Tentang Grup Telegram SupervisSI

Member grup telegram supervisSI ini adalah :

  1. Solver, trainer, licensed promotor, dan certified promotor STIFIn yang menjadikan penjualan tes STIFIn dan produk-produk lanjutannya (sesi privat, training, jasa konsultasi, dll) menjadi salah satu dan/atau satu-satunya penghasilan utama
  2. Para peserta tes STIFIn yang telah merasakan manfaat luar biasa STIFIn dan ingin berbagi manfaat seluas mungkin

Tujuan Dibentuknya Grup supervisSI :

  1. Menjadi wadah produktif dan proaktif bagi para pegiat STIFIn yang all out bersemangat menyebarluaskan konsep STIFIn sebagai sebuah amal kebaikan dan pada saat yang sama menjadi sumber penghasilan yang sangat bagus
  2. Memudahkan komunikasi dan koordinasi antar pegiat STIFIn sebagaimana dimaksud pada poin 2.a untuk menghindari miskomunikasi di lapangan, terutama di depan calon customer/klien yang bisa berdampak kurang baik terhadap STIFIn, cabang, maupun promotor.
  3. Sarana pembelajaran, berbagi ilmu dan pengalaman, berbagi tips dan trik dalam menyebarluaskan konsep STIFIn ke seluruh Indonesia.
  4. Sarana berbagi informasi peluang yang bisa dikerjasamakan dan disinergikan

Grup supervisSI adalah workgroup atau grup kerja, sehingga :

  1. WAJIB proaktif posting pengalaman, informasi, dan pertanyaan yang bermanfaat untuk menyebarluaskan virus STIFIn ke seluruh Indonesia
  2. WAJIB berinteraksi. Keaktifan interaksi akan dievaluasi berkala. Jika tidak aktif maka akan dikeluarkan dari grup
  3. WAJIB menjadi produsen ilmu. Jangan ragu bertanya dan jangan ragu pula untuk menjawab
  4. WAJIB menjaga prinsip utama dalam STIFIn yaitu mengakui keberagaman. HINDARI debat kusir dan/atau merasa paling benar.
  5. WAJIB meluangkan waktu minimal sebulan sekali untuk kopdar atau bertemu tatap muka langsung dengan sesama member supervisSI jika memungkinkan secara jarak dan waktu.
  6. DILARANG posting apapun yang mengandung SARA, ujaran kebencian (hate speech), dan dilarang oleh peraturan di Indonesia
  7. DILARANG memancing, memulai, dan terlibat dalam diskusi perdebatan panjang yang tidak produktif (debat kusir)
  8. DILARANG posting iklan apapun
  9. DILARANG posting foto copas dan/atau copas broadcast yang beredar di grup2 mesaging lain
  10. DILARANG membocorkan informasi penting, informasi pribadi, atau informasi apapun yang bersifat rahasia/personal kepada selain anggota grup supervisSI
  11. TIDAK ADA batasan waktu posting. Waktu posting bebas 24 jam tidak ada larangan.
  12. DIPERBOLEHKAN bercanda, senda gurau, dan hal-hal yang ringan dan tidak ada hubungan langsung dengan STIFIn hanya jika tidak ada pembahasan serius di group.
  13. DILARANG menggunakan BAHASA DAERAH yang membuat Roaming member yang beda daerah. Apalagi Bahasa Asing. Gunakanlah Bahasa Indonesia dalam Group.

ETIKA GROUP SUPERVISSI :

  1. Memperkenalkan diri dan saling mengenal antar anggota supervisSI
  2. Jangan menyela pembicaraan/percakapan yang sedang terjadi tanpa memohon ijin dan persetujuan dari pihak-pihak yang sedang berdiskusi
  3. Tidak berpanjang lebar ketika mengucapkan simpati atas kabar baik maupun kabar buruk dari salah satu member. 3x ucapan sudah cukup mewakili. Panjatkan doa dalam sholat dan ibadah sesuai agama masing2, tanpa harus memenuhi lalu lintas informasi di grup.
  4. Tidak menyebarluaskan informasi dari grup ini tanpa pemberitahuan dan persetujuan

Nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam Group SupervisSI ini adalah :

POSITIVE THINKING

Semua dinamika di grup sebaiknya dilandasi dengan mentalitas positif. Mari melatih diri untuk menghindari negative thinking, prasangka buruk, kecurigaan berlebihan, pesimisme, apatis, dan aneka pemikiran negatif yang lain.

JUJUR dan TERBUKA

Sampaikan apa yang anda rasakan secara terbuka dan apa adanya. Hindari pembicaraan di belakang punggung. Tuntaskan terbuka di grup hal-hal yang menjadi ganjalan. Jika dirasa perlu, akan lebih baik lagi jika dilakukan secara langsung (kopdar, offline, tatap muka, dll)

SHARING

Semua member supervisSI ini siap untuk berbagi informasi yang bermanfaat bagi sesama pegiat STIFIn

CARING

Peduli kepada masyarakat Indonesia yang belum merasakan manfaat STIFIn. Peduli kepada sesama member supervisSI dengan saling mengingatkan dan saling menguatkan.

