi yang kompleks itu dikendalikan, yaitu dengan frame work, dengan kerangka kerja. Orang Thinking introvert sangat mahir di dalam membuat kerangka kerja, di dalam membuat sistematika, sehingga pikiran yang kompleks itu menjadi sistematis, jika di tangani oleh orang Thinking introvert.

SPESIALIS

Nah, karena itulah mengapa orang Thinking introvert ini, dia bersedia untuk menjadi orang yang begitu spesialistik profesinya, karena dia punya ketajaman mikroskopik, dia berfikir sampai mentok, sedalam-dalamnya, itu dimiliki oleh dia kemampuannya. Karena orang Thinking introvert berfikir, kalau ke atas dia kompleks, kalau ke bawah dia mendalam sangat mikroskopik . Itulah kemampuan yang membuat orang Thinking introvert itu sanggup untuk menjadi seorang spesialis pada profesinya.

EFEKTIFITAS

Kerangka kerja menjadi keutamaan dimana dia berfikir, dan tentu saja, ketika dia menganalisa sesuatu, analisanya selalu diposisikan untuk mendapat sesuatu yang lebih baik, kita menyebutnya adalah efektifitas. Dia selalu akan berfikir, bagaimana kerangka kerja tadi bila dipraktekkan, bila di implementasikan, bila dijadikan sebagai rencana untuk melahirkan perbaikan, melahirkan efektifitas, terutama yang paling penting bagi dia, melahirkan berganning posision yang lebih bagus buat dia, meningkatkan jabatan dia, meningkat tahta dia, itu adalah orang Thinking introvert.

MULTIPLYING

Ketika dia sudah mulai bisa membuat kerangka kerja dari sesuatu yang kompleks, maka, karena dia berfikir tentang efektifitas tadi, mengapa orang Thinking introvert di dalam tugasnya, di dalam pekerjaannya, dia menyukai, dengan sendirinya cenderung akan mendapatkan pelipat gandaan hasil (Multiplying). Ini adalah sesuatu yang memang orang Thinking introvert menyukai melipat gandakan hasil. Proses pelipat gandaan yang dilakukan orang Thinking introvert tadi, bisa dikawal dengan akurasi yang tinggi, karena dia memiliki rentang yang sangat bagus, mau mendalam secara mikroskopik dia mampu, mau naik ke atas menjadi lebih kompleks dia mampu, sehingga pengawalan terhadap pelipat gandaan itu memiliki ciri khas yang sangat menempel pada orang Thinking introvert yaitu itu adalah akurasi.

CINTANYA LOGIS

Bagaimana cara orang Thinking introvert dalam urusan bercinta? “Ya” memang sesungguhnya orang Thinking mau yang introvert ataupun extrovert, dia bercinta menggunakan kerangka-kerangka kerja, dengan logika-logika, maka orang Thinking khususnya yang introvert itu adalah dia berani mempertimbangkan iya dan tidak, memutuskan seseorang itu diterima atau tidak, setelah dia menimbang-nimbang dengan timbangan logika apa baik buruknya buat dia, apa untung ruginya buat dia, apa manfaatnya buat dia. Segala sesuatunya ditakar menggunakan kerangka logika.

Karena itulah di dalam rumah tangga, bagi orang Thinking introvert, dia akan menata, bagaimana pasangan suami istri itu, bukanlah hanya semata-mata hubungan emosional, tetapi ia adalah seolah-olah, “meskipun ini urusan percintaan”, seolah-olah seperti hubungan kerja, semua ada kerangka, semua ada sistematikanya, semua ada pembagian tugas yang jelas. Orang Thinking introvert itu memastikan segala sesuatunya itu tertangani dengan baik.

C.E.O

Mampukah orang Thinking introvert menjadi seorang CEO? Justru memang inilah yang menjadi keunggulan Thinking introvert, ketika ia berada pada midle-midle managemen, untuk dia merangsak naik ke atas, dia memiliki keunggulan. Dimana keunggulannya? Dia memutuskan dengan logika yang dalam, yang kompleks, yang kemudian dia berfikir dikaitkan dengan hasil, dia bisa memimpin akurasinya. Jadi segala macam yang berbau kehebatan logika ini, dimiliki secara tajam oleh orang Thinking introvert, tidak dimiliki oleh Personality Genetic yang lain .

Jadi, ketika beradu tentang direction, tentang target, auto achive, tentang planning, tentang membuat taktik-taktik yang sistematis, menuju kepada tercapainya target, orang Thinking introvert adalah jagonya . Maka dia sangat berpeluang untuk menjadi seorang CEO.

