Mengatasi Dendam Mesin Kecerdasan Intuiting dengan Menghayal ala “TIME TUNNEL”

Pada sertifikat hasil Tes STIFIn Intuiting introvert disebutkan : Menghayal ala “time tunnel” seolah olah semua hal bisa terjadi. Time tunnel adalah lorong waktu, sebuah keinginan manusia untuk menciptakan mesin “lorong waktu” yang bisa membuat manusia kembali ke masa lalu, ataupun lompat ke masa yang akan datang yang belum terjadi.

Dari pengertian diatas, jika dikaitkan dengan menghayal ala “time tunnel” maka akan terdapat 2 jenis hayalan berdasarkan waktu kejadiannya :

  1. Menghayal kembali ke masa lalu yang sudah terjadi.

Misalkan, anda seminggu yang lalu berjumpa dengan gadis impian di Mall, gadis yang selama ini anda taksir di kampus. Tapi karena anda grogi, sehingga tidak bernyali untuk sekadar say hallo kepadanya. Lalu anda pun berhayal : seandainya minggu lalu itu, aku pura-pura datang dari belakangnya, dan menyenggolnya sedikit, sehingga ia menjatuhkan barang bawaannya, aku mengambil barangnya yang terjatuh, dan ia pun melakukan hal yang sama, saat itu tatapan mata kami bertemu, aku tatap matanya yang indah, senyumnya yang menawan membuatku terpana, lalu ia mengejutkanku dengan berkata “hai.. kamu feri ya..kita kan pernah satu kampus dulu.” ..* ini bukan kisah nyata yaaa..hehehe..

2. Menghayalkan kejadian yang akan datang, yang belum terjadi.

Untuk menjelaskan hal ini saya memberikan ilustrasi dengan sebuah cuplikan film Sherlock Holmes. Dalam adegan ini, Sherlock Holmes menghayalkan jurus berkelahi apa yang akan dia lakukan untuk melumpuhkan lawannya. Silahkan di tonton cuplikan singkatnya.

Ternyata kelebihan orang yang Mesin Kecerdasan Intuiting, mampu menghayalkan sesuatu seolah-olah itu telah terjadi. Mungkin hal ini yang membuat orang Intuiting cenderung NATO, No Action Talk Only, Konsep Aja tapi Tidak Action (KATA), ya wong udah terjadi (padahal masih dalam hayalan), ngapain Action, begitulah kira-kira. Tapi ternyata ada sisi positif dari kelebihan ini yang bisa kita manfaatkan untuk membalaskan dendam karena sakit hati.

Ketika disakiti orang dengan perkelahian, anda babak belur, tidak sempat membalas, karena keburu guru sekolah mengetahuinya dan mengamankan anda yang sedang berkelahi. Sampai dirumah timbul rasa ingin membalas dendam. Anda hayalkan saja,  dengan teknik berkelahi ala jagoan di film. Ya..mirip dengan Sherlock Holmes di flmnya.

Atau anda di kata-katai dengan ucapan yang Negatif. Tapi anda saat itu diam saja, tak kuasa membalas, maka balaskanlah dalam hayalan anda. Bayangkan anda kembali kemasa kejadian itu, ucapkanlah kata-kata apa yang seharusnya anda ucapkan yang dapat memuaskan anda, dan membuatnya terdiam tak mampu berkata apapun. Dan saat anda menghayalkan itu disertai dengan emosi dan degup jantung yang berdetak kencang.

Setelah hayalan itu selesai, ada akan merasa puas sudah terbalaskan, padahal baru hayalan tapi saya yakin rasa ingin membalas dendam udah mulai hilang, karena seolah olah sudah terjadi (time tunnel). Nah, jadi manfaatkan kelebihan menghayal ini untuk membalas dendam. Sehingga untuk kasus ini, ada baiknya juga kalau Intuiting itu baru sebatas NAHO,..No Action Hayalan Only, asal jangan jadi MAHO (Manusia Homo).

Jika Intuiting punya dendam, karena sakit hati. HAYALKAN saja Cara Membalasnya. Hingga dendam itu pun mereda.

Bagaimana dengan anda yang Intuiting,  Apakah mengalami hal yang sama ?


Mengatasi Psikosomatis Dengan Konsep STIFIn

oleh : Agung Purnomo

Definisi Penyakit Psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan. “Penyakit yang seratus persen dibikin sendiri, akibat selalu BERPIKIR NEGATIF!”. Psikomatis sendiri adalah penyakit gangguan kejiwaan yang menyebabkan beberapa fungsi organ utama tubuhnya terganggu dan menderita sakit. Dalam kaidah Umum penyakit ini sembuh bila kita melakukan Self Healing atau dengan cara meningkatkan Sisi Spiritual

Bagaimana Kaidah STIFIn menangani psikomatis ini?

Mesin Kecerdasan SENSING

Tingkatkan frekuensi ibadah, untuk mengurangi ketakutan akan berkurangnya harta.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dengan orang-orang yang sabar“. (Al-Baqarah: 152-153).