ENERGI POSITIF

Meyakini bahwa semua perbuatan di dunia ini tercatat dan terhitung serta akan menghasilkan energi dalam 2 (dua) kategori besar yaitu energi positif dan energi negatif. Maka selain diniatkan sebagai sebuah ikhtiar bisnis, semua hal yang dibagikan di grup ini juga diniatkan sebagai penambah tabungan energi positif.

BAGI HASIL

Sebagai pegiat STIFIn yang menjalankan usaha perdagangan/bisnis tes STIFIn, maka sudah selayaknya memberikan bagi hasil kepada pihak-pihak yang terlibat dan berkontribusi

PROFESIONAL

Sebagai pelaku bisnis, maka member supervisSI menjunjung tinggi etika yang berlaku umum di dunia bisnis. Sebagai pembelajar, member supervisSI menjunjung tinggi etika yang berlaku umum di dunia pendidikan.

PROPORSIONAL

Menganut prinsip keseimbangan dan/atau takaran yang pas. Jangan terlalu serius namun juga jangan kebanyakan bercanda, boleh sangat bersemangat mengejar keuntungan bisnis namun jangan lupakan sedekah, boleh menghargai mahal ilmu dan pengalaman yang sudah dimiliki namun jangan lupa untuk berbagi, dll.

Penegakan Aturan

  1. Seluruh poin yang sudah disampaikan di atas bertujuan untuk menjaga dan mengawal tujuan dibentuknya grup telegram ini yaitu untuk menyebarluaskan konsep STIFIn ke seluruh Indonesia secara masif, terstruktur, dan sistematis
  2. Seluruh poin yang sudah disampaikan di atas akan ditegakkan oleh para admin
  3. Pelanggaran dari salah satu aturan akan dikenakan sanki teguran secara japri dan secara terbuka di grup. Jika telah mendapat teguran 3x maka pada teguran yang keempat otomatis yang bersangkutan akan dikeluarkan dari grup telegram. Teguran akan hangus setelah jangka waktu 1 (satu) bulan.
  4. Member supervisSI yang sudah dikeluarkan dari grup berhak mengajukan permohonan untuk masuk lagi setelah minimal 6 (enam) bulan terhitung dari tanggal dikeluarkan

Terima kasih sudah bergabung di grup telegram supervisSI. Pastikan anda membaca seluruh penjelasan berkaitan dengan grup ini.

Terima kasih. Happy Selling! Happy EPOS!


JANGAN JADIKAN “STIFIn” SEBAGAI PEMBENARAN ATAS KEKURANGAN DIRI

Beberapa tahun terakhir ini saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk mempelajari ilmu pengembangan diri yang disebut STIFIn. Perkenalan pertama kali saya dengan STIFIn ketika mengikuti TFT 1 Pak Jamil Azzaini di Jogja tahun 2009 adalah salah satu lembaran penting dalam kehidupan saya. Kemudian saya merasa “gue banget”, menemukan “missing puzzle” dalam kehidupan, dan merasa lebih mudah untuk menemukan jalur terbaik kehidupan. Yang membuat saya yakin untuk banting setir dari dunia desain bangunan menjadi (bergeser sedikit) ke dunia desain kehidupan. (Beda tipis kan? Hehehe.)

Seiring dengan perjalanan waktu, selain ilmu yang semakin luas saya dapatkan, saya pun berkenalan dengan banyak teman baru, yang sebagian besar diantaranya bahkan telah menjadi seperti saudara dengan hubungan yang sangat dekat. (Tapi sayangnya kok nggak ada yang jadi istri ya? ‪#‎eh‬ ‪#‎kode‬.)

Beberapa hari lalu menjadi hari yang istimewa ketika ketemu dan terlibat “perbincangan seru dengan seorang sahabat lama”. Artinya : sudah kenal lama, sudah seperti sahabat, tapi berbincang ya baru kemarin itu. Seru kan?

Dan siang itu saya merasa dihajar habis-habisan terutama ketika sahabat saya itu cerita betapa “seru”-nya status-status saya di facebook, terutama pada musim pilpres beberapa waktu lalu. Sambil beliau menyampaikan pendapatnya, seolah di depan saya berkelebat berbagai penjelasan Pak Farid Poniman tentang Karakter Mesin Kecerdasan Insting. Semuanya “Gue Banget”! Cuma sayangnya “gue banget” yang versi negatif. Hahahaha. Betapa saya sangat responsif, temperamental, dan di saat yang sama juga on-off nya sangat tinggi. Habis ngamuk-ngamuk tetiba becanda, eh setelah ketawa-ketawa kemudian emosi lagi. Trus habis itu nyesel. Tapi besoknya terulang lagi. Parah dah. Hahaha.