MANAGERIALSHIP

Dia memang punya kemampuan mengelola tahta, mengelola kekuasaan dengan managerialshipnya, dengan aturan main yang dia buat, dengan system yang dia kendalikan, dengan kedalaman, dengan kekomplekan, dengan sistematika, dengan kerangka kerja sebagaimana yang di jelaskan diatas. Disitulah menajdi selling pointnya seorang Thinking introvert.

Thinking introvert adalah  orang yang memiliki banyak pengetahuan, dan dari banyak pengetahuannya itu, kemudian orang Thinking introvert itu, yang kaya dengan database, yang kaya dengan pengalaman-pengalaman yang sudah diolah, di sistematikakan oleh orang Thinking introvert menjadi kekuatan tertentu. Sehingga orang Thinking introvert bisa berkompetensi dengan orang lain, karena memiliki kemampuan mengelola proses lebih handal . Itulah yang disebut dengan managerialship.


PEMIMPIN (LEADER)

Mesin Kecerdasan nya Feeling dengan drive introvert yang membawa dari dalam keluar. Orang Feeling introvert dia adalah diantara 9 Personality Genetik memang yang paling berpeluang untuk menjadi seorang pemimpin, karena dia menggunakan keyakinannya, menggunakan shoul-nya, menggunakan emosinya, untuk bisa meyakinkan orang lain, dia punya kekuatan melakukan perombakan besar-besaran di dalam dirinya, dengan menyerap aspirasi dari luar. Tetapi, meskipun begitu, dia tetap fokus kepada apa yang kongruen (sebangun) dengan suara hatinya, dia memilih sesuatu yang cocok, yang compatible, yang tidak bertentangan dengan jati dirinya.

IDEALISME

Cara kerja otaknya orang Feeling introvert memang dia adalah, mampu mempromosikan, mampu mengangkat nilai-nilai yang terdengar oleh suara hatinya. Karena itulah, bagi orang Feeling introvert, karena chargingnya dari dalam keluar, Feeling yang dari dalam keluar itulah yang keluar berbentuk ideologi, idealisme dia, sesuatu yang sangat futuristic yang akan dikejar, dan itu semuanya berangkat dari keyakinan dia tentang sesuatu, sehingga keyakinan yang di olah dari bahasa emosi, bahasa jiwa inilah yang kerap kali bisa dalam perdebatan itu mengalahkan pandangan-pandangan yang hanya semata-mata berhenti pada tahap logika.

Tentu saja Indonesia, sebagai contoh katakanlah, mungkin tidak akan merdeka, kalau semata-mata hanya berpacu kepada sudut pandang rasionalisasi saja, karena begitu lamanya kita di jajah. Tetapi karena ada orang Feeling introvert yang meyakinkan bahwa kita memang layak merdeka, sudah tidak tahu bagaimana logikanya, yang penting kemerdekaan sudah merupakan idealismenya, mimpinya, maka itulah yang menciptakan momentum kemerdekaan itu sendiri.

KHARISMA PEMIMPIN

Nah, jadi disinilah orang Feeling memulai, ketika dia berbicara tentang jiwa, tentang keyakinan, tentang emosi, tentang perasaan, tentang aspirasi, tentang arus bawah, disinilah orang Feeling punya kekuatan, tapi secara khusus orang Feeling introvert, karena dia punya kemampuan untuk meyakinkan orang lain, karena dia mampu terutama untuk berbicara dengan dirinya sendiri, dan dia mencari sesuatu yang memiliki kecocokan dengan jati dirinya, dengan suara hatinya, disitulah orang Feeling introvert dipandang memiliki kharisma alamiah, sebagai seorang pemimpin .

LEADERSHIP

Kalau orang Thinking adalah managerialship, orang Feeling itu adalah Leadership. Leadership yang paling kuat itu adalah dimiliki oleh orang Feeling introvert. Jadi orang Feeling introvert mampu meng convinsing orang, justru berangkat dari sesuatu yang diyakininya, dari hati nuraninya, dari dalam.

FEELING MENGALAHKAN THINKING

Sementara kalau berbicaranya adalah : keyakinan yang datang dari dalam yang sumbernya dari dalam, itu dia memiliki rentang pengaruh yang justru lebih kuat dibandingkan dengan semata-mata logika. Dan ini juga yang menjadi alasan mengapa orang Thingking yang bisa mengalahkan orang Intuiting,  dalam konteks ini, orang Thinking bisa dikalahkan orang Feeling. Dimana logikanya ?