Mesin Kecerdasan THINKING

Buang kesombongan yang menjadi penyebab kekhawatiran tahta terenggut oleh orang lain. Perbanyak lakukan Introspeksi diri dan bertaubat.

”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Mesin Kecerdasan INTUITING

Buang Egoisme diri yang menjadi tinggi hati dan merasa karena ide2 brilian yg dibuat dan menjadi cemas ide2nya diambil orang. Perbanyak puasa Daud.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Nabi Muhammad SAW bersabda “Tidak ada puasa yang lebih utama dari puasa Dawud, yaitu puasa setengah tahun, yakni, puasa sehari dan berbuka sehari.” [Shahih Muslim, 1971]

Mesin Kecerdasan FEELING

Perbaiki kualitas keimanan kepada Allah agar tdak merasakan kesedihan berlebihan sehingga muncul rasa ingin dikasihani oleh orang lain. Buang kebiasaan menyalahkan orang lain. Sebaliknya, berbagi sebanyak banyaknya agar mendapatkan ketenangan jiwa. Perbanyak Dzikir.

“Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28)

Mesin Kecerdasan INSTING

Tingkatkan keimanan, perbanyak bersyukur agar hati damai. Bersegeralah bersahabat dengan orang-orang Sholeh/sholehah.

“Hai manusia!Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit ,petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.” (QS.Yuunus : 57)

Semoga bermanfaat


LGBT BUKAN GANGGUAN KEJIWAAN

Tapi mengapa sebagian orang mengatakan LGBT (Lesby Gay Bisexual Transgender) merupakan gangguan kejiwaan

Sebagian lagi mengatakan LGBT adalah normal. Yap..bener. Jika anda berpedoman pada “kitab” DSM, LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan.

APA ITU DSM ?

Kalau BSM saya tau.. Belum Siap Mandi, hehe..kalau gitu DSM, Dah Siap Mandi..Haha.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) adalah “kitab” yang berisi klasifikasi standar gangguan mental pada manusia yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

DSM telah digunakan oleh profesional kesehatan mental di Amerika Serikat, dan selama ini telah dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

DSM digunakan di Amerika Serikat dan dalam derajat yang bervariasi telah digunakan di seluruh dunia, oleh dokter, peneliti, lembaga regulasi obat, psikiatri, perusahaan asuransi, kesehatan, perusahaan farmasi, dan pembuat kebijakan (pemerintah).

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Mari sedikit kita cermati dari sejarah perjalanan DSM itu sendiri. Dimana jumlah ketegori gangguan jiwa pada DSM berubah terus. Waktu pertama kali dipublikasikan oleh ApA tahun 1952 (versi I), hanya ada 106 jenis gangguan jiwa, pada edisi 1968 (DSM II) bertambah menjadi 185, tahun 1974 (DSM III) bertambah lagi: 265, tahun 1994 DSM IV: 365. Sebelum jadi DSM V yang sekarang, DSM IV pernah direvisi menjadi DSM IV/TR pada tahun 2000), yang jumlahnya bertambah terus.

Apa dasar untuk menambah dan juga mengurangi, tidak ada alasan yang jelas. Spekulasi yang berkembang adalah adanya unsur politk dalam penentuan penyakit-penyakit jiwa, misalnya ketika GAY dihapus dari DSM III 1974, banyak pengurus ApA yang gay.

Hal inilah yang membuat DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

Tahukah anda, Lima dari tujuh orang tim APA task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT

APA task force member terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual).

Karena itu, dengan informasi ini, kita berharap para psikolog dan psikiatri Indonesia tidak berkiblat pada DSM, terutama para psikolog dan psikiatri Islam yang landasannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak ada perubahan hingga akhir zaman. Dan juga bukan Buatan Akal Manusia.

Dikutip dari berbagai sumber..

Masihkah anda berkiblat pada DSM ?


Artikel ini sambungan dari Udah Gak Zaman Mengatakan Anak Pintar.

Carol S Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success :

a. Fixed Mindset (FM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth Mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yang bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan Fixed Mindset. Sedangkan Growth Mindset akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, (kalau Konsep STIFIn, sesuai dengan Mesin Kecerdasannya) ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.” (Jika sudah tau apa Mesin Kecerdasan anak dengan Tes STIFIn, kita mudah mencari tau cara yang cocok untuk setiap anak)

d. Fixed Mindset : “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” Growth Mindset : “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. Fixed Mindset mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. Growth Mindset mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

[pull_quote_right]Walaupun anda punya bakat alami yang hebat, kalau tanpa proses belajar dan kegigihan berusaha, bakat alami hanya sebagai informasi tanpa ada manfaatnya.- STIFInspirator[/pull_quote_right]

f. Fixed Mindset percaya kalau tes mengukur kemampuan. Growth Mindset percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area pertumbuhan.

