STIFIn Tidak Hanya Tes Sidik Jari

Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu? Bagiku STIFIn adalah : STIFIn Sebagai Pembuka Jalan Spiritual Jalan untuk mengenali

Jika aku ditanya, bagaimana STIFIn bagimu?
Bagiku STIFIn adalah :
STIFIn Sebagai Pembuka Jalan Spiritual

Jalan untuk mengenali diri sendiri. Jalan untuk mengenal Tuhan adalah dengan mengenali diri sendiri. Para ulama sering berkata: من عرف نفسه فقد عرف ربه. Walaupun dari sisi ilmu tasawuf, mengenal diri sendiri bisa menyentuh sisi lain lebih dari yang dijabarkan STIFIn. Namun STIFIn telah menjadi pondasi untuk langkah selanjutnya.

STIFIn Memudahkan Kita Mengenali Orang Lain

Sebagai jalan untuk mengenali orang lain. Tanpa perlu menertawakan yang berbeda dengan kita, tanpa perlu menghakimi pilihan peran yang berbeda dengan plihan kita. Alih alih melakukan hal demikian lebih baik saling menerima.

STIFIn Mempolakan Kebaikan Setiap Mesin Kecerdasan

Tentang kebaikan, orang akan berbeda-beda. Kebaikan bagi Sensing adalah adalah harta yang banyak, bagi Thingking adalah Tahta, bagi Intuiting adalah Ilmu, bagi Feeling adalah Cinta, dan bagi Insting adalah Kebahagiaan. Begitulah adanya, jika Intuiting menganggap yang terpenting adalah Konsep, maka Thingking menganggap yang terpenting adalah SOP, maka Sensing menganggap yang penting Kerja. Feeling meneropong Visi, akhirnya Insting selalu Menjaga Keseimbangan.

STIFIn Menciptakan Kenyamanan

Pekerjaan itu tidak harus dengan uang sebagai target ujungnya, lebih dari itu, kenyamanan mengalahkan semuanya. Kenyamanan masing-masing Mesin Kecerdasan tidak akan pernah sama dengan Mesin Kecerdasan lainnya dalam bekerja. Oleh karena itu memaksakan dengan mengukur diri sendiri adalah kefatalan. Setiap orang punya ukuran tersendiri sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.

STIFIn Mencegah Ke Angkuhan Diri

Dimana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Bahkan kelebihan itu suatu waktu bahkan akan menjadi kelemahan di waktu yang lain. Saya bertemu dengan guru sufi baru-baru ini, dari Tareqat tertentu. Di pertemuan itu saya menceritakan soal STIFIn, dia tersenyum lalu berujar, “jadi kalau begitu, apa yang memaksamu untuk terus angkuh dengan apa yang engkau miliki. Engkau ingin pamer harta kepada Insting padahal baginya adalah kebahagiaan yang utama? Engkau ingin pamer tahta kepada Intuiting, padahal dunia baginya dalam pandanganmu terlalu sempit. Ia punya dunia lain yang ia ciptakan sendiri yang luasnya tak terjangkau olehmu, di sana ia bahkan menjadi raja. Bagaimana mungkin Intuiting harus berbangga dengan ilmunya kepada Sensing? Begitu seterusnya….”

STIFIn Mengenali Jalan Syurga Anda

Jalan surga setiap orang memang berbeda beda, sesuai dengan makanatnya, lanjut guru Sufi tersebut. Maka jangan pernah berburuk sangka jika menyaksikan orang yang terburu buru menyelesaikan shalatnya, setelah salam ia langsung bergegas keluar dari masjid. Boleh jadi ia lagi mengurusi keluarganya yang sakit, atau anaknya yang menanti kehadirannya di sisinya. Sebab jalan surga tidak harus melewati dzikir dan doa, tapi menafkahi keluarga juga adalah jalan surga. Yang ahli dzikir jangan lagi berbangga dengan dzikirnya, yang ahli sedekah jangan lagi berbangga dengan sedekahnya, yang ustadz ahli ilmu gak lagi bangga dengan ilmunya.

Para sahabat Rasulullahpun tidak masuk surga dengan jalan yang sama. Bukankah Bilal terdengar terompahnya di surga karena wudhunya, bukankah Uwais al Qarni dijamin oleh Rasulullah di surga sebab berbakti pada ibunya, padahal di saat yang sama kumandang jihad sedang berjalan.

STIFIn Mengelola Perbedaan

Akhirnya, STIFIn adalah seni mengelolah perbedaan. Banyak lagi perbincangan kami… tak bisa disebutkan semuanya di sini. Terima kasih untuk gurunda kami Farid Poniman atas ilmu STIFIn ini. Semoga akan banyak manusia yang tercerahkan.

 Oleh : Bapak Wahyudin.

Pin It

Leave a Comment