Setelah ketawa-ketawa dengerin cerita beliau, tetiba saya tertohok oleh sebuah fakta : lho, saya udah belajar STIFIn sejak 2009 tapi ternyata masih begitu-begitu aja perilaku saya ya? Masih Insting banget versi on the spot eh versi negatifnya ya? Masih belum bisa move on dari Level Personality. Padahal level Personality adalah level terendah. Sangat jauh dari gambaran terbaik seorang Insting. Aduh.

Maka pada saat itu saya ber istighfar dan kemudian dalam hati berterima kasih kepada sahabat saya ini. Yang mengibaratkan dirinya sebagai seseorang yang berada di “teras rumah STIFIn”. Yang pernah masuk ke dalam rumah STIFIn tapi kemudian merasa lebih nyaman duduk menyendiri di teras dibanding ngobrol berinteraksi di dalam rumah. Tapi juga tidak seperti sebagian yang lain, yang meninggalkan rumah STIFIn dengan penuh kekecewaan atau bahkan kemarahan.

Beliau bercerita bahwa potret seperti saya ini hanyalah salah satu dari sekian banyak potret-potret para peggiat STIFIn. Siapakah pegiat STIFIn itu? Yaitu mereka yang aktif mengkampanyekan STIFIn. Serunya, beliau menyatakan bahwa potret-potret tersebut menggambarkan hal yang sama. Yaitu masih di Level Personality. Yang menggambarkan setiap Mesin Kecerdasan dengan semua kutub positif dan negatifnya.

Yang gampang banget ngomong :

“ya kan saya Thinking, emang susah lah terima pendapat orang lain.”
Sensing kan gitu. Saya nggak bisa ngerjain kalo ga ada contohnya.”
“Lebay gpp lah. Secara aku Feeling gitu loohh…”
“Emang susah ngikutin aturan kalo Intuiting kayak saya gini.”
“Bawaan Insting kali ya? Jadi emang saya ngga bisa fokus.”

…dan beliau menyampaikan ketidak nyamanannya berinteraksi dengan orang-orang seperti itu (salah satunya : Saya!). Yang belajar banyak tentang STIFIn namun kemudian hanya untuk mendapatkan pembenaran atas kekurangannya. Yang seru membahas kelemahan masing-masing namun hanya sebagai lucu-lucuan, tanpa adanya satu aksi konkret untuk memperbaiki diri.

Deg! Seolah jantung berhenti mendengar cerita beliau. Terutama karena saya saat ini sedang mendapat tugas untuk mengelola STIFIn Institute, yang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyebarluaskan STIFIn ke seluruh Indonesia. Maka kemudian saya kembali ber istighfar, memohon ampun kepada Allah atas sering hadirnya perasaan merasa sudah hebat. Merasa sudah banyak paham tentang STIFIn. Ternyata tentang diri saya pun saya belum paham. Dan ternyata saya belum praktekkan. Kalo dilihat dari Taksonomi Bloom, ternyata saya baru sebatas ingat atau hafal saja. Masih jauh dari menerapkan, menganalisa, dst. Saya lebih sering merasa hebat dibandingkan menjadi hebat.

Alhamdulilah, Allah masih sayang sama saya. Masih bersedia mengirimkan seseorang untuk menampar saya. (Cuma kenapa namparnya kuenceng banget, ya Allah… hehehe…)

Bismillah, memulai hari dan memulai minggu dengan niat untuk menjadi seorang Insting yang selalu berusaha untuk menaikkan level kepribadian saya. Menjadi seorang Insting yang sederhana, berfokus pada kepentingan yang lebih besar, mementingkan orang lain, cepat tuntas, merangkul potensi-potensi yang ada, mempermudah, memperlancar, tidak membebani, mengalir, pragmatis berdaya guna, dan berperan aktif dalam program kemanusiaan. Semoga Allah mudahkan langkah kaki dan upaya saya serta sahabat-sahabat  saya para pegiat STIFIn untuk menjadi hebat. Aamiinn.

Sumber Catatatn Andhika Harya
Direktur Eksekutif STIFIn Institute

Dari Judul aslinya : Menjadi Hebat atau Merasa Hebat


Suatu ketika saya di minta oleh seorang kenalan yang juga anggota sebuah komunitas, untuk mengisi materi tentang Mengenal Bakat dengan Konsep STIFIn di salah satu Group WhatsApp nya komunitas mereka, setelah saya cari tahu tentang komunitasnya, ternyata cukup dikenal di Indonesia. Karena mendapat tawaran untuk share tentang STIFIn maka saya menyambut baik, dan siap untuk dijadwalkan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, niat kenalan saya itu untuk menjadikan saya sebagai nara sumber di Group WhatsApp mereka, dibatalkan, karena diantara sesama anggota group komunitas mereka banyak yang pro dan kontra dengan Tes Finger Print  dikarenakan tulisan seorang Prof Sarlito Wirawan.

————

“Mas Fery, ternyata STIFIn masih mengundang Pro Kontra. Jadi belum dulu ya sharing ilmu di Komunitas ……….”

Pro Kontranya gimana tuh, kalau boleh tau,.. jawab saya.