Perbedaaanya Pada Guru/Pendidik

g. Guru dengan Fixed Mindset menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan Growth Mindset merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan Fixed Mindset memiliki semua jawaban. Guru dengan Growth Mindset menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan Fixed Mindset menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan Growth Mindset mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

————-

Nah mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi memang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya.

Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil.

Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, :

  • tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.”
  • Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”.

Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal.

Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Tolong jangan bilang anakku “pintar” . Emangnya kenapa? Udah gak zamannya lagi memuji anak dengan mengatakan “pintar”. Loh..Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel berubah fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

[quote_box_center]Tanpa sadar orang tua yang memuji anaknya “pintar”, takut dikatakan orang tua yang “tidak pintar” — STIFInspirator[/quote_box_center]

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu ?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed mindeset vs growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol S Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak :

Satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama : memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle yang berbeda.

Puzzle di ronde kedua : diberikan dua pilihan puzzle; puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan puzzle yang mudah, serupa dengan puzzle di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang lebih mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah ??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tersebut, sehingga nggak perlu atau takut ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Ronde Tes Ketiga

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan : mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan dan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya.

Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha :

  1. Mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya.
  2. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan.
  3. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu?

Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya :

  1. Menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar.
  2. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.
Ronde Tes Terakhir

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa :

Mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka.

Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosio ekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

———————-

Okay. Anda tarik Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Memuji Upaya Lebih Baik Dari Pada Memuji Hasil

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya.

Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menganggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, dan mementingkan hasil akhirnya.

Nah, dimana letak Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Ki

Sumber : dari Group Telegram, yang belum di ketahui asal artikelnya. Yang tahu sumbernya, boleh email admin.


Fingerprint Test, Keilmiahan dan Tulisan ‘Sidik Jari’ Prof Sarlito

Oleh : Audifax (Bergiat di SMART HRPD, Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB dan Pustaka Kushala)

Berdebat mengenai Fingerprint Test, sudah bukan hal baru lagi. Sudah sejak 2008 lalu, ketika saya dan Ratih Ibrahim memulai menggunakan alat ini untuk biro kami masing-masing, perdebatan sudah muncul. Argumen kontra umumnya mempersoalkan keilmiahan. Sebuah argumen yang sebenarnya umum dan sering digunakan bukan hanya dalam kasus Fingerprint, tapi juga hampir semua kasus yang berkaitan dengan ‘pemikiran baru’ atau ‘metode baru’.

Permasalahannya, kontra argumen yang mengatasnamakan keilmiahan itu sendiri sering dilontarkan secara tidak ilmiah. Salah satunya, yang kebetulan saya diminta menanggapi oleh Ellen Kristi, teman dari Semarang, adalah tulisan dari Profesor Sarlito berjudul ‘Sidik Jari’, yang di-share di Facebook dan dimuat di harian SINDO edisi 15 Mei 2011. Mengapa saya katakan argumen itu tidak ilmiah? Mari kita lihat satu demi satu.

Pertama soal klaim bahwa beliau telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali.

Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Saya sendiri mencoba memverifikasi dengan menggunakan mesin pencari Google, dengan kata kunci: dermatoglyphic, intelligence dan setting hanya mencari file pdf. Ada ribuan thread muncul, dan banyak di antaranya jurnal. Saya berikan beberapa yang terata:

  1. Association between Finger Patterns of Digit II and Intelligence Quotient Level in Adolescents. Mostaf Najafi, MD, (2009), Department of Psychiatry, Shahrekord University of Medical Sciences, Shahrekord, IR Iran.
  2. Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with Superior Intelligence. M. Cezarik, dkk, 1996;
  3. Application and Development of Palmprint Research, Yunyu Zhou, dkk, (2001), Linknya
  4. Analysis of dermatoglyphic signs for definition psychic functional state of human’s organism, Anatoly Bikh,dkk; Linknya
  5. Determining The Association Between Dermatoglyphics And Schizophrenia By Using Fingerprint Asymmetry Measures; Jen-Feng Wang, dkk; Linknya
  6. Quantifying the Dermatoglyphic Growth Patterns in Children through Adolescence; J.K. Schneider, Ph.D.; Linknya

Begitu banyak yang bisa ditemukan. Itu semua membuat saya makin tidak percaya bahwa Prof Sarlito benar-benar mencari jurnal atau penelitian terkait. Justru aneh kalau ada sebanyak itu jurnal, tapi seorang profesor tidak mampu menemukannya satu pun.

Ini pelajaran penting dalam membuat sebuah argumen ilmiah yang tidak banyak orang psikologi mampu melakukannya. Alasan-alasan semacam: tidak nemu jurnalnya, sudah kuno, sudah mulai ditinggalkan, dan sejenisnya, itu semua bukan sebuah argumen ilmiah.

Membuat sebuah argumen ilmiah, carilah argumen yang diberikan oleh para teoritisi dermatoglyphic (fingerprint). Pelajari tesis-tesisnya, lalu buat antitesisnya. Teori vs teori. Data vs data. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan, khususnya psikologi dalam konteks ini, akan berkembang semakin luas dan bermanfaat.