Logikanya, karena keyakinan itu memiliki daya pengaruh yang lebih kuat dari pada rasionalisasi, kehangatan yang diberikan orang Feeling, itu bisa lebih kuat dari dinginnya orang Thingking. Suara aspirasi yang melibatkan banyak orang itu, itu adalah pertanda menjadi kekuatan yang lebih besar dari otoritasnya orang Thinking .

BAKAT ALAMI SEBAGAI PEMIMPIN

Nah, inilah yang disebut dengan kemampuan leadership pada orang Feeling menjadi sebuah bakat alami, terutama adalah pada orang Feeling introvert yang kerap melakukan otokritik pada dirinya, mencari kebenaran di dalam suara hatinya, mencari yang congruen dengan nilai-nilai yang dibangun di dalam dirinya, otaknya pun bekerja hanya bila mana dia mendengar nilai-nilai yang sesuai dengan suara hatinya. Kekuatan nurani, keyakinan jiwa yang dimiliki oleh orang Feeling introvert ini yang mampu menaklukkan dunia, menaklukkan sekitarnya, menjadi seorang pemimpin yang baik.

“KUTUNGGU JANDAMU”

Tetapi dalam urusan percintaan. Secara gampangnya Feeling introvert ini, lebih mirip seperti cintanya seorang perempuan. Jadi kalau dia cinta kepada seseorang, maka cintanya itu merasuk di dalam kalbunya, yang kalau tidak terpenuhi itu bisa membuat dia gila. Kalau dia senang dengan seseorang, cinta pada seseorang, barang kali sudah sempat mereka saling bersambut gayung, sempat menjadi seorang kekasih, tapi karena faktor tertentu orang tuanya memisahkan mereka .

Maka kalau dia Feeling introvert, dia akan tulis “ku tunggu jandamu”, karena dia gak mau berpaling ke orang lain, karena cintanya mendalam pada orang itu. Seperti cintanya seorang perempuan, demikian juga kalau dia sudah menyukai sesuatu, maka kesukaannya itu, secara agak berlebihan, dia pegang kuat-kuat, dia fanatik dengannya. Nah itu adalah ciri dari seorang Feeling introvert.

OWNER/INVESTOR BISNIS

Bisakah seorang Feeling introvert berbisnis? Bisa. Tetapi dia bagusnya jadi owner, dia bagusnya jadi investor. Kenapa? Karena kalau dia menjalankannya, bisnis tadi, yang selalu jadi fokus dia itu adalah semata-mata membangun winning team, team yang solid, team yang hebat. Betul bahwa winning team ini, team yang menang, team yang hebat itu, merupakan faktor utama dalam keberhasilan sebuah bisnis. Tetapi tidak satu-satunya, jadi begitu dia terlalu sibuk dengan membangun winning team, mungkin dia sudah keteteran dengan produk yang ketinggalan zaman, pergerakan pesaing yang sudah begitu cepat, perkembangan teknologi yang tidak bisa terkejar oleh dia. Sementara dia masih terus berkutat kepada masalah bagaimana membangun SDM yang kompetitif, yang sehat, dan segala macamnya. Sehingga yang paling bagus bagi orang Feeling, ketika ia berbisnis jadilah seorang investor, pelakunya serahkan kepada orang lain, delegasikan ke pada orang lain.

MALAS BERFIKIR

Dan terutama yang paling penting pada orang Feeling itu, kodrat yang sedikit mengganjal keberhasilan prestasinya, yaitu adalah karena dia malas berfikir. Sehingga perkara-perkara yang rumit, diambil gampangnya saja, diputuskan secara cepat, dan terkadang agak sembrono, tanpa harus mengkalkulasi secara tajam, secara mikroskopik, tidak secara akurat dan akhirnya keluarlah keputusan yang mengedepankan nyali dan keberanian semata, tetapi minim dalam kalkulasi dan akurasi.

TRANSFORMASI ORANG

Namun demikian Feeling introvert inilah yang bisa melakukan sebuah perubahan yang besar melintasi zaman, karena kalau orang Intuiting itu adalah perubahan, perubahannya itu berangkat dari ide. Tapi kalau orang Feeling itu adalah perubahan yang perubahannya itu adalah orang, mentransformasi orang, dan itu memang memerlukan energi yang besar, dan orang Feeling memiliki itu. Itulah yang disebut bakat alaminya, terutama orang Feeling introvert yang muncul kharisma kepemimpinan yang kuat, kalau orang Thingking itu adalah kharisma adalah kharisma wewenang, kharisma kekuasaan, tapi kalau orang Feeling intovert itu adalah kharisma sejati, sebagai seorang pemimpin yang alami, memang punya kemampuan dengan komunikasi meng convinsing people (memahami orang).