Ya tidak sependapat. Masa pendidikan anak tergantung sidik jari. Gampang bangets. Ada juga yang uplod pendapat psikologi tentang kontra Sidik Jari. Ada yang sependapat juga.

Kalau masalah seperti itu udah sering kita hadapi. Gpp pak., jawab saya..

Karena penasaran, saya tanya..

Kalau boleh tau pak, pendapat psikologi mana yang menjadi pro kontra di komunitas bapak?

Teman saya mengirimkan link tentang Pendapat Prof Sarlito Wirawan yang mengatakan Tes Sidik Jari Penipuan.

Hmm.. saya sudah menebaknya pak…

———————–

Seperti apa isi artikelnya Prof Sarlito Wirawan ? Banyak web yang mengutip Artikel Prof Sarlito Wirawan yang di muat di Koran SINDO 15 Mei 2011. Jadi sangat mudah untuk anda menemukannya dengan kata kunci “Prof Sarlito Wirawan Tes Sidik Jari Penipuan”, tapi beberapa sumber terutama dari media online ternama, saya menemukan linknya error, kemungkinan sudah dihapus artikelnya.

Ada juga saya menemukan respon dari seorang yang mengatakan bahwa Artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut tidak Ilmiah padahal ia membahas tentang keilmiahan dalam artikelnya. Sedikit saya kutip komentarnya:

Pertama soal klaim bahwa beliau (Prof Sarlito Wirawan) telah melakukan pencarian jurnal dan tidak menemukan sama sekali. Klaim itu patut diragukan karena dengan mesin pencari Google saja bisa ditemukan banyak. Cuma ada dua kemungkinan, Prof Sarlito mencari di tempat yang memang tidak ada, atau klaim itu lebih merupakan dramatisasi padahal tidak dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan tambahan bahwa telah menemukan 40.000 dan tidak ada satupun yang berhubungan, dari situ saja sudah tidak ilmiah kalau ada orang bisa membaca 40.000 jurnal dalam tempo hanya beberapa hari.

Lebih lengkap seperti apa isi Komentarnya bisa dibaca disini.

Akan tetapi apa yang paling penting yang ingn saya sampaikan disini adalah, sebuah respon dari Bapak Farid Poniman atas tulisan Prof Sarlito Wirawan yang hanya beredar di kalangan internal STIFIn saja. Tapi, ternyata saya lihat sudah banyak beredar di Internet juga. Nah, seperti apa tanggapan dan respon Bapak Farid Poniman selaku penemu Konsep STIFIn Finger Print atas artikel Prof Sarlito Wirawan tersebut bisa anda baca lengkapnya : Respon Terhadap Artikel Prof Sarlito Wirawan dalam format PDF atau bisa juga di baca di sini Jawaban Bapak Farid Poniman.

Semoga tulisan ringan ini  dapat menjadi bahan bagi kita dalam mengambil keputusan.


Inilah Penyebab Hilangnya Rasa Minder Saya

Oleh: Jonru

Anda mungkin tak percaya: Sebenarnya saya aslinya minderan, terutama saat berhadapan dengan orang yang menurut saya levelnya jauh di atas saya. Namun ketika bertemu pak Farid Poniman, sang penemu ‪‎STIFIn‬, pada Workshop STIFIn Level 1 di Jakarta tanggal 19 April 2015, rasa minder sama sekali tidak ada. Justru saya sangat percaya diri ketika menyapa dan mengajak beliau ngobrol.

Padahal dalam pandangan saya, pak Farid termasuk orang yang levelnya jauh di atas. Beliau seorang penemu, trainer kelas atas, dan hidupnya relatif sudah sukses. Biasanya, saya mana berani mengajak ngobrol orang seperti beliau. Bisa menyapa dengan singkat saja, rasanya sudah sangat luar biasa.

Apa yang membuat saya bisa bersikap penuh percaya diri di depan Pak Farid? Alhamdulillah, semua ini karena saya sudah kenal STIFIn.

Mohon maaf, JANGAN SALAH PERSEPSI. Keliru jika Anda mengartikan STIFIn sebagai obat atau terapi untuk mengatasi rasa minder. Hehehe… itu salah, Sayang.

STIFIn adalah sebuah metode untuk mengenal ‪Mesin Kecerdasan‬ seseorang melalui tes sidik jari (finger print). Setelah tes, kita jadi mengenal diri sendiri dengan sejelas-jelasnya, dan tahu jalan terbaik mana bagi kita untuk meraih masa depan yang GUE BANGET.

Jadi sekali lagi, STIFIn bukan terapi percaya diri atau semacam itu. Namun jika rasa percaya diri kita meningkat setelah kenal STIFIn, anggap saja itu sebagai salah satu manfaat bonusnya. Itulah yang saya alami!

Semuanya berawal dari Youtube, ketika saya menonton sejumlah video, di mana pak Farid Poniman tampil di depan kamera, memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis mesin kecerdasan.

Saat itu, saya sama sekali BELUM mengenal Pak Farid Poniman, dan kami belum pernah ketemu. Jadi saya belum tahu beliau orangnya seperti apa.