Bukankah Prof Sarlito sendiri menulis: “…setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini.” Kenapa sebagai seorang profesor anda tidak kutip saja salah satu tesis ilmiah mereka dan berikan antitesis ilmiahnya? Bukankah semestinya di situ keilmiahan seorang profesor ditunjukkan? Bukannya malah melantur kesana kemari mulai soal ibu-ibu yang ongkang-ongkang sampai soal Densus88.

Coba Prof Sarlito membaca model-model perdebatan ilmiah, misalnya perdebatan Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung, perdebatan Paul Ricour dan Algirdas Greimas, dst. Mereka berdebat fokus pada masing-masing tesis, bukan kemana-mana. Premis-premis mereka pun jelas, bukan muncul dari dasar laut seperti tulisan Prof Sarlito ini:

Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.

Di sini jelas bahwa premis utamanya saja Prof Sarlito tidak menguasai, kok berani-beraninya membuat kesimpulan? Apakah mengenali potensi anak sama dengan memastikan arah hidup si anak? Tentu saja ini hal yang berbeda. Ini logika mendasar tapi tidak dipahami Prof Sarlito.

Mengenali potensi anak, hanya berfungsi membantu anak untuk mengembangkan potensinya, sekaligus mengatasi kelemahannya. Dan dalam hal ini, fungsinya sama saja dengan semua bentuk lain dari tes dan diagnosa psikologi, yaitu sifatnya hanya membantu. Di luar apa yang telah dipetakan, kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan jelas masih ada.

Di sinilah perlunya memahami logika dasar bahwa tes Fingerprint, tujuannya adalah memetakan dan sama seperti ilmu pengetahuan lain, sebuah pemetaan atau prediksi saintifik hanya berlaku ketika memenuhi hukum ceteris paribus.

Ketidakpahaman Prof Sarlito mengenai ilmu pengetahuan dan logika, juga nampak pada kutipan berikut:

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.

Saya semakin heran dengan keprofesoran Sarlito ketika membaca kalimat: “Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.” Jadi, kalau suatu ilmu berada di luar komunitas ilmu psikologi lalu disimpulkan sebagai pseudo-science dari psikologi? Wah, betapa arogan ‘komunitas’ macam itu. Dan, dari cara memverifikasi berdasarkan cara semacam itu saja Prof Sarlito sudah tidak ilmiah. Apa Prof Sarlito tidak menyadari bahwa banyak orang di luar komunitas psikologi mampu memelajari secara lebih mendalam soal psikologi ketimbang orang-orang dalam komunitas psikologi?

Sebagai profesor, semestinya Prof Sarlito menyadari bahwa pengujian suatu ilmu bukan berdasarkan suatu komunitas, melainkan dengan menguji bangunan ontologi, epistemologi dan aksiologi/metodologi-nya. Ini satu hal mendasar lagi yang tidak terlihat dari cara Prof Sarlito menuliskan mengenai Fingerprint.

Lalu ketika Prof Sarlito menuliskan:

“Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya.”

Saya sebenarnya penasaran, Prof Sarlito ini tahu apa enggak mengenai ‘verifikasi’. Dugaan saya, beliau tidak mengetahui alasannya. (Saya menantang siapapun juga yang membaca ini untuk menjelaskan alasan mengapa keilmiahan perlu ‘verifikasi’ dan verifikasi macam apa). Darimana saya menduga kalau beliau tidak tahu? Pertama dari tidak adanya alasan jelas mengapa harus ada verifikasi. Kedua, dari tulisan selanjutnya:

Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!). Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.

Prof Sarlito membaca dari literatur astrologi mana yang menyatakan manusia berbintang Leo sifatnya galak? Itu benar ada atau cuma kira-kira Prof Sarlito? Tidak jelas. Di sini kembali terlihat logika yang premisnya muncul dari dasar laut. Itu menunjukkan argumen itu disusun asal ngomong, bukan karena benar-benar tahu apa yang diomongkan.

Dan penilaian Prof Sarlito disini pun seolah dia sterilkan dari verifikasi. Bagaimana memverifikasi bahwa memang belum pernah ada penelitian yang mengkaji hubungan astrologi dan kepribadian? Ini saya buktikan kalau logika Prof Sarlito muncul dari dasar laut. Ternyata ada kok peneliti dari University of Georgia, yang meneliti hubungan antara astrologi dengan personality traits dan menemukan hubungannya:

Hyokjin Kwak; Astrology: Its Influence On Consumers’ Buying Patterns And Consumers’ Evaluations Of Products And Services, linknya

Begitu juga komentar Prof Sarlito mengenai Sidik Jari dalam kutipan di atas, tidak bisa diverifikasi darimana asalnya. Bahkan, terlihat bahwa Prof Sarlito tidak menguasai dengan benar premis yang mendasari, walau dalam tulisannya mengutip pemikiran Sir Francis Galton dan sejumlah pemikir lain yang mengembangkan telaah sidik jari.

