LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan

LGBT BUKAN GANGGUAN KEJIWAAN Tapi mengapa sebagian orang mengatakan LGBT (Lesby Gay Bisexual Transgender) merupakan gangguan kejiwaan Sebagian

LGBT BUKAN GANGGUAN KEJIWAAN

Tapi mengapa sebagian orang mengatakan LGBT (Lesby Gay Bisexual Transgender) merupakan gangguan kejiwaan

Sebagian lagi mengatakan LGBT adalah normal. Yap..bener. Jika anda berpedoman pada “kitab” DSM, LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan.

APA ITU DSM ?

Kalau BSM saya tau.. Belum Siap Mandi, hehe..kalau gitu DSM, Dah Siap Mandi..Haha.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) adalah “kitab” yang berisi klasifikasi standar gangguan mental pada manusia yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

DSM telah digunakan oleh profesional kesehatan mental di Amerika Serikat, dan selama ini telah dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

DSM digunakan di Amerika Serikat dan dalam derajat yang bervariasi telah digunakan di seluruh dunia, oleh dokter, peneliti, lembaga regulasi obat, psikiatri, perusahaan asuransi, kesehatan, perusahaan farmasi, dan pembuat kebijakan (pemerintah).

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ).

Mari sedikit kita cermati dari sejarah perjalanan DSM itu sendiri. Dimana jumlah ketegori gangguan jiwa pada DSM berubah terus. Waktu pertama kali dipublikasikan oleh ApA tahun 1952 (versi I), hanya ada 106 jenis gangguan jiwa, pada edisi 1968 (DSM II) bertambah menjadi 185, tahun 1974 (DSM III) bertambah lagi: 265, tahun 1994 DSM IV: 365. Sebelum jadi DSM V yang sekarang, DSM IV pernah direvisi menjadi DSM IV/TR pada tahun 2000), yang jumlahnya bertambah terus.

Apa dasar untuk menambah dan juga mengurangi, tidak ada alasan yang jelas. Spekulasi yang berkembang adalah adanya unsur politk dalam penentuan penyakit-penyakit jiwa, misalnya ketika GAY dihapus dari DSM III 1974, banyak pengurus ApA yang gay.

Hal inilah yang membuat DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

Tahukah anda, Lima dari tujuh orang tim APA task force DSM adalah homoseksual dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT

APA task force member terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual).

Karena itu, dengan informasi ini, kita berharap para psikolog dan psikiatri Indonesia tidak berkiblat pada DSM, terutama para psikolog dan psikiatri Islam yang landasannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak ada perubahan hingga akhir zaman. Dan juga bukan Buatan Akal Manusia.

Dikutip dari berbagai sumber..

Masihkah anda berkiblat pada DSM ?

Pin It

One thought on “LGBT Bukan Gangguan Kejiwaan

Leave a Comment