Namun ada ucapan pada salah satu video yang membuat saya sangat yakin mengenai Mesin Kecerdasan beliau. Ucapan tersebut adalah, “Orang Feeling Introvert bisa jadi King, sedangkan orang Feeling Extrovert adalah King Maker.”

Dari ucapan ini, saya pun menarik kesimpulan:

“Pak Farid termasuk tokoh yang hampir tidak dikenal oleh masyarakat. Padahal dia termasuk tokoh penting, penemu konsep STIFIn yang sangat keren dan luar biasa (bahkan belakangan saya tahu, akun Facebook dan Twitter pun dia tak punya). Pak Farid seperti invisible man, bekerja di balik layar, namun banyak tokoh hebat di kalangan STIFIn yang lahir dari hasil didikan beliau. Pak Farid adalah seorang King Maker. Berarti dia Feeling Extrovert.”

Dugaan ini makin kuat setelah saya menyimak penuturan beliau pada video penjelasan Feeling Extrovert. Cara berkomunikasinya sangat baik, enak didengar dan mudah dipahami. Biasanya, orang Feeling memang memiliki communication skill yang sangat bagus (bukan karena hasil latihan, tapi terjadi secara alamiah saja).

Untuk meyakinkan diri, saya bertanya pada seorang teman yang sudah lama aktif di STIFIn. Ternyata si teman ini menjawab, “Benar. Pak Farid memang Feeling Extrovert.”

Saya bersyukur, merasa puas, karena tebakan saya sangat tepat!

Kebetulan, saya sudah mengenal sejumlah orang yang Mesin Kecerdasan Feeling. Mereka semuanya memiliki keramahan alamiah (tidak dibuat-buat), pintar menyenangkan orang. Jika bicara dengan mereka, kita akan merasa dianggap sebagai orang penting dan sangat terhormat. Orang Feeling umumnya pintar menyanjung lawan bicaranya.

Karena sudah tahu karakter orang Feeling, maka saya jadi yakin sekali Pak Farid pun orangnya seperti itu. Jika suatu saat kami ketemu, saya yakin dia akan menyapa saya dengan sangat ramah, berbicara dengan gaya yang membuat saya senang dan merasa tersanjung.

Keyakinan seperti itulah yang membuat saya sangat percaya diri saat kami bertemu untuk pertama kalinya di Jakarta, tanggal 19 April 2015.

Sesuai dugaan saya, memang benar beliau sangat ramah dan bersikap penuh hormat pada lawan bicaranya. Saat saya meminta masukan terhadap beberapa masalah yang saya hadapi, beliau memberikan penjelasan dengan gaya yang sangat menyenangkan.

Saya pun membayangkan:
Andai mengenal dan bertemu Pak Farid Poniman pada saat saya belum kenal STIFIn, hampir dapat dipastikan saya akan sangat minder, tak berani mengajak bicara, dan bersikap kaku plus mati gaya di depan dirinya.

Alhamdulillah…
STIFIn merupakan sebuah konsep atau ilmu yang bukan hanya membuat kita mengenal diri sendiri dengan sejelas-jelasnya, namun juga sangat mempermudah kita dalam mengenali dan memahami orang lain.

———————————

Sumber Asli dari Fans Page Jonru


1. Di Indonesia ibadah di “lebay-lebay” kan. Orang meninggal di wirit (we read) Yasin kan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari. Yaah..namanya juga Feeling, suka mengiris-iris kesedihan, mengingat-ingat kesedihan. Kuburan pake dikeramik, dikasih nama, tanah ditinggikan, diziarahi, padahal gak disuruh demikian, sekali lagi “lebaay”. Celana gantung, bawa siwak, jenggot lebat, ini termasuk “lebaaay” apa Sunnah ya ? Au ah gelap.

2. India juga Feeling bangeet, makanya Film India laris manis di Indonesia. Telenovela, kalau di kita sinetron, laris manis. Liat aja semua sinetron, “lebaaay”. Banyak wajah India bertebaran di TV nasional kita. Kalau anda sesekali nonton TV, bisa salah duga, kirain pake TV Berlangganan, (kok ada TV India), rupanya TV nasional.

3. China itu Sensing, makanya rada Pelit, pedagang profesinya, jual dengan volume banyak untung sedikit. Orang Feeling agak boros, ketemu yang murah, langsung di serbu. Lakulah dagangannya Sensing. Ketika Sensing kaya, Feeling sakit hati. Jadi mudah disulut api cemburu saat kerusuhan mei.

4. Feeling mendukung Sensing. Betahlah Sensing di Indonesia, karena si Feeling jadi pendukungnya. Lama kelamaan Feeling berubah menjadi Sensing, segala hal dipandang Materi, sense of sosialnya, rasa sayang kemanusiaannya menjadi terkikis. Buktinya, Gak ada uang abang ditendang. Ada uang abang di sayang. Udah seperti orang Sensing, empati dan simpati sudah dinilai dengan materi.