Saya sependapat dengan komentar Nuruddin Asyhadie di FB mengenai tulisan Sidik Jari, bahwa dengan apa yang Prof Sarlito lakukan sekarang (keterlibatannya dalam riset psikologi dan psikologi kriminal), dan reputasinya sebagai psikolog, kukira seharusnya Prof Sarlito tahu dengan baik posisi wacana fingerprint atau dermatoglip dengan psikologi sejak penyelidikan Galton, Bapak Psikometri, mengenai ras dan kecerdasan dengan fingerprint, sampai penggunaan korelasi NGF (Nerve Growth Factor) dan EGF (Epidermal Growth Factor) yang ditemukan oleh Rita Levi dan Dr. Stanley Cohen, yang membuat keduanya meraih nobel.

Keprofesoran Sarlito seharusnya ditunjukkan dengan membuat antitesis dari sejarah panjang tersebut. Itu baru kita bisa bicara ilmiah dan tidak ilmiah. Tradisi semacam inilah yang perlu dikembangkan dalam psikologi di Indonesia, sehingga komentar-komentar yang mengatasnamakan keilmiahan, alih-alih ilmiah justru nampak genit dan reaktif. Perlu disadari juga bahwa sebuah tulisan kritis, bukan berarti bisa mensterilkan dirinya dari kekritisan.

Ada sebuah kritikan menarik dari Karl Raimund Popper, tokoh pospositivis, yang mengkritisi Vienna Circle dan cara berpikirnya. Popper mengatakan bahwa, pengetahuan selayaknya bukan mempertahankan (memverifikasi) yang sebelumnya sudah dianggap ilmiah, namun juga memfalsifikasi. Artinya, suatu pengujian justru harus dilakukan untuk melihat kemungkinan apa yang selama ini dipercayai benar ternyata mungkin saja salah, dan sebaliknya, yang dianggap salah justru mungkin menjadi benar.

Popper mengambil perumpamaan, bahwa untuk menggugurkan tesis bahwa semua angsa adalah putih, cukup diperlukan satu angsa hitam. Maka itu, janganlah membuat pernyataan: ‘Tidak ada angsa berwarna hitam’, melainkan ‘Belum ada angsa berwarna hitam’. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan akan selalu terbuka akan hal-hal baru dan bukan semata memertahankan hal-hal lama.

Saya merasa perlu menuliskan ini, selain memenuhi ajakan menanggapi dari Ellen Kristi, juga karena melihat bahwa perdebatan mengenai fingerprint ini, nampaknya sama sekali tidak ilmiah karena banyaknya orang yang mendebat dengan model seperti Prof Sarlito, yaitu tanpa menguasai premisnya dengan baik, dan bicara mengatasnamakan ilmiah tapi tidak ada argumen ilmiahnya. Ini membuat, perdebatan mengenai fingerprint tidak pernah sampai ke ranah ilmiah.

Silahkan anda kuasai dulu apa itu ilmiah, baru kita bicara keilmiahan.

Sumber


Jika punya istri seorang psikolog, Anda mungkin merasa tenang. Sebab namanya psikolog, pasti tahu cara terbaik dalam mendidik anak. Perempuan yang foto bersama saya (Jonru) ini adalah Miss Hiday, seorang sarjana psikologi dari UGM. Sudah punya dua anak perempuan yang cantik dan imut. Miss Hiday adalah seorang pendidik anak. Dia sukses dalam mendidik banyak anak orang lain, tapi justru dia merasa gagal mendidik anaknya sendiri.

“Kapan sih, mama mati?” Begitu ujar anak sulungnya, suatu hari, membuat Miss Hiday merasa sangat shock. Tentu saja. Orang tua mana yang tak sedih jika mendapat pertanyaan seperti itu dari anak kandungnya?

Miss Hiday pun merenung, memohon ampun pada Allah. Dia merasa telah gagal mendidik anaknya sendiri. Ilmu psikologi yang dia pelajari, ternyata tidak cukup untuk dijadikan pedoman dalam mendidik anaknya. Selama ini dia merasa telah mendidik anaknya dengan cara yang benar. Namun hasilnya, anak sulungnya benci luar biasa padanya, sampai-sampai ingin ibunya segera mati.

Suatu hari, Miss Hiday berkenalan dengan ‪STIFIn‬. Dari sanalah dia tahu bahwa ‪Mesin Kederdasan‬ anak sulungnya adalah FEELING. Anak Feeling versi STIFIn seharusnya di didik dengan lembut penuh cinta, tapi selama ini lebih sering dimarahi, dibentak, dan seterusnya. Hasilnya, si anak jadi sakit hati, memendam amarah, lalu benci luar biasa padanya. Maka, Miss Hiday pun mengubah cara dalam mendidik si anak. Cara yang disesuaikan dengan karakter anaknya yang Feeling. Dan kini, alhamdulillah si anak sudah sangat menyayangi ibunya. Mereka pun akur penuh cinta.