5. Unsur Alamnya Feeling adalah Api, gak heran di Indonesia banyak yang berteman dengan Jin dalam kedok pengobatan alternatif yang menggunakan Jin (diciptakan dari Api). Gunung berapi, di Indonesia paling banyak jumlahnya. Sehingga jumlah Jin yang betah tinggal di Indonesia juga banyak.

6. Provokator dan Motivator sama banyaknya (mungkin). Tukang “kompor” dan tukang semangat banyak disini. Sehingga kadang mudah di sulut kadang mudah empati. Gembong narkoba di beri “Garasi Mobil”. Sekarang ragu mau hukum mati “kawannya” yang dari Australia, (takut) nanti dibilang gak punya rasa kemanusiaan (HAM). Orientasi ke orang bangeet kan, inilah Feeling. Kalau mahasiswa Demo, itu yang ngomporin/provokatornya pasti Feeling.

7. Feeling kalau belanja (APBD/APBN) suka gak jelas itungannya, akhirnya banyak proyek yang gak jelas manfaatnya, gak jelas kapan selesainya. Secara personal, gelap mata kala belanja di mall/supermarket, sampe rumah, gak ke pake apa yang dibeli.

8. Semua produk yang ada unsur lebaaay nya di Iklan, akan laris manis di Indonesia, karena pangsa pasarnya Feeling. Orang Korea pake Sandal Jepit Swallow aja, remaja feeling heboh, lebaay minta ampun. Cape deeeh.

10. Yang “ngomporin” pemimpin se ASIA, untuk jadi ASEAN itu gagasannya Feeling, Soekarno Hatta. Kehebatan Feeling sebagai pemimpin, dalam merangkul dan meyakinkan pemimpin se ASIA.

Just Opini tentang Feeling. Jangan masukin Ke Hati. Kecuali kamu Feeling.

Sumber Gbr Ilustrasi - http://www.feelingfacescards.com/

Ketentuan penyelenggaraan Training STIFIn :

1. Hanya Trainer STIFIn yang boleh menjadi pemateri event berbayar untuk publik (selain WSL1 yang boleh diisi oleh lulusan WSLP),

2. Event berbayar tersebut cukup dalam bentuk seminar, sehingga tidak perlu workbook dan ujian.

3. Peserta seminar tidak harus mengikuti WSL1 dan atau WSLP, berlaku bebas untuk umum,

4. Pada seminar tersebut, tidak boleh membagikan workbook atau dikonversi dalam bentuk lain seperti makalah dan sejenisnya, yang diizinkan dibagikan adalah hard copy dari materi powerpoint saja,

5. Event dalam bentuk Workshop yang mewajibkan ada workbook dan ujian, hanya boleh dilakukan Kantor Pusat dan Cabang, dan pesertanya wajib lulus ujian WSLP STIFIn,

6. Bagi yang sudah lulus tematik diperbolehkan memberikan seminar, namun belum diperbolehkan berbayar, menunggu sampai yang bersangkutan sah menjadi Trainer STIFIn.


Keterangan :

* Sesi Private : Training private bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho untuk Calon Trainer STIFIn

* STIFIn Prep : Promotor Enrichment Program adalah Program pembekalan untuk Promotor

Jadwal bisa saja berubah. Untuk Informasi Perubahan Jadwal,

Silahkan Hubungi 0812-8310-1051


Memilih Jurusan Sekolah

Saat masuk Sekolah Dasar kita tidak perlu memilih. Orang tua yang memilih akan dimasukkan ke SD dimana. Demikian juga saat masuk SLTP, orang tua jualah yang memilihkan untuk kita. Menanjak dari SLTP ke SLTA, untuk saat ini, orang tua harus memikirkan pilihan dan kemauan anaknya. Orang tua yang bijak akan mendengarkan keinginan anaknya.

Kenyaataannya, anak juga masih bingung terhadap pilihannya. Sebab dilingkungannya banyak orang yang beranggapan bahwa anak IPA adalah murid yang paling top di SLTA, murid terpilih, paling pinter, paling cerdas, dalam kaitan relatif paling tinggi IQ-nya . Tak sedikit juga yang menganggap bahwa anak IPS lah yang merupakan murid buangan,bodoh,bebal pola pikirnya, tak punya masa depan, cuma pelengkap, pelajar santai, urakan . Semakin lama, opini sesat ini semakin menjadi suatu keyakinan.

Apalagi banyak orang tua menginginkan anaknya Memilih Jurusan IPA, hanya karena Jurusan IPA lebih bergengsi dibanding IPS. Saya pernah alami kasus orang tua melakukan Tes STIFIn untuk anaknya. Ketika hasil Tes STIFIn diketahui, saya katakan : “anak Ibu sebaiknya jurusan IPS”. Anaknya langsung nyeletuk : “tuh benarkan ma, adek tuh pengennya IPS, mama siih, maksain adek masuk Jurusan IPA”.

Tapi sekarang hal seperti ini tidak perlu dikhawatirkan dengan adanya Tes STIFIn, orang tua bisa langsung menetapkan pilihan jurusan untuk si anak, ketika si anak memiliki kecenderungan pada jurusan tertentu.