Pengalaman Miss Hiday ini membuat saya makin yakin bahwa STIFIn hadir untuk menyempurnakan ilmu psikologi yang selama ini kita kenal. Bahkan terbukti STIFIn ilmiah, karena tingkat akurasinya 95 persen.

Jadi siapa bilang STIFIn tidak ilmiah, dukun modern dan sebagainya?

—- Tulisan dan gambar ini bersumber dari Fans Page nya Jonru.


Fakta menarik tentang otak serta Perbedaan Wanita dan Pria

Seminar yang diadakan komite SDIT Darul Quran Mulia Serpong itu bertajuk
“Mengenal dan memahami perbedaan otak wanita dan pria .”

Dalam benak saya sudah terbayang cerebrum, otak kecil, amygdala atau istilah biologis lainnya. Dan wow…ternyata saya salah besar! dr. Aisyah Dahlan membungkus apik materi dan menyuguhkan fakta baru yang unik. Cerdas dan humoris, tak heran para peserta betah berlama-lama duduk hingga akhir acara. Karena saya datang agak terlambat mungkin banyak materi pembuka yang terlewat. Sambil momong si kecil, kurang lebih seperti ini beberapa point yang bisa saya sampaikan.

1. Anatomi cerdas

Di dalam cerdas ada banyak pintar yang saling terhubung. Maka tak bisa dikatakan cerdas jika seseorang bisa dengan mudah menyelesaikan soal trigonometri tetapi tak bisa membuat telor ceplok atau mie instan (Lhoh??). Tenang, cerdas ini bisa dilatih kok, misalnya dengan banyak belajar sering latihan, jalan-jalan dan silaturahim.

2. Otak Kiri dan Otak Kanan

Otak kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan, bekerja untuk mengingat kata-kata, matematika, verbal, logis, fakta, analisa, syair, nyanyian, lineal, detail dan lebih teratur. Sedang otak kanan cenderung kepada kreatif, warna,artistik, visualisasi, intuisi, gagasan, khayalan, holistik, music, bentuk dan ruang.

3. Otak kiri pada wanita berkembang lebih cepat daripada pria

Perbedaan Otak Wanita dan Pria dalam perkembangannya di masa balita.

Pada usia 0-6 tahun otak kanan dan kiri wanita tumbuh dengan kecepatan yang berimbang. Sedangkan pada pria otak kanan berkembang lebih cepat daripada wanita. Meski demikian, otak kanan pria berkembang lebih cepat daripada otak kiri wanita. Tak heran jika pada usia sekolah banyak wanita mendapat ranking di kelasnya, lebih cepat kemampuan membaca dan menulisnya. Anak pria yang mungkin merasa kurang dalam lisan, kesenian dan matematika merasa terintimidasi dan akhirnya lebih senang membuat kekacauan dan keributan. Semoga dengan mengetahui fakta ini bunda lebih bisa memahami anak laki-lakinya dan tidak membedakan dengan saudara perempuannya.

Perbedaan Otak Wanita dan Pria dalam perkembangannya di masa dewasa.

Pada usia 6-12 tahun otak kanan dan kiri pria akan mulai berkembang dan baru berkembang beriringan menginjak usia 18 tahun. Pada usia itulah pria akan menduduki posisi penting semisal ketua senat, ketua BEM, memimpin orasi dan lain sebagainya. Sedang wanita akan kembali ke fitrah yakni menjadi seksi konsumsi, bendahara, sekretaris, dan sebagainya. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa di beberapa negara di luar negeri anak laki-laki dan perempuan belajar di tempat terpisah. Anak laki-laki akan belajar dengan praktik secara langsung menggunakan komputer, robotic, dll sedang anak perempuan akan cukup meski belajar hanya dengan kertas dan buku.

4. Otak perempuan terhubung lebih baik dan otak pria dibuat untuk pekerjaan khusus.

DR. Rober Groski, ahli neurologi dari Universitas California, Los Angeles menemukan bahwa corpus collosum pada otak wanita lebih tebal daripada pria sehingga wanita mampu mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak saling berhubungan dalam satu waktu. Kita sering menyebutnya multitasking. Maka wajar jika seorang ibu bisa saja menggoreng tempe sambil menyuapi si kecil dan menemani kakak belajar sembali sesekali melirik smart phonenya. Berbeda dengan pria yang hanya bisa menekuni satu hal. Dan ketika ia sedang berkonsentrasi, tanpa disadari pendengaranya akan menurun. Menurun ya, bukan berkurang. Jika anak laki-laki atau suami bunda tak menyahut panggilan ketika ia sedang serius maka saatnya bunda bilang, “Wow…laki banget!” hehe. Stop memanggil berulang-ulang karena hanya akan menghabiskan energi. Datangi dan colek bahunya saja mungkin lebih efektif. Mungkin hal ini berkaitan pula dengan sudut pandang. Wanita memliki sudut pandang yang lebar sedang pria bersudut pandang lurus namun panjang.

5. Letak emosi

Pada pria umumnya terletak di sebelah kanan yang berarti perasaan dapat bekerja secara terpisah dari fungsi-fungsi otak yang lain. Contoh pria berdebat dengan kata-kata di otak kiri tanpa emosional. Pada wanita, titik emosi tersebar pada kedua belahan otak. Perasaannya menjadi lebih aktif serempak bersama dengan fungsi otak lain. Contoh : wanita bisa menangis ketika mengganti ban yang kempes

6. Reaksi Otak

Perbedaan Otak Wanita dan Pria dalam hal reaksi otaknya. Otak kanan wanita tersusun untuk bereaksi dengan orang dan wajah-wajah sedang otak pria pada benda dan bentuknya. Jika suami lebih senang mengotak-atik laptopnya ketimbang melihat wajah anda, bukan berarti wajah anda tidak cantik bund! (menghibur diri dan curhat, hehe).

7. Cara Menyimak

Perbedaan Otak Wanita dan Pria ketika menyimak. Di sepuluh menit pertama, wanita bisa berkali-kali berubah ekkspresi. Contoh ketika secara tak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya di pusat perbelanjaan. Pasti sangat hebring dengan ucapan semisal “Ehh Apa kabar??” “Ah Masa sih??”” Iya gitu??” “Hihi bisa aja jeng” dan ucapan yang senada diikuti dengan mimik serta gestur yang berubah-ubah pula. Pria cenderung datar dan kurang ekspresif. Maka lebih bijak bagi para bunda untuk menunggu selama 10 menit sebelum mengajak suami mengobrol sepulang kerja.

8. Keinginan

Wanita menginginkan hubungan dan kerjasama. Pria menginginkan kekuasaaan, kedudukan dan bersaing. Pernahkan anda melihat seorang pria dalam suatu seminar berkata pada temannya, “Ke kamar mandi yuk..!” hoho pasti tidak. Pria akan fokus, ke kamar mandi ya ke kamar mandi. Wanita yang memang menyukai hubungan biasanya mengajak temannya pergi ke toilet. Belum kalau sedang mengantri, melihat teman sebaya yang juga sedang mengantri di sebelah pasti tak tahan untuk bilang, “dari mana mbak?”

9. Apa Yang Di Hargai ?

Wanita menghargai hubungan dan pria menghargai pekerjaan. Jika wanita tidak bahagia dalam hubungan keluarga maka ia tak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, sebaliknya laki-laki tidak dapat memusatkan perhatiannya pada keluarganya jika ia tak bahagia dalam pekerjaannya

10. Beberapa Perbedaan Wanita dan Pria

  • Pria lebih suka berterus terang sedang wanita tidak. Contoh : “Bunda marah ya?” “Enggak!”
  • Pria bicara apa adanya, wanita dengan perasaan
  • Bila curhat, wanita hanya ingin di dengar, pria menawarkan solusi.
  • Wanita mungkin kesulitan membaca peta atau petunjuk jalan, pria tahu arah dengan pasti
  • Berbelanja adalah kegembiraan bagi wanita namun sebuah teror bagi pria.
  • Wanita butuh bicara jika tertekan sedang pria tidak

Itulah Perbedaan Otak Wanita dan Pria yang mendasar. Allah jadikan berbeda untuk saling melengkapi agar tercipta sakinah mawaddah warahmah.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS 30:21)

Perbedaan Otak Wanita dan Pria ini di Kutip dari Seminar di SDIT Darul Qur’an mulia

Nara sumber : Dr Aisyah dahlan.


Ada beberapa penyebab anak lama bicara, mengalami lambat bicara, cadel/pelo, bahkan tidak bisa bicara sama sekali ;

PRA NATAL (masa kandungan) : Ortu stress berat, konsumsi obat berlebihan, pola hidup tidak sehat, dan sebagainya

NATAL (masa kelahiran) : caesar/vacum/tang, keracunan ketuban, ketika lahir tidak langsung menangis.

Itulah sebabnya bayi diupayakan berbagai cara oleh dokter/bidan/perawat agar menangis ketika lahir, seperti dipukul pantatnya. Jadi bukan mereka jahat ya guys.

Semakin lama jeda si bayi tidak menangis maka semakin tinggi tingkat komplikasi permasalahannya kalau dari konteks ranah bicara ya.

PASCA NATAL (Setelah lahir).