Memilih Jurusan membuat galau para siswa SLTP saat akan menanjak SLTA.
Tabel ini memberikan anda panduan bagaimana Memilih Jurusan berdasarkan Mesin Kecerdasan STIFIn.

 PC Mesin Pilihan Utama Pilihan Pilihan
Kecerdasan Rekomendasi STIFIn Kedua Ketiga
1 Si Bahasa IPS IPA
2 Se Bahasa IPS IPA
3 Ti IPA IPS Bahasa
4 Te IPA IPS Bahasa
5 Ii IPA Bahasa IPS
6 Ie IPA Bahasa IPS
7 Fi IPS Bahasa IPA
8 Fe IPS Bahasa IPA
9 In IPS/Bahasa IPA

Tips Berpuasa Ramadhan Ala STIFIn

Tulisan ini saya kutip dari TrainerLaris.com, yang judulnya Tips jalani bulan puasa ala STIFIn yang di posting oleh Bapak Dodirustandi seorang Trainer STIFIn dengan julukan STIFInMan, judulnya saya ubah menjadi Tips Berpuasa Ramadhan Sesuai Mesin Kecerdasan STIFIn tanpa merubah isinya.

Marhaban yaa Ramadhan, alhamdulillah kita bertemu lagi dengan bulan yang suci, bulan yang penuh dengan ampunan dari Allah SWT. Semoga kita semua bisa menjalani ibadah-ibadah di bulan ini dengan penuh kekhusyuan dan tentunya tetap guee bangeet.

Nah, agar kita bisa maksimal menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, ada tips jalani bulan ramadhan menurut gaya setiap Mesin Kecerdasan STIFIn berikut ini :

1. Tips Berpuasa Ramadhan bagi Sensing.

Ingatlah bahwa kalian sehari-hari selalu aktif bergerak dan senantiasa basah keringetan, untuk itulah bagi orang Sensing saat sahur dan berbuka puasa, dahulukan minum air putih biasa yang banyak atau minum air yang punya kandungan daya serap ke tubuh dengan lebih cepat. Lalu sebagai orang #Sensing yang sudut pandangnya jangka pendek, agar puasanya terasa lebih cepat maka fokuslah kepada waktu sholat terdekat, misalnya ; setelah sholat shubuh fokuslah dengan kegiatan sampai dzuhur, lalu setelah zuhur ke ashar dan seterusnya. Isilah hari-hari di bulan ramadhan dengan banyak-banyak melaksanakan sholat sunnah, karena dengan sholat akan terakomodir kebutuhan bergerak bagi orang #Sensing.

2. Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Thinking

Jalani bulan ini memang akan lebih banyak tantangannya. Kenapa begitu ? Karena bagi orang Thinking  ini setiap hal yang lewat di hadapannya akan selalu dipikirkan. Dan kecenderungannya yang dipikirkan adalah hal yang kurang atau negatif dari yang dilihat. Jadi bagi tipe #Thinking saat bulan ramadhan ini dan seterusnya sebaiknya sering-sering mengucapkan istighfar jika terlintas pikiran yang berkecendrungan menganalisa hal yang negatif dari orang lain. Perbanyaklah waktu untuk ikut kajian-kajian tafsir Al-Quran atau tausiah tausiah dari para ulama, agar terpenuhinya logika sebab dan akibat sebagaimana yang direspon oleh Mesin Kecerdasannya. Berfikirlah sesuai dengan porsinya, jangan terlalu berlebihan, karena berfikir yang berlebih akan membakar energi lebih banyak, dan dampaknya membuat tubuh menjadi lemas.

3. Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Intuiting

Orang Intuiting saat puasa adalah saat dimana ide dan gagasan muncul beterbangan di langit lebih banyak. Jadi untuk mengisi ramadhan ini penuh manfaat, ambilah satu atau dua gagasan untuk dikembangkan selama 1 bulan ramadhan. Saat sahur dan berbuka usahakan minum minuman yang manis, karena manisnya akan mampu menambah energi untuk seharian. Bisa juga saat setelah sholat tarawih sampai menjelang tidur, ngemil gula jawa sebagai tambahan energi buat besok.

4. Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Feeling

Jalani puasa akan juga ada tantangan yang datang. Terutama dari dalam dirinya sendiri, karena orang Feeling itu moody nya kenceng banget. Nah, agar moodnya tidak terganggu dalam pelaksanaan puasa sehari-hari, maka orang #Feeling mesti tebar pesona ke orang yang dia suka, bisa istri atau suami, atau siapapun orangnya. Maksudnya tebar pesona disini adalah menyampaikan komitmen untuk jalani puasa dan ibadah lainnya dengan khusyu. Jika komitmen sudah disampaikan Maka orang #Feeling akan JAIM alias jaga image. Nah.., jaim inilah yang akan menjadi stabilisator mood bagi tipe #Feeling. Oia, jangan lupa upayakan selalu bersama-sama dengan pasangan, keluarga, sahabat, tetangga dll untuk sholat wajib maupun sholat sunnah. Lalu sering-seringlah buka puasa bersama dengan teman-teman agar stabilisator moodnya makin kuat.