Nah ini yang biasanya jauh lebih complicated. Tidak boleh panas tinggi lebih dari 37 derajat atau step. Atau juga tidak sampe step tapi panasnya 3 hari 2 malam di angka 27 derajat celcius karena bisa merusak sistem operasi otak di pusat yang bernama BROCA (itu pusat bicara)

Nah, penyebab anak lama bicara brikutnya;

1. Pola Asuh.

Hal ini terjadi biasanya bilingual, kurang dikasih stimulus, ngajarin anaknya pake bahasa anak-anak (makan dibilangnya maem, minum dibilangnya mimi, susu dibilangnya cucu, dsb). Buat sebagian orang ini lucu & menggemaskan padahal proses pembelajaran bahasa jadi agak terganggu

2. Pola Makan.

Orang tua atau khadimat (pengasuh anak) inginnya simple/terlalu nurutin kemauan anak. Anak dikasih makan yang lembek-lembek secara berlebihan. Seperti hampir tiap hari makannya bubur, mie, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan organ motorik mulut & rahangnya kurang teruji. Itulah sebabnya buat sebagian orang tua sebagai proses transisi bayi biasanya dikasih makan pisang ambon.

Atau anak hanya mau makan menunya itu-itu saja padahal anak perlu dikenalkan varian yang lain. Bukan masalah porsinya tapi proses pengenalannya sehingga metabolisme tubuhnya tidak defensif.

3. IQ-nya dibawah/kurang dari 90, juga bisa menjadi sebab anak lama bicara.

4. Dinding langit-langit mulut terlalu tinggi ke atas sehingga lidahnya tidak bisa menekuk/bibirnya pecah (sumbing).

5. Adanya gangguan pendengaran / tuli (tuli parah 50-100 db).Tapi bisa juga ketulian dibawah/kurang dari 50 db tapi tidak ditangani secara cepat seperti pemakaian alat bantu.

Nah, biasanya ketika saya dapat kasus anak lama bicara, dianalisis dulu pra natal, natal, & pasca natal

Tapi dari sekian puluh klien yang saya tangani rata-rata karena anak lama bicara, pas usia 2 tahun pernah sakit panas/kejang.

Untuk penanganan/treatment biasa, standar terapi wicara. Hanya aja ada beberapa yang saya modifikasi dengan pendekatan murah meriah tapi Insya Allah efektif. Orang tua ngak perlu keluar banyak uang ke terapis, kalo lidah gak bisa ditekuk/dilipat atau gak bisa nempel di gigi >> sikat lidah saja.

Oleh : Benny Al Farisi

Pakar Terapis Anak dan Konselor STIFIn


Minat Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI), artinya kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, bisa juga diartikan sebagai gairah atau keinginan. Bahas Inggris, minat sering digambarkan dengan kata “interets” atau “passion””. Interest, bermakna suatu perasaan ingin memperhatikan dan penasaran akan sesuatu hal. Passion, bermakna minat yang kuat atau gairah atau perasaan yang kuat atau antusiasme terhadap objek.

Minat merupakan ketertarikan akan sesuatu yang berasal dari dorongan dalam hati atau bakat, dorongan dalam diri sendiri bukan karena paksaan orang lain. Minat yang di miliki seseorang adalah hasil dari proses pemikirian, perasaan (emosi), dan pembelajaran, sehingga menimbulkan suatu keinginan untuk lebih menguasai objek atau kegiatan tertentu.

Minat anak akan terlihat pada usia pra sekolah sampai dengan usia sekolah. Pada usia prasekolah anak mulai mengeksplorasi hal-hal baru disekitarnya dan memiliki inisiatif untuk mempelajari hal baru tersebut. Sedangkan pada usia sekolah, anak telah berfokus pada penyelesaian tugas sekolah (PR). Terkadang hal ini juga akan membangun ketertarikan anak pada suatu objek atau tugas yang diselesaikannya.

DATANGNYA MINAT

Minat bisa lahir dari dalam diri si anak dan juga karena pengaruh lingkungan.

1. Minat yang lahir karena dorongan dari dalam diri si anak. Dorongan ini dipengaruhi dari bakat alami yang telah diberikan Allah (given) kepada anak. Biasanya minat yang tumbuh dari dalam diri anak, sulit baginya menjelaskan mengapa ia menyukai sesuatu. “kenapa ya? yaa. suka aja, demikian jawabnya jika ditanya. Minat ini kadang juga disebut Minat “bawaan lahir”, minat karena adanya dorongan dari bawaan bakat alami si anak.

2. Minat yang lahir karena pengaruh lingkungan. Lingkungan keluarga, dorongan dari orang tua, tempat tinggal atau teman sepermainan. Misalnya seorang anak yang minat berjualan (berdagang), karena ia lahir di lingkungan pedagang, ayah ibunya pedagang, dan tinggalnya dekat dari pasar (pajak). Oleh karena itu diperlukan Tes Bakat untuk mengetahui apakah ia memiliki bakat alami (genetik) berdagang atau tidak. Jika dari hasil tes bakat anak memiliki bakat dagang, maka minat anak bisa diteruskan.

Minat anak yang terbaik adalah jika berasal dari Bakat Alaminya anak. Sebab ini akan menjadikan anak lebih mampu untuk konsisten dalam melakukannya. Lebih senang tanpa ada beban.  Jika anda ingin mengetahui minat sejati anak anda maka lakukanlah Tes Bakat dengan menggunakan Fingerprint Tes STIFIn.