5. Tips Berpuasa Ramadhan Bagi Insting.

Bagi orang Insting, menjalani puasa dibulan ramadhan bisa seperti orang yang sedang melakukan pertapaan atau semedi, namun jangan mengkungkung diri di kamar atau dirumah. Tapi sering-seringlah i’tikaf di masjid, lalu banyak-banyaklah berzikir menyebut nama Allah. Dengan begitu, maka kedamaian akan dirasakan dan ibadah di bulan ramadhan pun akan sangat berkualitas dijalani.

Itulah Tips Berpuasa Ramadhan ala STIFIn, mohon maaf jika ada salah salah kata, ini hanya analisa berdasarkan pendekatan konsep manusia yang tidak sempurna. Selamat menjalani ibadah puasa tahun ini, semoga manfaat sebesar besarnya bisa diraih oleh kita semua, dan ingat jalani semua dengan guee.. bangeett !!

Salam SuksesMulia
Yuk, Ngobrol dengan saya
@dodirustandi -STIFInMAN-


Tes STIFIn Menemukan Potensi

Orang tua A, punya keinginan agar anak mudah bersosialisasi, berteman dan berinteraksi dengan anak-anak komplek yang sebaya, karena melihat anak tetangga depan yang supel, sementara anak sendiri senangnya di rumah, main dan belajar asik sendiri tanpa peduli orang lain, seperti tidak butuh teman. Setelah di Tes STIFIn di ketahui Mesin Kecerdasannya Thinking. Setelah saya jelaskan seperti apa Mesin Kecerdasan Thinking, orang tua menjadi paham dengan anaknya dan menjadi lebih beryukur.

Dilain kasus saya temui. Orang tua B, yang anaknya ber Mesin Kecerdasan Feeling, ingin agar si anak di rumah saja, belajar yang rajin di kamar, jangan terlalu banyak main di luar bersama teman sebayanya di komplek. Orang tua ini menghabiskan waktu anaknya dengan memanggil guru private kerumah. Dan sering kesal, saat guru private  datang, si anak malah keluar rumah ngumpul dengan teman-temannya.

Seandainya orang tua A, mengasuh anak orang tua B, apakah masalah bisa selesai ??. Belum tentu, selama orang tua masih sibuk mencari apa yang tidak ada pada anaknya, maka selama itu jualah masalah anak dengan orang tua takkan berhenti. Orang tua acapkali membandingkan anaknya dengan anak lainnya. Rumput tetangga tampak lebih hijau, daripada rumput di halaman sendiri.

Jika anak Ibu dan Ayah tidak memiliki potensi yang dimiliki anak tetangga. Percayalah anak Ibu dan Ayah  memiliki potensi yang tidak dimiliki anak tetangga. Seperti pada contoh diatas. Anak orang tua A, merasa anaknya tidak pandai bergaul ketika melihat anak tetangga yang supel. Orang tua B merasa anaknya senang bermain dengan temannya, tidak seperti anak tetangga yang senang belajar dirumah.

Walau namanya sudah orang tua. Kita ternyata luput dari yang namanya Fokus Pada Kelebihan, bukan pada Kekurangan. Ibu saya sering menasehati saya ketika makan di meja, saya katakan, “gak ada kerupuk ya mak”, dengan enteng Ibu mengatakan, “jan mancari nan indak ado, syukuri nan ado” (bahasa minang), artinya : jangan mencari yang tidak ada, syukuri apa yang ada.

Inilah yang terjadi jika kita tidak mengenal “bibit” anak yang sebenarnya. Orang tua yang memiliki anak berbibit “pepaya”, menjadikan anak ber buah jeruk, karena jeruk sedang laris manis. Anak yang berbakat melukis, di jadikan artis hanya karena profesi artis lebih menjanjikan.

Tes STIFIn bisa membantu Ibu dan Ayah untuk Menemukan Potensi Yang Tidak Ada Pada Anak Tetangga, tapi potensi itu ada pada anak Ibu dan Ayah. Dan Mengetahui Kekurangan yang ada pada anak. Sehingga Ibu dan Ayah tidak menjadi resah gelisah kala melihat anak orang lain berprestasi pada bidang tertentu, contoh Matematika, tetapi anak Ibu dan Ayah lemah Matematika.

Jika Ibu dan Ayah sudah mengetahui Potensi anak. Maka Ibu dan Ayah bisa melakukan pelatihan dan penggemblengan pada Kelebihan si anak hingga 10.000 jam, dan mengabaikan kekurangannya. Karena saat anak fokus menggembleng Kelebihannya, ia menjadi Expert, maka kelemahannya akan berjalan sesuai dengan kebutuhan.

Hanya karena ikan tidak pandai memanjat pohon, kita mengatakan ikan Bodoh Selama hidupnya.( Albert Einstein)